Fatma memperhatikan Cato, dia pulang ke rumah sebentar karena ingin berganti pakaian. Sekarang dia menjelajah dapur untuk mencari cemilan. Fatma berjalan menuju dapur, menghampiri Cato.
"Cato." Fatma mendekati anaknya yang sedang duduk di meja makan.
"Ya, Ma." Cato melirik ke arah ibunya, kemudian lanjut memakan salad buah di hadapannya.
"Kamu masih kos di rumah Tante Laura?" Fatma bertanya. Cato mengiakan.
"Memang rumah ini nggak bikin kamu nyaman ya? Hingga kamu harus kos segala."
Cato mengambil jeda sebelum menjawab ibunya, "Ma, aku kadang cuma pengen nikmatin masa-masa sendiri."
"Cato, itu konsep yang salah, harusnya kamu tau yang paling penting itu adalah keluarga. Lagipula kamu nggak bakal selamanya sendiri, kan?"
Cato menjawab dengan tawa, Fatma melanjutkan, "Mana calon istri kamu? Kenalin ke mama, deh."
"Indi." Cato menjawab lugas.
Fatma menghela nafasnya, "Kamu pacaran sama Indi?"
"Belum, tapi akan ...."
"Cato, bisa kamu mengalah dengan Cais? Kamu tau kan kalau Cais juga menyukai Indi?" Fatma lagi-lagi mengungkit masalah itu.
Cato seketika kehilangan selera makannya, dia berhenti menyantap saladnya. "Ma, kalau Indi memilih Cais, aku bakal mundur. Tapi, selagi Indi belum menentukan pilihannya, kami punya kesempatan yang sama. Lagipula kenapa sih mama nggak suka kalau aku yang jadi sama Indi?"
"Mama bukan nggak suka, masalahnya, sejak awal Cais yang mengajak Indi ke sini. Dia udah terlanjur berharap. Mama nggak mau Cais sakit hati dan beranggapan kalau kamu merebut Indi darinya."
"Merebut?" Cato bertanya bingung. "Nggak ada yang direbut di sini, Ma."
"Pokoknya mama nggak mau kamu bilang ke Cais kalau kamu juga suka sama Indi. Mama nggak mau ada keributan. Mama nggak mau Cais terluka."
Cato menatap wajah ibunya dengan heran, "Jadi, kalau aku yang terluka nggak apa-apa?"
Fatma kemudian terdiam, "Bukan seperti itu."
Cato berdiri dari kursinya, menutup salad buah. "Aku pulang."
"Cato, ini rumah kamu."
Cato berbalik, berkata lagi. "Aku pulang ke kosku."
Fatma memandangi punggung anaknya, dia memejamkan mata. "Mama nggak bermaksud begitu, mama hanya ...." Fatma berbisik lirih.
***
Indi melihat mobil Cato memasuki pekarangan rumah, dia sejak tadi duduk di teras. Memang sengaja menunggu kepulangan pria itu. Tadi Indi pulang sendiri, padahal biasanya Cato rajin menjemput. Tadinya, Indi tidak mengira Cato akan pulang lebih awal, mungkin dia lembur atau pulang ke rumahnya.
Cato keluar dari mobil, menoleh ke arahnya.
Apa dia akan mampir? Indi berpikir.
Dia melihat Cato berjalan menghampirinya, raut wajahnya terlihat sedikit kesal. Padahal tadi saat mereka berkirim pesan, gaya menulisnya tampak gembira.
"Halo." Cato menyapa.
"Dari kantor?" tanya Indi.
Cato menyelipkan tangan di saku celana jeans-nya. "Dari rumah."
Apa yang terjadi, sehingga wajah Cato tampak muram? "Nggak nginap di sana?"
Cato menjawab dengan gelengan.
"Mau kopi?"
Cato menggeleng lagi, "Aku banyak ngopi hari ini.
"Mau teh?"
Cato mengangguk, "Gulanya dikit, please."
Indi beringsut ke dalam dan keluar dengan secangkir teh. Menghidangkannya untuk Cato.
"Tadi pulang naik apa?" Cato bertanya.
"Ojek online."
"Sorry, nggak bisa jemput."
Indi memandang lurus ke dapan, "Nggak apa." Cato mengantar jemputnya hampir tiap hari malah membuat Indi tidak enakan.
"Hari ini aku dipromosikan." Cato tersenyum tipis.
Indi menoleh ke arah Cato, "Promosi?"
"Yah, jabatan sebagai manajer. Sudah pasti." Indi mengetahui kalau tadinya Cato hanya pelaksana sementara, karena manajer yang lama mengajukan resign karena masalah kesehatan.
"Cato, itu hebat banget." Indi terlihat sumringah, matanya jadi berbinar. Perusahaan Cato merupakan perusahaan multinasional, menjadi manajer di sana pastilah pencapaian yang luar biasa.
"Aku juga nggak menduga, mungkin karena nggak ada kandidat lagi." Cato terkekeh. Melihat Indi yang sangat gembira, senyum Cato kembali.
"Mana mungkin." Indi menatap wajah Cato.
"Kenapa liatin?" tanya Cato.
Indi menggeleng, "Kagum aja."
Cato tersenyum, canggung, dia meraih tangan Indi. Membuat Indi sedikit tersentak. "Nggak tau kenapa, aku seneng banget denger kamu bilang gitu."
Indi merasakan jalaran hangat dari jari Cato dan menjalar ke hatinya, tangan Cato besar dan hangat. Tangan Indi serasi dalam genggamannya.
"Aku yakin banyak yang ucapin selamat dan memuji kamu, terus kenapa seneng banget kalau denger aku yang bilang gitu?"
"Karena kamu spesial." Cato menjawab.
Indi memperhatikan lagi wajah Cato, membuat dadanya berdebar pelan. Kenapa semakin lama, Cato semakin menarik di matanya?
"Oh, ya?" Indi menyahut lirih.
"Tante mana?" Cato bertanya.
"Ada, lagi sama ayah."
Cato terdiam sesaat, mereka saling bertatapan. Nafas Cato terdengar pelan membelai telinga Indi.
"Mau ... liat kamarku nggak?" Cato mendesah.
"Liat kamar?"
"Yah." Wajah Cato terlihat salah tingkah, mengajak seorang gadis ke kamar kosnya mungkin sedikit berlebihan mengingat status mereka saat ini.
"Boleh." Indi menjawab.
Sebenarnya bukan kali pertama Indi menyambangi kamar kos Cato, hanya saja baru kali ini di malam hari. Mereka berjalan ke belakang, kamar kost Cato. Sambil sekali-kali Indi melirik pria itu untuk melihat ekspresinya.
Kamar Cato rapi, dia memiliki satu bed single dan lemari kecil untuk pakaian. Ada keranjang laundry yang mulai penuh, juga meja kecil dengan pemanas air di atasnya. Rasanya, Indi ingin menjadi orang yang mengurusi semua hal remeh mengenai Cato.
"Nggak ada apa-apa." Cato berkata, mereka duduk lesehan.
"Aku nggak mengharapkan ada apa-apa di kamar seorang bujangan." Indi tertawa.
"Tadi kedinginan di teras rumah." Cato tampak berdalih, "Tapi, masih pengen ngobrol."
Indi menganggukkan kepala, padahal mereka bisa ngobrol di ruang tamu. Tapi, sudahlah, mungkin berbicara di dalam kamar berukuran 4x4 di malam hari bisa lebih mendekatkan mereka.
"Mungkin aku akan pindah kos." Cato berkata. Itu membuat Indi terkejut.
"Cato---mau pulang ke rumah?" Ada sedikit kesedihan menelusup hatinya, belum lama Cato kos dan membuat hari-hari Indi gembira. Sekarang pria itu bilang akan pindah?
Tanpa Indi menyangka, Cato menarik tangannya. Membuat dia terjerembab dalam pelukan lelaki itu. Jantung Indi berdetak semakin kencang dengan serangan yang tiba-tiba. Nafasnya terengah, dia menghirup aroma wangi dari tubuh bidang Cato. Terasa sangat hangat dan nyaman di sana.
"Cato---."
"Sorry, aku ... cuma ingin memeluk kamu."
"Apa terjadi sesuatu?" Indi mendesah. Cato bersikap berbeda, padahal dia bilang mendapat promosi harusnya dia gembira. Cato malah tampak sedih.
Cato menggelengkan kepala.
"Maaf, aku memeluk kamu begini, bukan karena aku mengambil kesempatan. Hanya saja ...."
Indi diam, lengan dan bahu Cato terasa sangat kokoh. Apakah dia bersikap murahan? Tapi, Indi tidak peduli sekalipun demikian. Bukan dia yang melemparkan diri pada Cato.
"Weekend ini, ayo kita jalan-jalan."
"Ke mana?" tanya Indi.
"Ke Dieng?"
"Menginap?" Indi bertanya lagi.
"Mau?" Suara Cato terdengar serak.
Indi mengangguk. Kemudian dia kebingungan, seriuskah mereka akan menginap?
***