Esok hari, Diego langsung mengajak Clara ke rumahnya. Berjalan menggandeng tangan perempuan tampak gugup dan ketakutan, Diego menyapa kedua orang tua yang memperhatikan Clara dari atas hingga bawah berulang kali. Tentu saja, Thomas sudah tahu perihal apa dilakukan oleh putranya. Tamparan mendarat keras pada wajah, menganggap jika Diego telah mencoreng nama baik keluarga dengan pergi tanpa kejelasan, padahal pernikahan sudah diatur dan tinggal dilaksanakan. “Duduk!” tegas pria berkemeja biru tua, mengarahkan mata pada sofa panjang. Diego masih menggenggam tangan perempuan sempat ingin berteriak, tapi cepat membungkam mulutnya, mengajaknya untuk duduk. Tangan itu tak dilepaskan, justru dipindah ke atas pangkuan seraya punggung bersandar. “Kami saling mencintai, dan kami sudah menikah. Aku

