bc

Violet Love Story

book_age16+
3
IKUTI
1K
BACA
goodgirl
drama
comedy
twisted
sweet
genius
city
school
shy
like
intro-logo
Uraian

Violet seorang gadis SMA yang tengah merasakan indahnya jatuh cinta. Hati yang jatuh pada teman sekelas, membuatnya merasa malu. Karena jarang sekali dalam satu kelas bisa saling jatuh cinta, kalau pun ada akan dipendam saja agar tak jadi bahan ledekan teman-teman.

Karena sedang kasmaran pada Demian, Violet tak menyadari ada Rain, sosok lain di kelas yang juga jatuh hati padanya. Demian dan Rain pun akhirnya membuat Violet harus terjebak di antara dua pilihan.

Rain dan Demian ibarat pangeran sekolah, dan Violet selalu merasa dirinya hanya lah Upik Abu yang tak akan mungkin jadi Cinderella. Namun, ketulusan cinta akhirnya membuat Violet mendapatkan jalan terang untuk meraih cinta sejatinya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Pertama Kali Kulihat Dia
Hari ini, untuk pertama kalinya dalam hidup. Aku merasakan debaran tak biasa kala melihat seseorang. Bisa dibilang, aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Sialnya, seseorang itu ibarat pangeran yang sempurna, dan aku hanya Upik Abu yang bermimpi jadi Cinderella. "Woy, segitunya ngeliatin cowok," Aura menyentil lenganku. Membuyarkan konsentrasiku melihat ke arah Demian yang sedang tanding basket. "Apaan, sih, lu. Ganggu aja," judesku. "Demian emang ganteng, sih. Gue pikir dia gantengnya pas di zoom aja. Ternyata emang ganteng," sahut Aura, sambil tak henti mengemut permen loly kesukaannya. Karena pandemi yang melanda negeri, kami baru punya kesempatan untuk bersekolah tatap muka mulai hari ini. Setengah semester di lalui hanya dengan belajar daring, hingga di antara kami banyak yang bahkan baru kenal. Aku juga baru pertama kali ini melihat langsung Si Demian, teman sekelas yang ternyata sangat menawan. Aku menyesal selama ini malas-malasan mengikuti kelas daring, hingga tak sering bisa melihat kehadirannya selama ini. "Kapan nih, kita ke kelas?" tanyaku pada Aura, mengalihkan pembicaraan. "Lah, kan gurunya lagi sakit. Jadi hari ini ceritanya kita temu kangen aja ama sekolah dan temen-temen," jawab Aura. "Besok sekolah lagi?" "Iya, kan udah normal. Cuma, guru banyak yang masih di luar kota. Mayan lah, hari ini bisa liatin cowok-cowok maen basket." "Hemm, gitu." Harusnya aku tidak jatuh cinta pada teman sekelas, akan sangat sulit merahasiakan debar bila terlalu dekat. Untungnya Demian duduk di kursi paling belakang, aku jadi tidak perlu takut terganggu saat belajar. Iya, senyum-senyum sendiri melihat ke arahnya itu tentu akan sangat mengganggu. Kalau ketahuan teman-teman yang lain, aku pasti akan dibully. Meninggalkan Aura, aku berjalan sendirian ke kelas. Kelas sepuluh yang akan kami tempati hanya untuk setengah semester lagi. Hanya ada dua puluh kursi, sembilan laki-laki dan sebelas perempuan. Si Kutu Buku Aura duduk di barisan paling depan. Dia harus selalu mendapatkan perhatian guru. Sedangkan aku Si Nilai Pas-pasan, harus duduk di bangku barisan ketiga, agar tak sering ketahuan guru kalau sedang mengantuk. Entah kenapa Demian memilih duduk di barisan belakang, sebaris dengan cowok-cowok tengil. Kata Aura, dia cukup pintar. Mungkin dia type setia kawan, tak bisa jauh dari teman-teman tengilnya. Atau mungkin, hanya untuk terlihat keren. Ya, keren. Rata-rata cowok keren duduk pada barisan belakang di dalam kelas. Yang duduk di barisan depan akan dianggap kuper dan sok pintar. Mungkin Demian tidak ingin dianggap begitu. Makanya dia keren. Ah! Namanya mulai mengisi ruang-ruang kosong di otakku. "Violet? kan?" Suara cowok tiba-tiba terdengar dari belakangku, membuat jantungku berdegup kencang seperti akan meledak. Aku berbalik dan menatap langsung pada cowok itu, kalau tidak salah namanya Rain. Salah satu penghuni barisan paling depan di kelas. Senyumnya manis, memberi kesan ramah di pertemuan pertama kami. "Kamu Violet, kan?" tanyanya lagi. "Iya, aku Violet. Ke-kenapa?" "Eum, berarti aku gak salah nama. Salam kenal, ya. Aku Rain. Ketua kelas." "Oh, iya. Udah tau, kok." "Kamu ngapain sendirian di kelas? Yang lain lagi pada rame di lapangan." "Iya, aku juga baru dari sana. Lagi pengen di sini aja." "Eum, gitu. Tapi kenapa kamu ngeliatin bangkunya Demian terus?" Tuh, kan. Langsung ketahuan kalau aku sejak tadi melihat tempat duduk Demian. Tapi aku yakin Rain bukan type pengghibah, walau dia sepertinya sedikit bawel. "Emm, enggak, kok. Tadi ada cicak lagi pacaran di mejanya Demian," jawabku. "Hah? Kamu ngeliatin cicak pacaran? Gabut banget." "Haha." Aku tertawa hambar. Rain kemudian melangkah dan duduk di tempatnya, terlihat mengeluarkan laptop dari dalam tas. Aku yang duduk di barisan belakangnya, tentu bisa melihat langsung apa yang sedang dia lihat. Rain memindahkan file dari ponsel ke laptopnya. Lalu, tiba-tiba. Aku melihat ada fotoku. Astaga! Tadi Rain ternyata mengambil fotoku yang sedang melihat ke tempat duduk Demian. "Heh, Rain!" Aku langsung menyambar ke tempat duduknya. "Kenapa ada fotoku? Hapus!" kataku lagi dengan membulatkan mata padanya. Rain lalu tersenyum sok manis, menghentikan aktivitasnya dan menutup laptop. "Fotonya bagus, udah aku simpan buat album kenang-kenangan kelas kita. Gak papa kan?" sahutnya. "Gak bisa, please hapus aja!" "Kenapa?" "Ya, pokoknya hapus, lah!" Rain tersenyum menyerah lalu membuka lagi laptopnya, menghapus file sesuai permintaanku. "Udah," ujarnya. "Jangan pernah lagi kamu ambil fotoku diam-diam, aku gak suka," titahku padanya dengan wajah yang kubuat judes. "Eum, oke. Maaf, ya." "Yaudah." Aku kembali ke tempat dudukku, lalu mengambil tas. Sebentar lagi mungkin sudah bel pulang, aku sudah merasa bosan meski tidak ada pelajaran. Saat akan keluar dari kelas, tiba-tiba tubuhku terjatuh begitu saja. "Eh, sorry!" Ternyata Demian yang menabrakku. Rasanya sedikit sakit, tapi tiba-tiba ada yang berdebar kencang di dalam sini. Pegangan tangan Demian yang membantuku berdiri, rasanya membuatku ingin pura-pura pingsan sekalian. "Lu gak papa, kan?" tanya Demian. Wajah kami begitu dekat, hingga bisa tercium aroma keringatnya yang wangi karena mungkin tercampur dengan body cologne nya. "Kayaknya dia harus dibawa ke rumah sakit ... jiwa," sahut Rain tiba-tiba. Sialan! "A-aku gak papa, kok," lirihku. Melepaskan pelan pegangan tangan Demian. "Sorry, ya. Gue buru-buru tadi," ujar Demian lagi. Aku hanya mengangguk lalu meraih tas yang diberikan Rain, Demian juga mengambil tas dari tempat duduknya. Bel panjang berbunyi, langkah-langkah kaki mulai terdengar akan menyerbu kelas kami. Aku dan Rain berjalan keluar kelas bersamaan, entah kenapa kami malah jadi jalan barengan. Inginku bisa barengan dengan Demian, eh, malah sama Rain yang tadi masih kuingat mengataiku sakit jiwa. “Rumah kamu di mana?” tanya Rain. “Kenapa?” kutanya balik. “Kalau mau, nanti kuantar. Aku bawa mobil sendiri.” Wah, keren juga dia bisa bawa mobil padahal masih SMA. Memang bukan Cuma dia sih, sedangkan Demian, dia terlihat sudah pulang duluan dengan mengendarai motor sport berwarna merah. “Aku bisa naik ojek, kok,” jawabku. “Enakan juga naik mobil, tapi yaudah kalau gak mau.” Rain akhirnya pergi berjalan lebih dulu, meninggalkanku. Sejujurnya Rain juga tak kalah keren dari Demian. Namun, hati yang telah jatuh tidak akan semudah itu berpindah. Cukup lama aku berdiri di depan gerbang sekolah, menunggu ojek langganan datang menjemput. Sementara menunggu, mataku sedikit demi sedikit memperhatikan teman-teman lain yang juga akan pulang. Banyak yang sudah membawa kendaraan sendiri, ada juga yang masih dijemput mobil dengan supir. Aura, misalnya. Supirnya menghentikan mobil tepat di depanku, mengajakku untuk pulang bersama. Aku terpaksa menolak karena sudah terlanjur memesan ojek. “Mulai besok gak usah naik ojek, kita barengan aja tiap hari,” kata Aura dari dalam mobil. “Gak, lah. Kan ini mobil lu, Aura. Tapi makasih ya.” “Anggep aja mobil lu juga. Yaudah, gue balik duluan. Bye.” “Huum, Fii amanillah.” “Apaan lu bilang?” “Itu doa selamat jalan, Aura.” “Gaya, lu. Kayak ukhty ukhty aja.” “Nyontek di pesbuk gue mah.” Aura pun berlalu pergi bersama mobilnya, dia adalah putri pengusaha rumah makan di Jakarta. Meski selama ini kami dekatnya karena sosmed, rasanya sudah seperti sahabat yang kenal lama dan bertemu setiap hari.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.1K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook