Part 8 Bekerja

1150 Kata
Indi tersenyum sumringah, dia berlari turun ke ruang tunggu kantor. Melihat Cato telah menunggunya di bawah, di atas sepeda motornya. "Cato, jadi nggak pergi kerja?" Dia berkata. Sudah satu jam rasanya Cato menunggui dia interview. Dan ini adalah interview terakhir, dia bisa mulai bekerja Senin depan. "Kan orang lapangan, jadi ... nggak apa sesekali." Cato tersenyum, Indi memperhatikan sosok tegapnya saat itu. Sekarang perasaan sukanya ke Cato semakin bertambah-tambah. Cato mengenakan kemeja bewarna navi dan celana jeans juga sepatu lapangan yang manly. "Makasih, udah nungguin." Tampaknya Tuhan sedang baik padanya akhir-akhir ini, dimulai dari dia akan mendapatkan pekerjaan dan dia memiliki seseorang untuk berbagi cerita. Bahkan mengantar jemputnya dengan setia. Indi berharap Cato seperhatian ini selamanya, bukan karena dia sedang pendekatan. Nanti, seandainya mereka berpacaran. Wajah Indi memerah panas, dia buru-buru memakai helm dan naik ke boncengan Cato. Punggungnya lebar dan bidang rasanya menyenangkan bersandar di sana, nanti kalau mereka sudah resmi berpacaran, barulah Indi berani melakukannya. Tidak untuk saat ini. Perjalanan Indi ke kantor cukup jauh, sekitar setengah jam. Mereka mampir ke salah satu angkringan, karena kata Cato perutnya sudah keroncongan. Padahal Indi bilang sebaiknya mereka pulang karena cuaca tampak seperti mau hujan, dia khawatir Cato tidak bisa kembali ke kantornya. Tapi Cato berkata itu tidak apa-apa. "Makanannya aku yang traktir." Indi berkeras, dia mendapatkan pekerjaan juga karena Cato. Sekalipun kata Cato seandainya dia tidak kompeten, itu tidak mungkin terjadi. Cato diam dan tersenyum saja. Dia memperhatikan Indi yang sedang makan, sifat Cato ini yang membuat Indi berdebar. Nanti dia akan diam, memperhatikan Indi dengan seksama kemudian sedikit menyentuh, semuanya tidak berlebihan sama sekali. Sebagai seorang lelaki, dia makan dengan sempurna. Piringnya bersih, beda sekali dengan Indi yang menyisakan banyak. Kata Cato makanan harus dihabiskan, yah Indi mengerti itu, tapi terkadang ada telur puyuh ataupun usus goreng sisa yang tidak termakan. Cato menghabiskannya. "Masih pengen jalan, tapi mau balik ke kantor. Ada yang nunggu." Cato berkata. "Kan, tadi aku udah bilang langsung balik aja. Nggak enak jadinya kelamaan izin dari kantor." "Kan, tadi aku udah bilang kalau aku masih pengen jalan." Cato membalas ucapannya, membuat Indi tertawa. "Nggak usah ngerasa bersalah dan enakan, okey? Kalau aku nggak bisa aku bilang nggak bisa, kalau bisa aku bilang bisa. Walaupun aku usahain untuk bisa." "Iyaaa ...." Indi tertawa lagi, mereka melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. *** Cais mengirim pesan, dia akhir-akhir ini cukup sibuk. Sampai beberapa hari tidak mengirim pesan ke Indi. "Selamat siang?" Dia bertanya di sela-sela waktu senggangnya. Lama pesan itu tidak di baca, Cais beberapa kali mengecek. Memang Indi sedang tidak online. Cais mondar-mandir di ruangannya. "Siang, Cais." Cais langsung duduk lagi mendengar bunyi pesan masuk. Dia memikirkan kalimat balasan. "Ada siapa aja di rumah?" Cais mengirim, loh, apa maksudnya pesan itu? "Ada ibu sama aku aja, Cais mau ke sini?" Syukurlah, pesan itu ternyata dibalas juga. Nyaris saja Cais mengetik, iya, kalau tidak ingat malam ini mereka akan mengadakan makan malam keluarga. Berhubung ayahnya sedang tidak ada perjalanan dinas. "Besok malam boleh, hari ini ada makan malam keluarga." Cais membaca lagi pesan itu berulang kali sebelum mengirimkannya. Jeda balasan kali ini cukup lama, kemudian Indi membalas. "Oke." *** Cato akhirnya memutuskan mengambil suv hitam keluaran jepang, ada teman kantornya yang terlilit hutang dan ingin menjual mobilnya dalam waktu singkat. Sebenarnya Cato berpikir lebih efisien untuk mengendarai motor, karena dia telah mendapatkan mobil dinas dari perusahaan. Hanya saja, kondisinya sekarang berbeda. Indi ... Wanita yang sekarang mulai diam-diam mengambil alih kuasa atas hatinya itu akan mulai bekerja. Dan Cato beruntung menjadi orang yang dimintai mengantar jemput Indi setiap hari, dia pikir sudah saatnya membeli mobil. Malam ini, makan malam keluarga, dia melirik jam masih pukul setengah tujuh. Tapi kalau dia balik ke kos, tentu dia akan tertahan di sana lebih lama, apalagi kalau melihat Indi duduk di teras rumahnya. Cato akan mampir sebentar, tetapi bersama Indi rencana sebentar bisa menjadi lama. Akhirnya Cato memutuskan untuk langsung pulang saja ke rumah keluarga Astartalis. Dia tidak ingin terlambat, dan ditegur oleh ayahnya. "Cato. Kamu udah pulang." Fatma memeluk anaknya hangat, sudah beberapa hari dia tidak pulang ke rumah. Bahkan dia menunggu di depan rumah, menunggu para pria penghuni rumah pulang.  "Mama sehat?" Fatma mengangguk, "Kamu bawa mobil kantor?" "Baru beli." Cato tertawa. Fatma melongok lagi. "Keren." "Keren?" Cato hanya tertawa, "Hanya mobil keluaran jepang biasa, bekas pula." Fatma menepuk-nepuk lengan anaknya, "Tetap saja keren, kan beli sendiri." Tak lama mereka melihat mobil Cais masuk ke pekarangan. "Nah, itu baru keren." Cato tertawa. "Kamu ini, kalau kamu mau mama bisa membelikan." Fatma mencubit anaknya, bagaimanapun sejak lama Cato selalu mandiri, tamat kuliah tidak pernah minta uang pada orang tuanya. Kadang, Fatma berpikir itu semua karena Cato merasa terbebani dengan statusnya yang hanya sebagai anak sambung. "Bang, udah duluan?" Cais bertanya. Cato mengangguk. "Gimana kerjaan?" "Masih gitu aja, kantor abang gimana? Katanya ada perubahan?" Cais balik bertanya. Mereka masuk ke rumah saling tertawa. Setidaknya kedua putranya saling menyayangi, itu saja sudah lebih dari cukup bagi Fatma. Karena itu dia tidak ingin ada yang merusak keharmonisan rumah tangganya. Apapun yang terjadi, Fatma akan menjaga itu. Meja makan malam telah terhidang menu yang menggugah selera, mulai dari ikan bakar sampai gudeg. Fatma tadi ikut turun tangan memasak makanan bersama sang asisten rumah tangga. Tak lama kemudian, suaminya Prabu, pulang. Membawa buket bunga dan juga hadiah untuk Fatma. Sudah setua itu, Prabu masih menunjukkan kasih sayang dan cintanya pada Fatma, dia juga selalu memberi hadiah-hadiah. Sampai kadang Fatma berpikir itu sudah terlalu banyak. Cais menggoda ibunya, sedang Cato hanya tersenyum. Mereka sudah sering melihat kejadian ini, berdoa agar rumah tangga kedua orang tuanya selalu harmonis. Prabu memakaikan kalung ke leher Fatma, kemudian mengecup pipinya dan bergabung di meja makan. Sebenarnya makan malam keluarga seperti ini direncanakan seminggu sekali, tetapi kadang setelah Cais dan Cato beranjak dewasa pekerjaan dan lainnya membuat mereka sulit berkumpul. Fatma mengawasi suami dan anak-anaknya makan, setelahnya melanjutkan dengan obrolan mengenai perusahaan. Kali ini, Prabu tidak meminta Cato untuk bekerja di perusahaan keluarga mereka, mungkin sudah bosan karena Cato selalu menolak. Cato kemudian melihat ponsel, tersenyum dan berpamitan kembali ke kamar. "Sendirian di teras, bosan." Begitu pesan Indi. Benar juga, sekarang hampir tiap malam dia menyempatkan diri mengobrol di teras rumah dengan gadis itu. Cato membuka pintu kamarnya, semuanya rapi dan wangi. Sekalipun Cato tidak lagi tinggal di sana, kamarnya selalu dibersihkan rutin, kadang oleh ibunya atau asisten rumah tangga mereka. Cato menghempaskan tubuh. "Malam ini aku nggak pulang." Cato membalas, tertawa, seolah-olah Indi adalah rumahnya saja. "Nginap di rumah?" "Iya." Kangen, Cato mau mengatakan itu. Tapi ... mereka belum memiliki status saat ini, jadi, nanti sajalah. Dia tidak ingin Indi muak dengan kegombalannya. Benar, setelah hampir tiap hari bertemu dan tertawa dengan Indi, dia merasa merindukan gadis itu. Cato sekalipun memiliki banyak teman, dia tidak terlalu terbuka untuk urusan pribadi. Saat bersama Indi, dia merasa bisa mengatakan apa saja. Dalam waktu dekat Cato akan meminta Indi, menjadi kekasihnya. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN