Faira sudah berdiri gamang di depan pintu selama beberapa menit tanpa berniat mendorongnya agar terbuka. Ia semakin gelisah, walau sekadar menemui Steve. Hanya melihat lelaki itu padahal, Faira sudah kehilangan banyak keberaniannya. Apalagi jika langsung mengutarakan maksudnya menemui Steve pagi-pagi sebelum berangkat kuliah. Denting ponsel tanda pesan masuk menyadarkan Faira dari segala kegelisahannya. Gadis itu menunduk, mengecek benda pipihnya, menemukan chat dari Akmal. Memintanya agar segera menyelesaikan tujuan. Karena lelaki itu pasti sudah jenuh menunggu di parkiran. Akmal Rihadi : Jangan terlalu lama. Makin cepet kamu putus sama dia, makin cepet juga kamu kehilangan salah satu beban hidup kamu. Faira membenarkan ucapan tetangganya itu, tetapi ia masih belum menemukan keberan

