Part 4 Berbeda

1419 Kata
Cais datang ke rumah Indi dengan lili putih di tangannya, dia juga membawa cake dari patiseri terkenal. Setelah mengetuk rumah Indi. Cais menunggu beberapa saat sebelum pintu itu terbuka. Cais tersenyum, dia tidak pernah berkunjung ke rumah seorang gadis sebelumnya saat malam minggu. Ini pertama kali, sejak dia dewasa. "Lho, Cais?" Laura membuka pintu. "Halo tante," sapa Cais. "Ayo masuk." Laura melebarkan pintu rumah, meminta Cais masuk. Cais tersenyum, "Indi ada, tante?" "Wah, dia pergi sama abangmu." Cais terdiam, jadi dia telat selangkah? "Oh." Nada suara Cais terdengar menyiratkan kekecewaan tapi dia menutupinya, dia tidak ingin terlihat menyedihkan di hadapan Laura. "Cais, duduk aja dulu. Tante bikinkan teh hangat." "Boleh tanpa gula, tante." Cais tersenyum. Dia masuk ke ruang tamu dan duduk di sana, buket bunga Cais diletakkan di meja. Lili putih sangat kontras dengan warna meja yang coklat gelap. Cais menyapu ruangan dengan mata, kamar tamu memiliki aquariaum di sudut kanan berseberangan dengan pintu. Juga ada lemari kaca besar yang meletakkan barang-barang pajangan. Di dindingnya tertempel foto keluarga, ayah ibu dan juga Indi. Indi sangat manis, sekalipun Cais banyak bertemu wanita yang lebih cantik dan manis ketimbang dia. Cais sulit tertarik. Mungkin, karena sejak dulu ibunya bercerita kalau ibunya memiliki sahabat yang sangat baik, dia memiliki seorang anak perempuan yang manis. Ibunya sering berkata kalau anak perempuan itu dijodohkan dengan anaknya. Dari situ Cais merasa kalau dia telah ditakdirkan dengan Indi sejak awal. Cais tersenyum saat melihat Laura datang membawa teh tawar hangat. Yah, Cais mengurangi konsumsi gula sejak lama. "Makasih, tante." Laura duduk di sebelah Cais, "Bagaimana kabar mamamu?" "Beliau sangat baik dan sehat." Laura mengangguk, "Syukurlah. Cais, mungkin kamu nggak perlu menunggu Indi dan abangmu, mereka baru pergi setengah jam yang lalu." "Aku mengerti tante," ujar sang dokter. "Bukannya tante ngusir loh, kalau Cais mau santai di sini, tante malah senang." Laura tertawa. "Bu, siapa tamunya?" Ayah Indi keluar dari ruangan. Cais mendongakkan wajah. "Om." Dia segera menyalami ayah Indi. "Cais, om." "Oh kamu, anaknya Fatma toh." Beliau berkata. Cais mengangguk, bahkan ayah Indi mengenal ibunya, pertanda hubungan mereka memang dekat. Hanya saja tahun-tahun terakhir kenapa ibunya jarang bertemu dengan ibu Indi masih menyisakan pertanyaan di benak Cais. "Ayah, kan lagi kurang sehat. Istirahat aja di kamar." Laura berkata lembut. Dengan segera Cais berdiri. "Om sakit, coba saya periksa." Cais menawarkan diri, disambut gelak tawa dari orang tua indi. "Sakit biasa, nggak perlu dokter turun tangan langsung." Laura tersenyum. "Tante antar om ke kamar dulu." Cais mendengar gelak tawa kedua orang tua Indi, hubungan yang harmonis sekalipun sudah tua. Sangat berbeda dengan ayah ibunya, bukannya Cais mau mengatakan kalau ayah dan ibunya tidak saling cinta. Hanya saja, ayahnya terlihat sangat posesif dan menekan sedangkan ibunya selalu menurut karena tidak ingin ada pertengkaran. Ibunya terlihat segan dan manut pada ayahnya. Jarang terdengar gelak tawa seperti itu, sekalipun Cais meyakini cinta ayahnya sangat besar untuk ibunya. Laura muncul lagi di ruang tamu. Melihat Cais masih setia duduk di sana, Cais terlihat sopan dan baik. Yah, dua anak Fatma diyakini oleh Laura adalah pemuda-pemuda yang baik, sekalipun keduanya memiliki kepribadian yang bertolak belakang. "Gimana kondisi tante, apa masih ada keluhan?" tanya Cais. "Setelah operasi sudah jarang sesak, tapi terasa cepat lelah. Beda dengan dulu, begitulah Cais, namanya juga udah tua." "Belum tua, tante." Cais tersenyum, "Kalau ada keluhan, tante nggak usah sungkan menghubungi aku." "Merepotkan kamu saja." Cais menggeleng, "Sama sekali tidak. Lagipula tante teman mama." Cais berkata dengan nada tulus. Laura mengangguk. Setelahnya Cais permisi untuk berpamitan pulang. Menunggu di sana juga tidak ada kejelasan, sepasang manusia pergi malam minggu tidak tahu kapan kembali. Laura mengawasi punggung Cais yang menghilang, masuk ke mobil. Laura berharap tidak ada yang kecewa ataupun sakit hati atas pilihan putrinya nanti. Laura menggelengkan kepala, terakhir kali ada lelaki yang datang ke rumah untuk mengapeli Indi saat dia berkuliah, setelah itu nyaris tidak ada. Membuat Laura sedikit khawatir, tapi suaminya berkata nanti dia akan menjodohkan Indi dengan salah satu mahasiswanya yang baik, seandainya tidak ada yang menarik hati anaknya itu. Sekarang dua pria bersaudara terang-terangan memberi sinyal padanya. Laura menutup pintu rumah saat melihat mobil Cais meninggalkan halaman rumah mereka. **** Cais memasuki rumah keluarganya dengan perasaan kosong, dia bahkan tidak menyadari ayahnya sedang duduk di ruang tengah, menonton televisi. "Cais." Cais segera menoleh, "Papa." Cais duduk di sebelah papanya. Meraih cookies dalam toples. "Dari mana kamu?" Suara pria paruh baya itu terdengar berat, ayahnya berpenampilan cukup proporsional untuk pria seusianya. Beliau bilang, beliau harus tetap menjaga penampilan agar ibu mereka selalu tertarik. Cais kadang tertawa mendengar pernyataan itu, memang sih, ibunya, Fatma selalu jadi bahan obrolan di kalangan koleganya. Karena beliau masih terlihat muda dan cantik di usia segitu. "Malam mingguan, tapi gagal." Cais berkata dengan jujur. Dia menyandarkan tubuh ke sofa, mengikuti gaya ayahnya. Menonton televisi, serial pembunuhan, Cais sangat jarang menonton televisi biasanya. "Kenapa gagal?" "Yah, gadis yang aku incar udah keburu pergi sama cowok lain, Pa." Cais tertawa diikuti oleh ayahnya. Prabu. "Mengejar sesuatu itu harus usaha, Cais. Kau tau gimana papa dulu, banyak usaha yang papa lakukan untuk mendapatkan mamamu." Cais menoleh ke arah ayahnya, memang kalau difilmkan kisah cinta kedua orangtuanya pastilah sangat fenomenal. Jadi ayah dan ibunya telah bersama sejak kecil, tapi ibu Cais menikah dengan pria lain, lahirlah Cato. Suami ibunya, ayah Cato meninggal. Dan ibunya kembali bersama ayahnya, lahirlah dia. Cato dan Cais adalah saudara beda ayah. "Intinya, Pa. Kalau jodoh nggak akan ke mana-mana." Cais tertawa lagi. Dia banyak makan kue manis sekarang melihat ini sudah kue ke-empat yang masuk ke mulutnya, mungkin karena ada sedikit rasa kecewa di hati. "Jodoh tetap haris diusahakan." Prabu terkekeh. "Mana abangmu?" Cais diam saja, "Mungkin malam mingguan." "Cais, kau bujuk abangmu agar dia bekerja di perusahaan kita, perusahaan keluarga, dia akan dapat jabatan tinggi nanti. Daripada dia bekerja di perusahaan rokok saat ini." "Posisi Bang Cato udah lumayan di sana, Pa. Lagipula dia merasa lebih bebas katanya." "Masalahnya, perusahaan ini nanti mau diurus oleh siapa? Kau? Nggak mungkin bukan? Satu-satunya ya harus Cato. Kau bujuklah dia, kalau papa yang bujuk dia pasti menolak. Kau itu adik kesayangannya." Cais hanya tersenyum, "Oke, Pa. Nanti coba aku ngobrol sama abang." "Sebelum ke kamarmu, coba cek kondisi mamamu. Katanya tadi mama kurang enak badan." Cais mengernyit, "Mama sakit?" Prabu menggeleng, "Nggak juga, cuma bilang agak batuk sedikit. Tau sendiri kan kalau mama selalu menjaga pola hidup sehat." Itu benar, bukannya mama yang menjaga hidup sehat, tetapi ayahnya yang menginginkan demikian. Cais berkata lagi. "Baiklah, Pa. Nanti aku akan mengecek kondisi mama." Prabu mengangguk. Cais meninggalkan ayahnya yang masih menonton serial di televisi, baik keluarganya dan keluarga Indi jauh dari kata broken home, semua harmonis dan baik. Ini membuat Cais yakin soal pernikahan. Dia berharap orang yang menjadi istrinya nanti juga mencintai dia sebagaimana mestinya. Hidup bahagia bersama anak-anak mereka. Cais mengetuk pintu kamar ibunya, "Ma, ini aku." Terdengar suara ibunya menyuruh masuk. Cais melihat beliau sedang duduk di pinggir tempat tidur. "Mama lagi apa? Kata papa mama kurang sehat?" Fatma menggeleng, "Kenapa pulang cepat? Katanya mau ngapelin Indi?" Cais duduk di sebelah ibunya, "Indi lagi pergi sama Bang Cato." "Astaga." Fatma menggenggam tangan Cais, menatap lembut ke arah putranya. "Mama nggak mau loh kalian ribut hanya karena perempuan." Cais diam, "Ya ma, aku paham. Tapi, bagaimana ... aku duluan yang suka Indi. Bahkan sejak lama aku mantau akun media sosial Indi karena mama sering cerita. Kan nggak lucu aku ditikung abang lagi." "Lagi? Oh temen adek pas SMA itu?" Cais mengangguk, "Lucu sih, aku sering ajak dia ke rumah tiba-tiba dia malah bilang kalau dia dan Bang Cato saling suka. Cuma saat itu aku mengalah." "Mama lupa, siapa ya namanya?" "Karin." Cais berkata. Tidak disangka dia akan menyebut nama itu lagi. "Oh iya Karin, "Di mana dia sekarang?" Cais menggeleng, "Kami lost contact, dengar-dengar dia juga udah kuliah di luar kota." "Abangmu malah nggak pernah cerita, coba saat itu kamu bilang ke abang kalau kamu suka Karin. Mungkin abang nggak deket sama dia." Fatma menenangkan Cais. Cais merenung, dia memang memutuskan untuk nggak membahas itu ke abangnya. Dia merelakan, lagipula saat itu mereka masih remaja. Cinta-cintaan belum terlalu serius. "Abangmu itu, sayang banget sama kamu. Cais kamu tau nggak kalau abangmu pernah nangis habis-habisan waktu tau kamu dan dia nggak satu ayah." Fatma bercerita. "Mama nggak pernah cerita." "Ya kalian masih kecil saat itu." Cais tersenyum, dia juga menyayangi abangnya. Cuma sepertinya untuk masalah ini Cais tidak mau mengalah ke abangnya. Dia mau memperjuangkan Indi. Lagipula abangnya sejak dulu banyak disukai oleh wanita, dia pasti bisa mencari yang lain. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN