Part 6 Alasan Cais

1163 Kata
Indi berkutat melihat ponselnya, mencari lowongan kerja. Setelah hampir dua tahun menganggur, dia memutuskan untuk kembali bekerja. Sebenarnya Indi tidak terlalu sulit mendapat pekerjaan, apabila dia telah dipanggil untuk interview. Pengalamannya lumayan, dia juga lulusan universitas ternama di Kota Yogyakarta. Dia paham mengoperasikan komputer, Indi juga menguasai Bahasa Inggris dan Jepang, menjadi nilai tambah untuknya. Soal penampilan? Yah, dia cukup menarik. "Siang, lagi ngapain?" Sebuah pesan dari Cato masuk ke ponselnya. Indi tersenyum dan membalas. "Cari lowongan kerja." "Kebetulan banget, nih aku dapet info loker di developer. Mau coba?" "Boleh." Sebuah potongan gambar masuk ke ponsel Indi. Lowongan kerja dan juga spesifikasinya. Namanya cukup sulit, tapi intinya Indi harus mengurus website, dia pasti bisa. "Nanti aku kirim email bosnya, jalur belakang." Indi tertawa. "Lagi apa?" "Makan siang bareng temen kantor." Indi mengerjapkan mata, dengan anak-anak SPG yang cantik-cantik itu kah? Ada sedikit gelisah di hati Indi, padahal dia seharusnya tidak boleh begitu. Dia dan Cato belum ada hubungan apa-apa, masih dalam tahap pendekatan. Walaupun sinyal Cato jelas menunjukkan ketertarikan padanya, seorang wanita pantang terlalu percaya diri sampai sang pria mengungkapkan perasaannya. "Oke." "Cuma oke?" "Maunya gimana?" "Bilang makan yang banyak, jangan kerja terlalu capek. Jangan lupa istirahat." Indi lagi-lagi tertawa, "Sda." Cato tidak membalas lagi, apa dia merasa Indi terlalu kaku? Ya ampun, beginilah kalau sedang masa pendekatan, hal kecil saja bisa membuat Indi kalang kabut memikirkan apa yang terjadi. Indi mulai menulis resume kerjaan dan mengecek alamat email yang dikirim oleh Cato, kalau dia berhasil mendapatkan pekerjaan ini, dia akan mentraktir pria itu apapun yang dia mau. Pintu kamar Indi terbuka, "Indi, ada Cais." Ibunya berkata. Indi mendongak, Cais? Bukan Cato? Indi bangun dari tempat tidurnya, merapikan pakaian rumahnya sedikit. Juga menyisir rambut, dia jelas tak mau terlihat kucel di hadapan sang dokter yang selalu rapi dan berkelas. "Dok." Indi menatap Cais dengan kemeja dan celana kain, duduk di ruang tamunya. Cais tersenyum. "Bisa panggil nama aja nggak usah pake embel-embel?" "Ya, Cais." Indi tertawa. "Aku bikinin minum dulu ya." "Air putih aja, anget." Indi mengangguk. Dia ke dapur menuangkan segelas air putih suam kuku, melirik jam di dinding, pukul dua siang. Dia duduk lagi di hadapan Cais. "Cais dalam rangka apa main ke sini?" Indi bertanya. "Mau ajak makan siang, boleh?" Indi sebenarnya belum makan, tapi .... "Udah makan." Dia menjawab demikian. Dia memperhatikan Cais, secara penampilan dia terlihat berbeda dengan Cato. Tapi, wajahnya tampan dan halus, karena itu saat dia kemarin kontrol ibunya ke rumah sakit. Indi mendengar beberapa perawat menggosipkan sang dokter tampan. "Kalau gitu temenin aku aja, mau?" Cais masih membujuk. "Kebetulan ada jam kosong, entah kapan bakal di panggil lagi ke rumah sakit." Indi tidak tega juga mengetahui kalau Cais rela menggunakan waktunya yang sedikit untuk berkunjung. "Oke, aku siap-siap dulu." Akhirnya Indi berkata. Cais mengangguk. Indi keluar lagi dengan dress selutut juga sepatu yang memiliki heels sekita 5 cm. Bahkan ketika pergi dengan Cais penampilannya berbeda dibandingkan saat pergi dengan Cato. Cais menatapnya, kemudian berdiri. "Mau pamitan dulu sama tante." Indi memanggil ibunya, Laura keluar sambil tersenyum. "Wah, wah mau ke mana ini?" "Ajak Indi makan siang tante. Tante mau nitip sesuatu?" Cais berkata sopan. Laura menggeleng, "Nggak usah. Tante sekarang diet makanan." Beliau tertawa. Setelah berpamitan Indi mengikuti Cais menuju mobilnya. "Mau makan di mana?" Indi bertanya. "Ada rekomendasi?" "Kalau Cais nggak punya pilihan, baru aku yang pilih." Indi berkata. "Kalau gitu, aku harus memilih nih. Ada restoran seafood yang lumayan. Kita ke sana?" Indi mengangguk. Mereka memasuki restoran bergaya klasik, Indi belum pernah makan di sini. Pada dasarnya dia jalang berkeliling untuk wisata kuliner, mengingat ibunya pintar memasak. Dia memperhatikan Cais memesan steam ikan, juga sup tahu dan lainnya. Dan benarlah dugaan Indi, porsinya sangat sedikit apabila dibandingkan dengan harganya. "Makan lagi supnya dikit." Cais berkata. Indi mengangguk, wanginya cukup menggugah selera. "Jadi, apa aktifitas sekarang?" Cais mulai menanyakan pertanyaan. "Cuma bersantai, melalukan pekerjaan rumah. Begitulah." Cais mengangguk. "Merawat orang tua juga baik." Indi tersenyum, itu memang benar adanya. Kadang saat Indi merasa tidak berguna karena dia tidak memiliki pekerjaan juga kegiatan, dia menguatkan diri dengan hal itu. Merawat ibunya yang sedang sakit, tidak semua orang bisa melakukannya. "Aku pikir Indi nggak mau aku ajak keluar." Cais tersenyum. "Kenapa gitu?" "Kesan awal Indi terhadapku pasti tidak suka." Indi menggeleng, "Nggak benar." "Apa karena Indi nggak mau menjalin hubungan dengan seorang dokter?" Cais tersenyum, tetapi pertanyaan itu seperti interogasi. Indi diam saja. "Padahal Indi belum mengenalku, tapi langsung menjauh. Benar kan?" Indi mencairkan suasana canggung dengan tertawa, "Nggak begitu." Indi juga tidak mengerti, sejak awal dia tidak terlalu merasa tertarik pada Cais. Mungkin benar, ada hubungan yang berdasar chemistry ada juga karena kebersamaan yang lama. "Kalau gitu aku minta nomor HP Indi." Indi menghela nafasnya pelan. Mungkin saja Indi terlalu berlebihan kalau menolak untuk bertukar telepon dengan Cais, mengingat dia adalah anak dari sahabat ibunya. Akhirnya Indi memberikan juga nomor ponselnya. Senyum Cais seketika jadi sumringah. "Makasih." Indi tersenyum, "Nggak masalah." Rasa supnya lumayan enak, kalau dipikir, kapan terakhir kali dia pergi berkencan? Ah, kemarin saat malam minggu bersama Cato, apa itu masuk hitungan berkencan? Sekarang dia pergi lagi makan siang bersama sang adik, Cais. "Waktu pertama kali bertemu dulu, Indi itu galak banget sama aku." Cais telah menyelasaikan makannya, mereka mengobrol santai. Indi menerawang, "Masa, sih?" Saat itu dia sangat lelah dan emosi dengan birokrasi rumah sakit. Makanya saat Cais datang sebagai salah satu dokter di rumah sakit itu, Indi melampiaskan terhadapnya. "Sekarang udah nggak, kan?" Indi tertawa. Cais tersenyum, "Setidaknya beri aku kesempatan." Indi terdiam, "Untuk?" "Indi pasti tau, sebagai seorang wanita dewasa. Bukannya sikapku jelas?" Indi hanya bingung, mereka baru bertemu. Kenapa Cais menyatakan begitu menyukainya? Cais belum mengenal dia sepenuhnya. "Aku cuma bingung." Cais berkata lagi, "Aku ceritakan. Tapi, jangan menuduhku seorang stalker." "Soal?" "Jadi mama sering sekali bercerita soal ibu kamu, Tante Laura. Mereka sangat dekat saat berkuliah dulu. Ibu kamu tipe orang yang rela berkorban demi sahabat. Pernah katanya mama sakit di kosnya dini hari, ibu kamu yang urusin sampai ke rumah sakit gitu." Cais jadi banyak bicara, matanya berbinar dan raut wajahnya bersinar. "Terus hubungan sama stalker apa?" "Nah, mama bilang dia pengen banget besanan sama sahabatnya itu." Cais tertawa lagi, "Mulai sejak itu aku rajin memantau akun medsos Indi." Indi terperangah, jadi begitu? Mau tidak mau Indi tertawa juga. "Menunggu saat yang tepat untuk bertemu." Indi menatap wajah Cais. Dia cukup terharu, mengingat belum pernah ada seorang pria yang bilang kalau memantaunya selama beberapa tahun terakhir. "Apa aneh?" Cais menjadi canggung. Indi menggeleng, "Nggak tau." Kemudian mereka tertawa bersama. "Cais ...." "Ya?" "Tapi, saat ini aku nggak tertarik sama Cais. Maaf ya?" Cais mengangguk, "Nggak masalah, semua butuh proses. Asal Indi membiarkan aku berusaha." Indi jadi bingung, masa dia mematahkan hati Cais di pertemuan berdua pertama mereka. Tapi, ketertarikan Indi pada sosok Cato makin hari makin kuat. Dia tak ingin salah langkah. "Takutknya, aku menyukai pria lain." Indi mendesah. "Aku ngerti, tapi selagi kamu single, aku rasa masih ada kesempatan untukku." Indi menarik nafas memenuhi paru-paru. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN