Bab. 3. Rain

1265 Kata
Aura dijemput oleh supirnya, tepat bada isya. Jualanku benar-benar cepat habis karena bantuan promosi dari Aura. Banyak teman yang rumahnya tidak begitu jauh dari taman kota, tiba-tiba datang dan membeli jualanku. Kami lalu nongkrong-nongkrong sembari sedikit membahas kegiatan sekolah. Rain belum juga pamit, sampai aku selesai menutup warung. Dia bahkan juga membantuku membawa barang kembali ke rumah. Tentu saja Ibu jadi kepo, pasti mengira bahwa kami punya hubungan khusus. “Maaf, ya, ngerepotin,” kataku pada Rain. “Cuma begitu, kok,” sahut Rain. “Orang kaya kalian pasti gak pernah kerja, enak diem di rumah.” “Siapa bilang? Gue juga kerja kok, tapi gak turun langsung ke lapangan.” “Eumm, ya, gue paham. Pasti beda kelas lah, ya." “Gue seneng lihat temen-temen udah banyak yang mulai kerja, nyambi sekolah.” “Iya, harus semangat biar gak jadi beban keluarga.” “Keluarga itu bukan beban, Vio.” “Iyaaa. Bawel.” “Besok jualan lagi?” “Insya Allah.” “Ok, kalau gitu sekarang gue pulang, ya.” “Makasih, ya. Rain.” “Masama.” Rain akhirnya pulang, terasa membawa kelegaan dalam diriku. Mereka mungkin senang bisa membantu, tapi aku takut membuat mereka kelelahan sedangkan keluarga mereka telah memberikan sejuta kenyamanan. Aku yang hanya seorang teman, mana enak menyusahkan. Sampai akan tidur, aku bisa mendengar suara Ibu yang sedang mengobrol dengan Bapak di ruang tamu. Ibu menceritakan tentang teman-temanku yang ikut membantu. Ibu bilang temanku keren-keren, orang kaya semua. Bapak hanya bilang bahwa itu hal baik yang harus selalu disyukuri. ** Bang Emir sudah siap menunggu di depan rumahku, saat aku mengintip dari jendela kamar sembari memakai seragam putih abu-abu. Namun, tiba-tiba terdengar suara motor yang kembali terparkir di depan rumah. Dadaku berdebar aneh, saat mengintip siapa yang datang. Rain, dia datang ke rumahku lagi pagi ini. “Violet, ada temenmu si Rain,” Ibu memanggil dari depan pintu kamarku. Setelah siap, aku menghampiri mereka di depan rumah. Rain langsung tersenyum melihatku, sedang aku bingung kenapa dia datang. “Berangkat bareng, yuk!” kata Rain, terlihat bersemangat. Bang Emir langsung nyengir, menatapku setengah meledek. Pasti dia akan berpikir kalau Rain itu pacarku. “Ciee ....” sela Bang Emir. Aku langsung membulatkan mata padanya. “Lu ngapain jemput gue segala, Rain? Kan gue bilang biasa naik ojek,” sahutku. “Rumah gue gak jauh dari sini, masih searah. Sekalian aja gue jemput lu, dari pada lu bayar ojek.” “Udah, Violet. Lu ikut dia aja, gue juga sebenernya mau ke bengkel dulu, ban gue kayaknya kurang angin,” tukas Bang Emir. Bang Emir pasti sengaja membual, agar aku bisa pergi dengan Rain. Kuperhatikan ban motornya baik-baik saja, dia bahkan tidak pernah lalai merawat motornya selama ini. “Nih, helmnya,” Rain menjulurkan helm berwarna pink padaku. Aku tidak punya alasan lagi untuk menolak, ini kali pertama aku berangkat bersama teman cowok ke sekolah. Rasanya hampir sama seperti saat melihat Demian, walau debarannya tak sekencang saat itu. Parfum Rain wanginya sangat lembut, terasa nyaman dihirup. Wangi shampooku saja kalah, pasti dia memakai parfum merk mahal yang harganya tak akan bisa kujangkau. Andai saja, yang memboncengku saat ini adalah Demian. Kami berdua menabrak udara yang masih berembun, titik embunnya menyiksa pori hingga telapak tangan mencuri hangat dari saku jaketnya. Eum, so sweet. “Vio, lu gak ketiduran kan?” sayup kudengar suara Rain. Astaga, tak kusadari beberapa menit tadi aku sudah bersandar sangat dekat dengan punggung Rain. Bahkan lengan ini tak tahu malu melingkar di pinggangnya. “Eh, iya sorry. Gue ngantuk nih, kayaknya,” sahutku. Aku kembali membuat jarak, membiarkan dingin pagi menguasai tubuhku. Sejenak hangat yang kurasakan tadi, sudah cukup membuatku malu. Bisa-bisa Rain berpikir aku agresif dan menyukainya. Sesampai di parkiran sekolah, aku langsung turun. Mengucap terima kasih dan berjalan duluan menuju kelas, tentu saja Rain menyusul dan berjalan bersamaku. “Rain, besok gak usah jemput gue lagi. Gue gak mau ngerepotin.” Aku menghentikan langkahnya saat kami akan tiba di kelas. Rain hanya terdiam menatapku, lalu aku lanjut pergi ke kelas. Meski merasa bersalah, ini lebih baik dari pada terjadi hal yang tidak-tidak. Tidak ada yang salah dari perhatian Rain, bisa jadi aku hanya kegeeran. Sedangkan dia mungkin senang karena bisa membantu orang lain. Aku hanya malu, dan takut akan membuatnya malu juga. “Hari ini ada suntik vaksin gratis di sekolah kita, buat yang belum divaksin bisa segera datang ke aula sekolah,” Rain memberi pengumuman di depan kelas. “Duh, gue gak mau vaksin.” Terdengar suara rengekan dari baris belakang kelas. “Vaksin aja, liat nih, gue. Abis vaksin tambah ganteng,” sahut Demian. Sontak celotehnya membuat seisi kelas tertawa. “Ganteng gue mah udah natural, kalau abis vaksin langsung kaya, gue baru mau,” sahut Bian, si paling tengil. Aura ternyata sudah lebih dulu divaksin, teman-teman yang lain juga. Hanya tersisa segelintir orang pengidap takut jarum suntik, Demian salah satunya. Kami pun pergi bersama ke aula, dengan harapan rasa takut akan berkurang kalau divaksin bersama teman. “Vio, belum divaksin juga?” tanya Demian padaku. Bersama Bian, mereka berjalan di belakangku. “Belum,” jawabku. Hanya menoleh pada mereka sebentar. “Sakit gak ya?” sambung Bian. “Katanya sih, kayak digigit mantan,” sahut Demian. Bian dan Demian pun tertawa, sama sekali tidak lucu padahal. Memangnya mereka pernah pacaran dengan kucing, sampai digigit segala? Tiba di aula, tidak banyak siswa yang mengantri. Bian bersemangat karena ternyata disediakan banyak snack untuk yang datang. Saat baru saja duduk di kursi tunggu, aku melihat kedatangan Rain. Dia melihatku, tapi tidak tersenyum seperti pertemuan tadi pagi. Mungkin aku sudah membuatnya kecewa. “Vio, nih, ada s**u bingung,” Demian menjulurkan padaku s**u merek beruang yang naik harga beberapa waktu ini. “s**u bingung?” gumamku. “Iya, bingung. Susunya sapi, tapi namanya s**u beruang, iklannya naga. Bingung kan?” “Haha.” “Oiya, kemarin gue lihat story anak-anak, mereka pamer lagi nongkrong di warung lu. Warung lu beneran?” “Iya, Dem.” “Wah, keren. Wirausaha muda. Gak kayak gue, beban keluarga.” “eum, Keluarga itu bukan beban, Dem.” Ya ampun, kalimat itu otomatis mengingatkanku pada Rain. Aku melihat ke sekeliling aula, Rain sudah tidak ada. Perasaanku jadi aneh, seperti ada yang telah hilang. “Nanti gue maen deh, ke warung lu, sama temen-temen yang lain,” lanjut Demian. “Boleh, dateng aja.” “Warung lu pasti laris manis ya, yang jualan cantik soalnya.” “Apaan.” Demian tertawa setelah berhasil membuatku tersipu malu, tak menyangka dia bisa bercanda seperti itu. Ya, tentu saja hanya bercanda. Aku bukan type perempuan yang akan diajaknya serius. Bersama waktu, aku yakin akan terbiasa. Membuat debar yang kurasakan setiap melihat Demian, menjadi perasaan biasa saja. Kami teman sekelas, kebersamaan harusnya tak membuat kami harus terjebak pada perasaan sejenis cinta. Begitu pun dengan Rain, aku yakin pertemanan kami masih bisa berlanjut. “Vio, udah punya cowok?” tanya Bian tiba-tiba. Saat kami berjalan bersama ke kelas selepas vaksin. “Apaan sih, Bian,” jawabku. “Tadi pagi gue liat, lu mesra amat boncengan ama Rain. Eaa,” sambung Bian. Tuh, kan. Aku tertangkap basah. “Salah lihat kali lu,” sambung Demian. “Mata gue sehat kok, bro. Gak nyangka kan lu?” “Jiahaha.” Melihat Demian tertawa, rasanya ada sudut hati yang tak terima. Sedih, malu, campur aduk rasanya. Aku bukan hanya bertepuk sebelah tangan, tapi juga dibuat candaan. “Vio? Lu nangis?” tanya Bian, mengejutkanku. “Enggak, lah, sialan!” jawabku. Aku salah tingkah dan buru-buru ke kelas. Rasanya ingin sekali bisa tiba-tiba menghilang dari kelas. Argh! Malu-maluin banget aku!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN