Bab. 2. Sahabat dan Cinta

1059 Kata
Kuberikan selembar uang dua puluh ribu untuk Bang Emir, tukang ojek yang mengantarku pulang. Rumah kami bertetangga, sejak SMP dia lah yang selalu mengantarku. Usianya lima tahun lebih tua, sikapnya yang awut-awutan dan suka becanda membuat kami seperti teman sebaya juga. “Udah dibilangin sepuluh ribu aja, nih, kembaliannya sepuluh ribu,” kata Bang Emir. Menjulurkan uang kembalian. “Jangan, biarin segitu. Kan gue udah SMA, Bang. Lagian udah lama juga gak ngojek ama lu,” sahutku. “Kan sekolahnya kagak jauh, tapi yaudah lah kalau lu maksa.” “Iye, biar lu bisa beli kuota internet buat chatingan ama cewek lu, Bang.” “Tau aja lu.” Dengan langkah malas aku masuk ke rumah, terlihat Ibu sedang duduk santai di sofa depan TV. Dia terlalu asyik menyimak drama India sampai tidak mendengar ucapan salamku. “Violet, udah pulang? Ucap salam dong.” “Lah, udah. Ibu aja yang gak dengar.” “Masa?” “Iya.” “Yaudah, waalaikumsalam.” Aku merebahkan diri di atas tempat tidur setelah menutup pintu kamar. Rasanya lelah juga di sekolah, walau yang kami lakukan hanya menonton tanding basket dan mengobrol. Wajah Demian dan adegan dia menabrakku tadi, kembali menari dalam pikiranku. Kubuka ponsel dan melihat-lihat kontak grup sekolah, ternyata tidak sulit untuk menemukan kontak Demian. Aku langsung menyimpan nomernya, meski tidak tahu juga harus bagaimana setelah punya nomernya. “Violet, kamu gak makan?” Ibu tiba-tiba masuk ke kamar. “Gak laper, Bu.” “Perasaan tadi kamu juga gak sarapan apa-apa. Nanti sore masih jualan?” “Eum, masih, lah.” Aku bangkit dari tempat tidur, membiarkan ponsel di atas bantal. Kuganti seragam dan merapikan semua yang kubiarkan tergeletak sejak pagi. Aku hampir kesiangan hari ini, buru-buru berangkat ke sekolah sampai tidak sempat merapikan kamar. “Kan sekarang udah sekolah normal, jualannya jangan sampai larut malam,” lanjut Ibu. “Iya, Bu.” “Atau gak usah jualan aja?” “Ya, gak cukup, Bu. Violet akan tetap jualan. Seenggaknya bisa buat beli keperluan sekolah, bantuin Bapak.” Dibilang keluarga miskin, sebenarnya tidak juga. Bapakku bekerja menjadi satpam di sebuah perusahaan besar, gajinya lumayan sampai bisa membiayai sekolahku masuk SMA. Ibu juga berjualan online perabotan rumah. Setiap sore aku membuka warung di taman kota, warung angkringan kecil yang menjual gorengan dan minuman dingin. “Tahu sama telur puyuh udah ibu siapin, kamu tidur siang aja dulu.” “Makasih, ya, Bu.” “Iya.” Ingin sekali rasanya bisa tidur siang, akan tetapi mataku enggan terpejam. Dering tanda pesan masuk berhasil membuyarkan kantuk, sebuah pesan masuk. Dari Aura. [Lu udah nyampe rumah, Vio?] [Udah.] Balasku cepat. [Main, yok. Ke mall, udah lama nih, gak ngemol.] [Sibuk gue, gak bisa.] [Ngapain lu?] [Lahaciya.] [Dih. Gue ke rumah lu, ya.] [Ngapain coba?] [Gue udah di depan gang ke rumah lu.] Ya ampun, ternyata Aura tahu di mana tempat tinggalku. Bisa-bisanya dia dadakan mau datang. Selang beberapa menit, mobil Aura sudah terparkir di depan rumahku. Sontak membuat kaget Ibu karena tak menyangka akan ada tamu bermobil yang datang. “Masuk, Aura.” Setelah beramah tamah dengan Ibu, aku mengajak Aura mengobrol santai di kamar saja. Sedang Pak Sopir dan mobil Aura suruh pulang duluan. “Sibuk apaan, lu? Gegoleran di kamar aja bilang sibuk,” ketus Aura. “Entar jam tiga gue mau ke taman kota, jualan,” sahutku. “Serius? Lu jualan? Jual apaan?” “Gorengan.” “Wah, kok, lu gak pernah cerita sih.” “Ngapain juga gue cerita. Lu kan mainnya ke mall, mana pernah liat gue di taman kota.” “Iya, juga, sih. Hehehe.” Aura tak protes saat aku terpaksa mulai sibuk di dapur, menyiapkan apa saja yang akan aku bawa ke taman kota sejaman lagi. Cukup banyak barang yang harus diantar bolak balik. Namun, karena Aura ikut membantu, hari ini pekerjaanku jadi sedikit lebih cepat. Aura terlihat senang bisa mengerjakan hal-hal remeh yang semula belum pernah dia coba. Dengan mengendarai motor, kami pergi ke taman kota. Aura juga membantuku menggoreng gorengan hingga dia berteriak saat kecipratan minyak. “Helm, gue mending pakek helm kalau kayak gini jaadnya si minyak,” kata Aura. “Udah, biar gue aja. Lu mending istirahat. Capek kan lu.” “Segini doang, mana ada capek.” Setelah dagangan siap, kami pun duduk-duduk saja menunggu. Sesekali ada pembeli yang datang, akan semakin ramai saat malam mulai tiba. Sebelum adzan maghrib, aku kembali ke rumah. Membersihkan diri dan mengajak Aura ke mushola dekat taman kota untuk salat. “Dagangan lu gimana, Violet?” Aura tampak khawatir. Padahal memang setiap datang waktu salat aku akan meninggalkannya begitu saja. Itu nasihat bapak, aku tidak boleh menjadi lalai karena kesibukan dagang. Walau sebenarnya aku juga bukan seseorang yang taat beragama. “Biarin aja di situ, ada Allah aja yang jaga,” sahutku. “Serius lu? Entar kalau ada apa-apa gimana?” “Udah, gak usah bawel. Buruan, lu ikut gak?” “Iye.” Tidak ada yang perlu terlalu dikhawatirkan, ketika kita tahu ada Allah yang selalu menjaga kita. Tidak akan terjadi sesuatu yang buruk, kalau memang bukan kehendaknya. Motor sport berwarna biru, terparkir di depan angkringan setibanya kami kembali dari Mushola. Rain, entah sejak kapan dia ada di sana. “Rain?” gumamku. “Hay, gue udah nungguin dari tadi,” sahutnya. “Kok, lu bisa ada di sini?” tanyaku. “Oh, lu pasti liat story IG gue kan?” sambung Aura. “Iya, gue liat storynya Aura. Jadi mampir aja ke sini,” jelas Rain. “Abis ini, semoga makin banyak temen-temen yang tahu tempat jualan lu, Vio. Jadinya cepet abis dagangan lu,” sela Aura. Aura ternyata memposting aktivitas kami di angkringan ke media sosial miliknya, semua teman jadi tahu kalau aku berjualan di pinggir jalan. Tidak apa, toh, ini sesuatu yang halal dan tidak memalukan. “Gorengannya enak, gak tengik,” komentar Rain sembari terus tersenyum menatapku. “Aku gak makek banyak minyak, dan sekali jualan langsung ganti,” sahutku. “Bagus, itu. Jadi gak mikirin keuntungan semata,” lanjut Rain. “Asyik juga ternyata jualan begini,” utas Aura. Senang rasanya melihat antusiasme Aura membantu jualan, dasar anak manja. Kedatangan Rain ke warung juga sesuatu yang tak terduga. Bisa jadi, nanti akan ada Demian yang datang. Aku semakin sadar diri, bahwa aku hanya seorang penjual gorengan. Orang-orang kaya seperti mereka, hanya datang untuk membeli, bukan memberi hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN