Part 7 Kamu Suka Aku, Cato?

1001 Kata
Cais mengantar Indi pulang, dia segera berpamitan karena harus kembali ke rumah sakit. Indi duduk di teras rumah, melepas heels-nya. Dia melihat motor Cato memasuki pekarangan rumah. Cato memarkir motor di samping rumah, kemudian menghampiri Indi. Dalam hati Indi bertanya, apa Cato melihat kedatangan Cais tadi? "Pulang cepat?" Indi bertanya, biasanya Cato pulang  dari kantor sekitar jam enam sore atau bahkan sudah malam. Indi sering memantau pria itu. Berharap Cato pulang lebih cepat, sehingga mereka bisa bercengkrama di malam hari. "Boleh duduk?" Cato bertanya. Indi mengangguk. Biasanya Cato tidak meminta izin seperti itu. Indi menyandarkan tubuh di kursi besi di teras rumah. Cato memperhatikan. "Cantik." Cato memuji. Indi hanya tertawa. "Dari mana sih?" Cato bertanya. Indi mengira-ngira apa pertanyaan itu menyiratkan kecemburuan atau hanya sekedar rasa ingin tahu. "Makan siang." Cato bergumam, "Sama Cais?" Kenapa pria ini bisa tahu kalau mereka pergi makan siang bersama? Indi mengangguk lagi. "Cais datang dan ajak makan siang, kebetulan memang belum makan." "Ya, kamu nggak perlu ngejelasin ke aku." Cato berkata. "Kenapa Cato nadanya kayak nggak suka gitu?" Indi melontarkan pertanyaan tanpa basa-basi, Indi memang orang yang kurang suka berbasa-basi.  Cato mengernyit, "Masa?" "Oh, apa aku salah? Aku belum terlalu kenal kamu." Indi berkata lagi. Cato menghela nafas panjang, dia menepuk sandaran kursi dengan tangan. "Aku balik dulu." Cato kemudian berkata. Indi hanya mengangguk. Dia memandangi sosok Cato yang turun dari teras rumahnya, menghilang ke samping. Apa dia mau kembali ke kantor atau dia tidak menyukai sikap Indi? Indi mengeluh. Kenapa suasananya jadi tegang begini? Indi bergegas masuk ke rumah dan mengganti pakaiannya, dia membersihkan wajah dengan air penyegar. Kemudian pesan masuk ke ponselnya. "Jalan, yuk." Dari Cato? Kenapa dia tadi pulang kalau mau ajak jalan? Dasar pria. Jalan? Lagi? "Cape." Indi menolak, dia baru saja pulang dan sekarang mau pergi lagi. ":(" "Ngopi di teras rumah aja." Indi kemudian membalas pesan itu, sekarang Indi membeli beberapa jenis kopi seduh. Berhubung Cato sering sekali nongkrong dan numpang makan di rumahnya. Tapi, Cato juga sering membawakan banyak barang. Seperti daging, sayuran, buah-buahan. Ibu Indi selalu gembira menerima, katanya dia sudah lama ingin anak laki-laki. Huh, Indi pikir itu hanya modus ibunya untuk mengatakan kalau dia butuh calon menantu. ":)" Indi tertawa, dia memandangi wajahnya. Ada bayang gelap sedikit di mata. Sekarang Indi mulai banyak memperhatikan penampilannya lagi, dia telah membeli cream mata dan beberapa tambahan produk perawatan belakangan ini. Indi juga menyesal selama ini kurang memperhatikan perawatan wajah dan tubuhnya. Indi membuat kopi dan memasukkan beberapa kue kering ke dalam toples, dia keluar lagi dengan kaus dan celana katun, dia mulai berpikir untuk membeli piyama rumah yang menarik. Cato telah duduk di teras sambil tersenyum. *** Cato melihat Indi keluar dengan nampan berisi kopi dan cemilan di atasnya. Dia jarang mengenakan daster, kaus dan celana katun adalah favorit Indi saat berada di rumah. Tapi dia memang manis, jadi pakaian seperti apapun tidak banyak berpengaruh. "Kalau masih ada yang mau diobrolkan kenapa tadi buru-buru kabur?" Indi mengejek. "Kabur?" Cato mengerutkan kening. "Apa namanya kalau bukan kabur?" Indi menguncir rambutnya. Tercium aroma wangi segar saat dia bergerak. "Mau bilang cemburu, tapi---bukan siapa-siapa." Cato menggoda. Indi tertawa. "Emangnya mau jadi siapa?" Indi menyodorkan kue kering ke Cato. Wajah Indi disinari cahaya matahari dari samping membuat Cato terkesima, dia mungkin tidak menyadari kalau memiliki kecantikan yang tidak biasa. Dan ... saat bersamanya Indi terlihat luwes, tidak pernah kaku atau gugup. Cato mengucapkan terima kasih dan mengambil kue kering dari tangan Indi. "Buat sendiri?" Dia bertanya. "Iya, pengangguran sih." Lagi-lagi Indi mengatakan itu seraya tertawa. "Udah masukan lamaran ke yang aku bilang tadi?" Indi menghela nafas, "Malam aja deh, banyak gangguan." Cato lagi-lagi tertawa, "Aku termasuk salah satu gangguan juga?" "Menurut Cato, bagaimana?" Indi tertawa. "Maunya jadi suatu yang menyenangkan. Apa terlalu cepat?" Indi terdiam dari tawanya. Melihat ke depan dan mengalihkan pandangan, ada semburat merah muda di pipinya. Merona. Cato mendesah lagi, "Benar, terlalu cepat." Dia menyeruput kopinya. "Kopi apa ini?" Indi menoleh, "Katanya sih arabica super dari Sulawesi." Cato mengangguk-angguk. "Boleh minta sesuatu nggak?" "Apa itu?" "Dalam waktu-waktu dekat ini jangan menerima Cais sebagai kekasih." Indi tampak terkejut. Mungkin ucapan Cato terdengar tidak sopan, tetapi dia tidak ingin Indi memutuskan untuk menerima cinta Cais, di saat dia belum mengungkapkan perasaannya. Dan dia tidak bisa melakukannya sekarang, karena masih terlalu cepat. Oke, mereka berdua bersama tampak serasi dan nyambung, Indi juga terlihat nyaman bersama Cato dan sebaliknya. Tetapi, membangun komitmen untuk orang yang sudah di usia matang seperti mereka, goalnya pastilah ke tahap yang serius. Cato tidak ingin mereka terlalu cepat melangkah, tetapi juga tidak ingin ditikung oleh Cais. "Cato berpikir, aku akan menerima pria yang tidak aku sukai?" Indi terlihat sebal. Cato diam, dia tampaknya salah bicara. Aduh sial deh, selama ini Cato selalu pintar berbicara. Tapi, kali ini di hadapan wanita yang dia suka? Dia kesulitan memilih kalimat yang tepat. Maksudnya bukan begitu. Indi masih terlihat kesal, raut wajahnya berubah. "Aku ingin melamar Indi, tapi masih terlalu cepat." Cato berkata dengan hati-hati. Wajah Indi berubah lagi. "Melamar?" Indi memastikan kalau dia tidak salah dengar. "Ya, kalau udah setua ini meminta seorang gadis jadi kekasihnya. Tujuannya pasti serius kan?" Cato nyengir. "Tapi Cato nggak mau berkomitmen sekarang, karena belum bisa memastikan, apa aku gadis yang pantas jadi kekasih atau cuma sekedar nyaman di awal, bukan?" tembak Indi langsung. Sebagai seorang wanita, Indi beberapa kali mengungkapkan kalimat yang tidak terpikirkan oleh Cato, kalau wanita itu akan mengatakannya. Dia cukup lugas dalam berbicara.  "Aku nggak mau Indi menerimaku karena nyaman di awal, dan perasaan itu ternyata salah." Cato menjawab. Indi menatapnya. Kemudian mengalihkan pandangan. "Karena itu aku ingin Indi memastikan perasaan Indi ke aku, sebagai pria aku jelas ingin wanita yang kusukai menyukai aku juga." Cato mengucapkan, pada akhirnya. Dia menyukai Indi. "Jadi Cato suka aku?" Tembak saja aku terus dengan kata-katamu, Cato berdecak. "Untuk apa aku setiap hari berjuang, sampai pindah ke kos. Kalau bukan untuk wanita yang aku suka?" Indi akhirnya tertawa lagi. "Oke, tapi aku juga memiliki rentang waktuku sendiri." Indi menegaskan. "Setuju." Cato tertawa. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN