Assalamualaikum dan Hallo semuanya...
kembali lagi kita bertemu.Semoga suka sama story saya ya....?
Jangan lupa tekan love nya ya biar Semangat!! nulisnya.. makasih... dan
SELAMAT MEMBACA...
Begitu masuk kedalam mobil,Mila pun tak kuasa menahan tangisnya lagi.Ini untuk yang pertama kali baginya berjauhan dengan keluarganya.
Lina yang memilih duduk di bangku tengah mobil, tepatnya disebelah Mila, merangkul adik sepupu namun rasa adik kandungnya itu untuk menenangkan Mila.Ada sedikit rasa bersalah di hatinya karena telah mengajak Mila ikut dengannya dan tinggal berjauhan dengan keluarga.
" Ini pertama kalinya kamu jauh dari keluarga ya ? " tanyanya dan dijawab Mila dengan anggukan.
" ga apa apa, anggap aja kamu mau pergi liburan.Nanti kalau kamu gak betah disana kamu boleh balik lagi kesini.ya..?." lagi,hanya diangguki saja sama Mila.
"ya udah,jangan nangis lagi dong," bujuknya dan mengapus air mata Mila.
"hehehe.. maaf ya kak, Mila jadi cengeng gini, kayak anak kecil aja." ejeknya pada dirinya sendiri.
" kamu kan emang adik kecilnya kakak " ejek Lina seraya mencubit hidung Mila.
" ihh masih ada ingusnya..." Lina mengangkat dua jarinya yang menempel karena ingus yang keluar dari hidung Mila.
"hahaha..." tawa mereka pada kekonyolan mereka sendiri.
Rizwan yang menyaksikan tingkah istri dan adik ipar sepupunya itu ikut tertawa sambil terus mengemudi.
Dua hari dua malam di perjalanan begitu membuat mereka kelelahan.Terutama Rizwan yang mengemudi,ia harus terjaga sepanjang malam dan istirahat sebentar siangnya ketika mereka singgah di tempat tempat tertentu,seperti Rumah Makan dan tempat tempat rekreasi juga membeli oleh oleh.
Setelah menempuh perjalanan dua hari dua malam,akhirnya mereka sampai dengan selamat di Jakarta. Jika mereka berangkat naik burung besi raksasa,yakni " pesawat ",maka perjalanan yang akan mereka tempuh hanyalah sekitar dua jam saja.
"Nah! Alhamdulillah ya Mila,sekarang kita udah sampai di Jakarta" ucap Lina bersyukur karena sudah sampai dengan selamat di rumah.
" Iya Alhamdulillah ya kak " jawab Mila
Mila berdiri menghadap rumah Lina,memejamkan mata seraya berdoa didalam hatinya meminta kebaikan,kekuatan dan perlindungan dari Allah baginya di tempat baru.Kemudian dia menarik nafas dalam lalu menghebuskannya secara perlahan.
Dia memperhatikan keadaan sekitar. Keadaannya sangat sepi karena memang sekarang ini sudah jam 1dini hari.Namun meskipun begitu dia masih bisa sedikit melihat perbedaan tempat tinggalnya dikampung dengan tempat tinggal Lina yang juga akan menjadi tempat tinggalnya yang baru.(ya jelas lah.. keadaan di Kampung dengan di Kota tentu saja tidak sama alias berbeda hehe).
" Ayo masuk! " ajak Lina. Dia sudah membuka pintunya.Mereka masuk dan mengucap salam bersamaan dan kemudian terdengar sahutan salam dari dapur.Mila menatap Lina seolah bertanya "itu siapa?"
"itu ce' Popon,yang kerja disini " beritahu Lina.Dan Mila mengangguk kecil pertanda dia mengerti.
Begitu masuk rumah,mata Mila melihat sofa yang begitu empuk dan nyaman seolah olah sofa itu menggodanya dan melambai lambai padanya.Merayunya untuk segera mendaratkan tubuh lelahnya disana.Ingin rasanya Mila membaringkan tubuhnya di sofa panjang yang empuk itu namun ia masih menjaga kesopanan dan punya rasa segan pada pemilik rumah yang melakukan perjalanan yang sama dan pastinya sama lelahnya dengannya.Terutama Rizwan sang sopir yang lebih banyak terjaga dan menjaga matanya harus selalu awas melihat jalanan demi menjaga keselamatan para penumpangnya.(sopir bus kalee.... hihi)
Dengan menahan diri agar tidak berbaring,akhirnya Mila hanya menyandarkan tubuh dan kepalanya disandaran sofa.Sementara Lina langsung merebahkan tubuhnya di sofa panjangnya dan meletakkan beberapa bantal sofa sebagai penyangga kepala dan pundaknya.ohh nyamannya....
Untung saja Mila tidak jadi menuruti godaan si sofa padanya.Kalau ia,kasihan Lina dengan kandungannya yang jauh lebih lelah dan membutuhkan kenyamanan dari pada Mila.
" Minum dulu Tehnya neng !.ibu juga, ini saya buatkan air Lemon hangat buat ibu dan bapak."
Kebiasaan Lina dan Rizwan lebih meminta dibuatkan air Lemon campur Madu dari pada Teh manis.
" Makasih ya ce'. Maaf udah ngebangunin ce' tengah malam gini "y
" Ya ngga apa apa atuh bu, ce' juga ngerti si ibu mah pasti capek banget.Apalagi tuh si bapak yang nyupirin dua hari dua malam.iya ngga pak?
" iya nih ce' .besok panggil pak sodik ya ce'." Rizwan memijit tengkuknya kemudian memutar kepalanya kekiri dan kekanan dengan gerakan patah patah sampai terdengar bunyi " Kretak kretak". Pertanda betapa lelahnya dia.(kasiannya. .)
"iya besok ce' panggil dari sini, ce' teriakin dari atas "Pak Sodikkkk!!".dengan setengah teriak dan tangannya diletakkan di kedua sisi mulutnya menggantikan toa.
spontan Lina terduduk dan memberi kode dengan jari telunjuk di bibirnya supaya ce' Popon tidak berisik,takut tetangga terganggu.
"Tengah malam ini lho ce'..."peringatan Lina.
" Biar pada melek deh tuh tetangga.." ucap ce'Popon tanpa rasa bersalah."
" Ada ada aja deh " Lina memukul pelan lengan ce' Popon.
"Iya besok ce' suruh dia kesini"lanjut ce' Popon
.
Rizwan pun berdiri dan mengajak Lina beristirahat di kamar.
Setelah meminum habis minumannya Lina mengenalkan ce' Popon pada Mila begitupun Mila pada ce' Popon.
" Ya udah Mil,mendingan kamu langsung istirahat aja ke kamar kamu.Pegal semua kan badannya.Dua hari dua malam cuma duduk aja di dalam mobil."
" Iya kak "
" Kamar kamu diatas ya.Itu yang dekat dengan tangga."
" Iya kak " (benar benar manut ya....) Mila melangkah kekamar yang di tunjuk Lina.
" Ce' juga istirahat ya.. Ini masih pukul Satu lho."
Lalu Lina pun berjalan ke kamarnya yang ada di lantai bawah.
Sebelumnya kamar mereka berada di lantai atas.Namun semenjak Lina hamil, Rizwan memutuskan pindah ke kamar lantai bawah.Karena Rizwan tak ingin istrinya akan kesulitan jika harus naik turun tangga.Dia tidak mau kalau sampai istri dan calon anaknya sampai kenapa napa.
Sudah banyak usaha yang mereka lakukan untuk mendapatkan anak itu.Berobat kesana kemari konsultasi dengan dokter ini dan itu.Meskipun di periksa berulang ulang hasilnya mengatakan bahwa mereka sehat.Namun mereka baru diberi Anugrah itu setelah menunggu selama Lima tahun.
Dia tidak mau jika ia dan istrinya kehilangan lagi dan lagi.Seperti yang sudah sudah terjadi sebelumnya.Beberapa kali mereka harus merasakan sedih yang memilukan.Bagaimana tidak sedih, jika sebongkah daging yang diharapkan akan berkembang dan menjadi seorang bayi menggemaskan akan tumbuh di rahim Lina.Betapa besar kebahagiaan yang mereka rasakan membayangkan sang bayi lahir ke dunia ini.Menemani dan mewarnai kehidupan mereka.Ada begitu banyak rencana Rizwan jika anaknya lahir nanti.
Namun berulang kali rencana dan impian mereka akan hancur lagi dikalahkan oleh kenyataan karena sel telur Lina tak mampu melakukan proses pembuahan dengan sempurna.
Lina bahkan tidak hanya sekali dua kali menyerah dan menyuruh Rizwan menikah lagi.Tapi Rizwan selalu menolak.
"Ngga apa apa sayang.itu artinya belum rezeki kita.Kita masih bisa berusaha lagi." bujuknya pada istrinya.Di rengkuh dan dibelainya lembut rambut indah milik istrinya dan sesekali juga mengecupnya.
Alangkah terkejutnya Rizwan mendapati kamar mereka berantakan tidak seperti biasanya yang selalu rapi.Tempat tidur sudah lepas dari alasnya yang tergeletak di lantai.Begitu juga dengan bantal bantalnya.Ada beberapa tespek dan Pembalut berserakan,bahkan banyak busa busanya yang sudah keluar dari sarangnya dan beterbangan di udara karena hembusan dari kipas angin.Sementara Lina sang istri tercinta sekaligus pelaku pembuat kekacauan di kamar,Rizwan dapati tengah terduduk nenutup wajahnya dengan kedua lengannya yang di sanggah diatas kedua lututnya yang ditekuk.Tubuhnya bergetar,pertanda ia sedang menangis.
Rizwan pun menghampirinya,dia sudah faham apa yang terjadi disini.
" Padahal baru dua hari kemarin hiks hiks.." sesalnya dalam terisak dan tak sanggup berkata kata lagi.
"Sstt udah, udah ngga apa apa, Kita masih bisa coba lagi nanti." " Ngga apa apa sayang.Itu artinya belum rezeki kita.Kita masih bisa berusaha lagi " berulang ulang hanya itu kata kata yang bisa ia ucapkan untuk menenangkan hati istrinya sekaligus juga hatinya.(siapa bilang dia tak sedih,dia juga sama sedihnya dengan istrinya.Tapi ia harus kuat.
" Tapi sampai kapan da?" " Sudah berkali kali dan bertahun tahun tapi selalu begini" ucapnya sambil terus menangis .
" Udah ,Lina ikhlas. Benar benar iklas kalau uda mau menikah lagi.Carilah wanita yang sehat.Maafkan Lina da,maafkan Lina yang nggak bisa..."
"Sstt udah ! jangan ngomong gitu lagi.Uda nggak suka.Berkali kali juga Uda bilang Uda nggak akan pernah menyakitimu dengan menikahi wanita lain hanya karena masalah anak.Jangan pernah lagi kamu menyuruh Uda menikah lagi sayang..Kita akan terus berusaha dan berdoa supaya Allah mengasihi kita dan memberikan Anugrah itu pada kita."
"Tapi bagaimana kalau itu tidak terjadi sampai kita tua nanti... hiks."
" Sssttt nggak boleh ngomong gitu sayang.. Kita harus percaya Allah itu Maha baik dan kita serahkan semua padaNya ya. Allah akan memberikan yang terbaik bagi hambanya yang selalu berdoa." diciumnya istrinya dari puncak kepala kemudian kening,lalu turun ke pipi dan bibir sampai dia hampir khilaf hilang kendali.Padahal niat awalnya hanya untuk menenangkan istrinya saja.Tapi apa daya ciumanya membangkitkan hasratnya.
"nggak bisa Uda..maaf "katanya menyadarkan suaminya kalau dia datang bulan.
" Eh iya.. Uda lupa... hampir aja kelepasan."ucapnya sambil cengengesan."yaudah Uda mau mandi dulu deh.Jangan nangis lagi,kita harus sabar ya.."
"Hu umm " angguk Lina dan membuat Rizwan gemas dan hampir mengulangi perbuatannya yang tadi sebelum akhirnya ia menyeret kakinya ke kamar mandi.
*****