Part 3 Kunjungan

1096 Kata
Cais mengeluh, membuat Fatma seketika menoleh, menatap putra bungsunya. "Apa-apaan Bang Cato." Cais jarang menunjukkan emosi, tapi kalau di hadapan ibunya dia selalu terbuka. Fatma diam saja, dia tahu kalau Cais kesal dengan kelakuan Cato yang mendadak kos di rumah Indi. "Ma, kenapa mama biarin abang bersikap begitu?" Cais bertanya. "Abang udah dewasa, masa iya mama melarangnya." Fatma menarik nafas dalam. "Padahal abang tau kalau aku tertarik pada Indi, kenapa seolah ingin menarik perhatian Indi? Apa nggak bisa mencari perempuan lain? Itu kan keahlian dia. Banyak peremppuan yang suka sama abang." Fatma hanya terdiam, "Udah adek, mungkin abang kamu hanya kebetulan cari tempat yang dekat kantornya. Lagipula, dari yang mama lihat, lebih banyak yang menyukai adek.” “Mama hanya membesarkan hatiku.” Cais bukannya membenci Cato, hanya saja untuk urusan perempuan, entah kenapa mereka kerap setipe sejak dulu. Walaupun belum ada yang serius menjalin hubungan. Sang dokter menghela nafas. Setiap wanita yang dia suka, entah kenapa berbalik menyukai Cato. Apa dia harus menjadi b******k? Lagi-lagi itu pemikiran yang salah, abangnya bukan pria b******k. Hanya saja, dia pintar mencuri hati wanita. Dengan segera Cais mengirim pesan pada Cato, sebaiknya sejak awal dia meminta abangnya untuk menjauh dari Indi. Sebelum mereka saling menyukai. Di perjalanan menuju rumah sakit, Cais menjadi sedikit emosional. Sejak dulu, ibunya kerap bercerita tentang sahabatnya, Tante Fatma. Juga selalu berkata kalau dia ingin Cais menikah dengan anak perempuan Tante Fatma. Rasanya sudah lama, Cais berusaha menjadi yang terbaik di bidangnya. Mencari saat yang tepat untuk muncul, bak seorang pangeran tampan. Sang putri pun akan terkesima. Sayang, tiba-tiba muncul perompak, sang putri malah tertarik pada perompak. Mengabaikan sang pangeran. Kalau memang abangnya berniat menjalin hubungan dengan keluarga Tante Fatma, kenapa tidak dari dulu? Kenapa seketika merayu Indi saat Cais mengundang keluarga itu ke rumah? Motif abangnya perlu dipertanyakan. Cais melihat panggilan telepon dari ayahnya, dia tersenyum. "Ya, Pa?" "Cais, ayo kita makan siang sama-sama nanti." Cais memikirkan sesuatu, bukankah nanti siang dia telah mengajak abangnya makan? Tapi, ayahnya orang sibuk. Makan siang bersama lebih sulit bersama beliau. "Oke, Pa. Nanti aku tentukan tempatnya." Cais mematikan panggilan telepon dan membatalkan janji makan siang dengan Cato. *** Laura tersenyum melihat putrinya, tumben sekali memulas lipstik saat berada di rumah. "Mau ke mana?" Laura bertanya dengan sedikit menggoda. "Nggak ke mana-mana, Bu. Memangnya dilarang berdandan di rumah?" Indi tertawa, dia jelas tahu kenapa ibunya bertanya demikian. "Itu ibu masak gudeg. Sana kamu anterin ke Cato." Indi menatap dengan heran, "Tumben banget ibu kasih makan anak kos." Laura tertawa, "Cato itu udah kayak anak ibu sendiri, kan ibu yang asuh Cato dulu." Indi tertawa, "Iya ... iya ... Apa ibu mau menjodohkan aku sama Bang Cato?" Indi mengerling. Laura seketika tertawa lagi melihat tingkah Indi. "Jangan centil kamu. Baru bertemu udah kesengsem sama Cato." "Kata ibu, kami ketemu udah lama. Apa mungkin sebenarnya dulu itu ada percikan?" "Hush, udah sana. Pusing ibu kalo ngeliat tingkah anak ibu jadi genit begini." Indi merengek manja, "Ibu ... aku nggak genit." "Iya ... iya ...." Belakangan ini rumah mereka kerap dihiasi tawa, jelas hal itu dikarenakan kehadiran Cato. Setiap pulang kerja, Cato kerap beerkunjung ke rumah. Laura bukannya tidak menyadari, sejak dia sakit, Indi sukar tertawa. Dia kerap terlihat murung dan sedih. Saat kehadiran Cato, Indi mulai ceria. Mungkin beberapa tahun belakangan, Indi tidak pernah bertemu teman sebaya. Hanya saja, Laura memikirkan Cais. Bukankah Cais begitu berharap pada Indi? Cais juga terlihat baik. Tapi bagaimanapun perasaan tidak bisa dipaksakan. Indi berjalan riang menuju kamar kos Cato. Mengetuk perlahan. Cato membuka pintu kamarnya, "Indi." Indi menyerahkan mangkok yang dibawanya dari rumah. "Apa ini?" Cato bertanya tapi dia tersenyum senang. "Masakan ibu." "Makasih. Padahal aku nggak keberatan diundang makan di rumah." Cato tertawa kemudian menolehkan kepala ke belakang untuk memeriksa kamarnya. Dia tentu tidak mau Indi menemukan kamar yang berserakan. "Mau masuk?" Indi berpikir sejenak, kemudian menggeleng. Kalau dia masuk tiba-tiba nanti kelihatan terlalu agresif. "Sebentar." Cato berbalik dan kembali dengan membawa mug. Indi tertawa, "Souvenir perusahaan? Thank you, lumayan buat ngopi-ngopi." "Kamu minum kopi?" Cato bertanya. "Sesekali," jawab Indi. "Kalau gitu ..." Cato mengerutkan kening, "Nanti malam mau aku ajak ke kedai kopi nggak? Ada tempat yang enak." Indi sedikit kaget, tapi tawaran itu menarik. Sudah lama Indi tidak nongkrong, apalagi berdua dengan seorang pria. Apalagi nanti malam, malam minggu. Indi mengangguk. ***** Indi mengenakan pakaian casual malam ini, kaus putih dan celana jeans. Laura tersenyum menatap putri semata wayangnya. "Udah lama banget nggak keluar malam mingguan." Laura menggodanya. "Ibu." Indi hanya tertawa kecil, pipinya merah tersipu. Dia bahkan belum memulas blush on. Sudah lama juga tidak berdandan. "Cato udah di luar itu, nungguin." Sontak Indi kaget dibuatnya, "Ibu kenapa nggak bilang?" Laura tertawa, "Kata Cato, dia rela menunggu kamu selesai berdandan." Indi tersenyum, dia sebenarnya bukan tipe wanita yang lama berdandan. Terutama Indi nggak pernah memakai pensil alis, alisnya sudah tebal. Indi menggandeng tangan ibunya, berdua berjalan ke teras. Penampilannya tampak match dengan Cato. Pria itu juga mengenakan celana jeans dan kaos bewarna gelap. Setelah berpamitan, Indi mengikuti Cato ke motor. Cato menyerahkan helm yang masih tampak mulus. "Helm baru?" Indi bertanya. "Dibeli khusus untuk kamu." Indi tertawa, "Jangan bilang kalau motor ini baru pertama kali membawa wanita?" Cato seketika tertawa, "Itu jelas bohong. Sering bonceng rekan kerja, anak SPG, terus juga sering dipinjem yang lain. Tapi ...." "Tapi apa?" Indi bertanya karena Cato lama melanjutkan kata-katanya. "... Bonceng yang spesial baru pertama." Indi tertawa. "Gimana gombalannya?" Cato tersenyum simpul. "Boleh juga." Mereka berdua tertawa bersama, "Ayo naik." Cato memarkir motor di dekat cafe. "Cafe ini lumayan baru, tapi baristanya aku kenal. Dia sudah malang melintang di dunia perkopian.” Indi manggut-manggut, tempatnya juga enak. Walau tidak terlalu tradisional, lebih bergaya modern. Mereka duduk di sudut. "Mau apa?" Cato bertanya. "Pilihkan." Cato memesan affogato dan espresso, juga beberapa makanan ringan. "Mau makan?" Cato bertanya lagi, Indi menggeleng. "Bang Cato, sering ke sini?" "Yah, bersama teman kantor," jawab Cato. "Juga bertemu klien, orang lapangan sering kelayapan." "Tapi menyenangkan bukan, kerja sebagai orang lapangan ketimbang duduk di kantor selama berjam-jam." "Tergantung masing-masing orang, contohnya Cais, dia suka menjadi dokter. Karena jiwanya lembut." Indi tertawa. "Benar juga." Pelayan datang mengantar pesanan mereka. Indi meminum kopinya sedikit. "Enak, apa ini?" "Kopi dicampur eskrim," jawab Cato. Indi mengangguk. "Dulu aku pernah pesan espresso, karena namanya keren, ternyata pahit banget." Cato tertawa, "Tapi aku suka, minumnya langsung diteguk. Lebih terasa inti kopinya." Indi mengangguk, "Aku ingin bekerja lagi. Ibu juga sudah cukup sehat." Cato mengangkat kepala, dipandangi wajah Indi, dia memang manis. "Nanti dicariin lowongan." Indi tertawa, mereka berbincang ringan sambil menikmati kopi dan alunan musik. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN