Indi terus memperhatikan Cais sejak tadi, pria itu tadi telah menjemputnya di kantor dan sekarang mereka makan siang bersama. Walaupun banyak orang berkata kalau Cais adalah tipikal seorang malaikat dan Cato adalah seorang iblis, entah siapa yang menyematkan istilah itu sebelumnya dan Indi tidak menyukai itu. Karena baginya, Cato adalah sosok yang sempurna, begitulah Cato, pria yang dia cintai sekalipun orang lain bersikap baik dan perhatian, tetap tidak bisa mengalihkan perasaannya dari Cato. Justru perhatian Cais membuatnya tidak enakan. Saat ini Cato pastilah sedang merasa kesulitan, sedangkan dia bisa makan dan menghirup udara dengan bebas. Indi merasa hatinya perih. Cais mengambil tisu dan mengelap tumpahan kuah sup di tangan Indi. "Hati-hati." "Makasih Cais, tapi, kamu nggak per

