Part 5 Tekanan Keluarga

1476 Kata
Cato menggenggam tangan Indi, "Eh kenapa pegangan tangan?" Indi tertawa. "Biar mesralah." Cato menjawab sekenanya. "Udah malam, pulang, yuk." Indi berkata. "Abang ada mau beli sesuatu?" "Untuk apa?" "Untuk isi kamar kos, biasanya anak kos sering beli kopi sachetan, mie instan. Begitu deh." Indi tertawa. "Indi, kamu bisa nggak panggil aku pake nama aja." "Mana boleh, kan nggak sopan." "Kesopanan itu kan dibuat oleh manusia, aku suka kalau kamu panggil namaku. Lagipula umur kita nggak terlalu jauh." Indi terdiam sejenak, "Cato." Jantung Indi berdegub. "Begitu lebih bagus, ulang lagi." "Ab-eh Cato." Indi tertawa lagi, matanya agak sedikit menghilang kalau dia tersenyum, seperti kelinci kecil yang manis. Indi memang manis, wajahnya tidak bosan dipandang. Rambutnya juga sebahu, menambah segar parasnya. Mereka menuju parkiran kedai kopi, naik motor. "Kita keliling-keliling dulu, yuk." Indi mengajak Cato, dia masih belum ingin pulang. Lagipula dia tadi sudah mengirim pesan ke ibunya kalau pulang agak telat, sekali-sekali ini juga. "Nanti ditegur ayah sama ibu kamu." Cato mengerutkan kening. Indi menggeleng, "Udah pamitan." "Aku sih, mau aja." Cato ikut tertawa. Mereka memutari Kota Yogya sekitar tiga puluh menit sebelum akhirnya kembali ke rumah. Cato mengantar Indi sampai ke pintu rumah, dia berpamitan sopan pada Laura yang membuka pintu. Indi terkikik melihat Cato terus menatap mereka dengan posisi berjalan mundur, menghilang ke samping rumah. Ya, kosnya, di belakang rumah Indi. Indi sampai kegelian. "Duh aduh, yang lagi kasmaran sampe-sampe nggak mandang ibu lagi di sini." Laura menggelengkan kepala. Indi memeluk tubuh ibunya. "Ibu ... Ayah udah tidur?" Laura mengangguk, "Besok ada kuliah untuk mahasiswa pasca sarjana." Mereka masuk kerumah, Laura mengambil buket bunga di buffet. "Bunga dari siapa?" tanya Indi. "Dari Cais, dia tadi datang. Mau ngapelin kamu." Indi menghela nafas, "Menurut ibu, aku sebaiknya bilang ke dokter Cais kalau aku kencan sama Cato?" "Cato? Nggak pake embel-embel abang lagi?" Laura melirik. "Cato maunya begitu, panggil nama aja. Tapi gimana aku bilangnya? Toh, Cais belum bilang kalau di suka aku. Nanti aku kayak kepedean lagi." Laura menghela nafas, "Kasihan sih Cais, eh ... memangnya Indi udah yakin banget sama Cato?" Indi membimbing ibunya duduk di kursi depan televisi. Menarik nafas. "Nggak gitu juga, cuma sama Cais biasa aja, bu, nggak ada rasa." Laura tertawa, "Putuskan aja sama kamu, nanti kalau kira-kira ada kesempatan, kamu bilang ke Cais kalau kamu suka sama pria lain. Biar dia nggak berharap, takutnya dia udah terlanjur jatuh hati ama kamu. Nanti malah jatuhnya sakit." Indi hanya mengangguk, sejauh ini, mereka juga belum pernah mengobrol berdua bahkan berkirim pesan. Laura kembali ke kamarnya. Indi masih berbaring di sofa, mengenang obrolan dengan Cato tadi. Dia tersenyum saat melihat ponsel, ada pesan dari pria itu. "Udah sampai rumah?" Indi tertawa. Bukannya tadi dia anter sampe pintu. "Udah sampe kamar malah." ":)" Indi tersenyum melihat emoticon itu, memang sih katanya kalau kita suka sama seseorang tindakannya bagaimanapun membuat kita senang. Tapi, kalau nggak suka, membuat ilfil. Indi mengambil handuk menuju kamar mandi, sebelum beristirahat. *** Tadi pagi Cato mendapat pesan dari ibunya, dia diminta pulang ke rumah untuk makan siang bersama keluarga. Cato bersiul-siul saat menaiki undakan tangga ke kamarnya di lantai dua, dia mau berganti pakaian rumah. "Bang." Cais memanggilnya, dia menoleh. "Nggak ada jadwal?" Cato bertanya, sebagai seorang dokter terkadang Cais harus pergi ke rumah sakit walaupun hari libur. Cais mengikuti Cato ke kamarnya. Dia duduk di ranjang abangnya. "Kenapa?" Cato melirik Cais yang diam, sambil membuka lemari dan mencari pakaian ganti. "Papa minta abang kerja di perusahaan aja." Cato menghela nafas, "Abang nggak cocok untuk pekerjaan kantor." Cato memasukkan kaos melalui lengannya. "Bukannya kerjaan abang sekarang juga di kantor, hanya sesekali ke lapangan?" "Sering, jadi abang punya banyak waktu untuk bepergian." Cato menjelaskan lagi. "Di perusahaan papa, abang juga bisa berbuat sesuka hati abang." "Tapi, abang akan dinilai dan dihakimi. Kamu tau abang nggak suka begitu sejak dulu." "Kalau abang jadi tenaga profesional, mungkin aku nggak berkata begini. Misal abang jadi dokter atau tentara. Toh, abang kerja di swasta, dengan resiko dipecat atau apalah itu." Cais memperhatikan abangnya, sebagai seorang pekerja lapangan dia sendiri kadang iri dengan abangnya. Tanpa perlu banyak olah raga, Cato memiliki tubuh bidang dan liat. Dia juga berkulit kecoklatan dan maskulin, berbeda dengannya yang sedikit berkulit pucat. Cais juga tidak memiliki otot. Semuanya biasa saja. Karena itu, rata-rata wanita akan melihat pada fisik, Indi pun sama saja. Cais mengeluh. "Nantilah abang pikirkan, sekarang abang merasa senang bekerjadi di perusahaan ini." "Abang juga sebaiknya berhenti merokok." Mungkin Cais mengerti alasan abangnya keluar dari rumah, tanpa terlihat rumah mereka punya banyak aturan. Sekalipun sejak kecil Cato dan Cais kerap mengikutinya. "Oke, Pak dokter. Nanti ada masanya." Cato tertawa, dia menyeret kursi. "Terus ...." Karena Cais tampak masih ingin bicara Cato duduk. "Apa?" Cato bertanya. Adiknya itu terlihat tampan walau dengan pakaian sederhana, beberapa wanita yang ada di dekat Cato kerap mengatakan kalau dia sangat tampan. Dia berwajah halus dan berperilaku santun, benar-benar pria idaman. "Kemarin aku ke rumah Indi, katanya abang pergi malam mingguan sama dia." Cato melirik, dia bukannya tidak tahu kalau Cais sedikit menaruh hati pada Indi. Tapi ketertarikan Cais ke Indi hanyalah obsesi semata, bukan sungguhan. Berbeda dari perasaannya. "Iya, abang kan sekarang kos di rumahnya." "Karena itu, kenapa abang mendekati Indi?" Cato mengernyitkan kening. "Lho? Masalahnya di mana?" Cais merengut kesal, dia berdiri. "Udahlah, aku nggak mau membahasnya." Dia bergegas keluar dari kamar Cato. Cato diam saja, dia juga berdiri untuk ikut turun ke bawah. Di ruamg makan ayah dan ibunya telah duduk. "Kalian para anak lelaki selalu terlambat," keluh Prabu. Cais tertawa, "Kami mengobrol dulu, Pa." Dia kemudian duduk di meja makan diikuti oleh Cato. Fatma dengan telaten menyiapkan semuanya, tapi Cato mengambil miliknya sendiri. Di rumah ini seperti ada peraturan kalau wanita melakukan pekerjaan wanita, begitu juga sebelaliknya. Sekalipun ada asisten rumah tangga, ibu merekalah yang selalu menyiapkan nasi ke piring dan lain-lain. Tapi, Cato tidak terbiasa dengan itu, dia bisa mengambil sendiri. "Cato, katanya jabatanmu naik?" Prabu membuka obrolan. "Bukan naik, Pa. Sementara menjadi pelaksana manager, tadinya cuma supervisor." Cato menjelaskan. Di perusahaannya, sangat sulit untuk meniti karir menjadi manager, harus memiliki banyak pengalaman dan prestasi. Makanya Cato bisa direkomendasikan menjadi pelaksana manager sementara itu adalah hal yang cukup hebat, gaji dan grade-nya juga naik. Cato menikmati ikan bakarnya, memperhatikan ibunya makan sangat sedikit. "Mama kurang sehat?" Serta merta Cais dan Prabu menoleh. Fatma menggeleng, "Mama tadi udah makan kue." Cato menghela nafas. Cais berkata, "Papa juga bilang gitu, mama agak kurang sehat sejak tadi malam. Nanti aku periksa." "Kalian terlalu berlebihan, namanya orang tua jelas saja punya beberapa penyakit." "Ma, kita belum terlalu tua." Prabu menimpali, mereka kemudian tertawa. Setelah makan ayahnya berkata harus kembali ke kantor sedang Cais ke kamarnya karena ada beberapa pekerjaan yang diurus. "Cato, ayo ngobrol sama mama." Fatma memanggil anaknya. Cato mengangguk. Mereka duduk di beranda belakang. Fatma menatap anaknya dengan lekat. "Kenapa mama lihat aku kayak gitu?" Cato bertanya. "Kamu sangat mirip ayahmu, mama kadang teringat beliau." Cato mendesah, dia tidak tahu bagaimana wajah ayahnya kecuali dari foto. "Ma, tapi mama nggak boleh bilang begitu di hadapan papa. Kasihan nanti papa jadi kepikiran." Bagaimanapun, selama ini ayah mereka memperlakukan dia dan ibunya dengan sangat baik, sekalipun sejak dulu Cato selalu mengetahui kalau ayahnya itu lebih condong pada Cais. Itu suatu hal yang wajar, mereka diikat oleh darah. Sedang Cato diperlakukan dengan baik sudah cukup, karena Prabu hanyalah ayah sambungnya. "Cato, kamu suka sama Indi?" Fatma langsung bertanya pada anaknya. Cato diam, "Ya." Terdengar suara helaan nafas Fatma, "Cato kan tau kalau Cais tertarik sama Indi, bisa nggak mengalah untuk Cais?" "Terus perasaanku nggak masalah?" Cato menatap lurus ke depan, "Lagipula aku juga nggak tau Indi suka aku atau nggak." "Masalahnya, Cais lebih dulu menemukan Tante Laura dan Indi. Mengundangnya ke rumah." Kening Cato berkerut, "Mama nggak salah? Bukannya mama yang sejak dulu ngelarang aku buat cari ibu asuhku dan Indi?" Fatma diam, "Mama bukannya melarang, papa kamu, beliau sangat peka terhadap masa lalu mama. Beliau nggak mau mama terlalu banyak berhubungan dengan teman-teman mendiang ayahmu." Cato sekarang menghela nafasnya. "Terus ketika Cais ingin, nggak apa-apa?" "Bukan begitu Cato." "Karena Cais yang mengajak mereka, papa diam saja. Mama juga sangat senang karena akhirya bisa bertemu lagi dengan Tante Laura. Semua karena Cais." "Mama cuma minta kamu nggak mengatakan ke Cais, kalau nanti kamu berhubungan dengan Indi." Cato mendengus, "Kenapa gitu?" "Terkecuali kalian sudah sangat serius dan mau menikah." "Bukannya itu sudah terlambat?" Cato memprotes. "Cato, mama cuma nggak ingin ada keributan antara kamu dan Cais. Mama senang, siapa saja yang menjalin hubungan dengan Indi mama sangat bahagia. Karena itu, kalau kamu belum serius dengan Indi, biarkan Cais juga mencoba." Cato menggelengkan kepala, apa mamanya tahu kalau selama ini Cato bukanlah pemain wanita? Kalau dia meyukai seorang wanita, itu artinya dia akan sangat serius. "Aku nggak bisa janji, tapi aku akan memastikan kami nggak bertengkar." Cato berkata. Fatma menganggukkan kepalanya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN