Rebutan

1816 Kata
Assalamualaikum.... Halo semuanya.. Semoga suka ceritanya ya.... Selamat membaca .... Sayup sayup pendengaran Mila menangkap suara Adzan yang menggema dari Masjid dan Mushalla sekitar kompleks.Dengan mata yang teramat berat Mila membuka sedikit matanya.Karena ia baru saja tertidur Satu jam yang lalu.Entah karena tubuhnya yang terlalu lelah atau belum terbiasa dengan tempat yang baru , matanya begitu sulit untuk dipejamkan hingga akhirnya ia memutuskan melaksanakan shalat malam.Barulah ia bisa tidur setelahnya. Diliriknya jam yang menempel di dinding menunjukkan waktu masih pukul 04.13 wib.Pikirnya ia pasti bermimpi,dan kemudian matanya ia pejamkan kembali.Hingga 10 menit berikutnya, ia mendengar pintu kamarnya di ketuk. Tuk tuk tuk... " Neng !! neng Mila bangun!! shalat Subuh dulu yuk! panggil ce' Popon.Wanita itu mengulangi ketukannya hingga tiga kali ketika dia tidak mendengar sahutan maupun pergerakan dari dalam kamar itu. " Iya ce' " sahut Mila akhirnya,ia ingat semalam kakaknya memanggil wanita itu dengan panggilan ce'. Dan pintu pun terbuka "Udah adzan ya ce'?" tanyanya " Udah dari 15 menit yang lalu neng .." Sejenak Mila teringat dia yang mendengar sayup sayup suara adzan tadi,tapi bukannya bangun,ia malah tidur kembali.Sekarang dia baru sadar dirinya kini berada di Pulau Jawa , tepatnya di kota Jakarta.Dia ingat sekarang Sumatera Barat dan Jakarta memiliki perbedaan waktu adzan sekitar 10 sampai 15 menit dengan Jakarta lebih awal. " Itu artinya adzan yang ku dengar tadi bukanlah mimpi." Bergegas Mila mandi kemudian melaksanakan kewajibannya sebagai Muslim. Setelah selesai dengan Ibadahnya, ia pun turun ke lantai bawah.Aroma wangi masakan tertangkap oleh indra penciumannya lalu ia menuju dapur.Dilihatnya ce' Popon sedang memasak Nasi Goreng untuk sarapan pagi mereka. " Mila bisa bantu apa nih ce'?" " Eh si eneng, ngga usah neng,ce' cuma masak Nasi Goreng aja, ini juga udah mau mateng.. udah. si eneng duduk aja di depan noh.. " tunjuknya ke arah ruang makan dan ruang keluarga yang di gabungkan jadi satu ruangan. " Ngga apa apa ce'.Justru kalau duduk aja, entar Mila jadi ngantuk, terus ketiduran lagi.Tidur pagi itu kan ngga baik buat kesehatan ce'?" ucapnya ramah. Karena ngga bisa dilarang, akhirnya ce' Popon membiarkan saja saat Mila mencuci piring. Biasanya di Kampung, setelah selesai shalat Subuh, dia akan menemani Ibunya belanja sayur mayur ke Pasar.Setelah pulang dari Pasar ia akan menata belanjaanya dan mulai melayani pembeli yang belanja di warung sayur milik bu Santi Ibunya. Lina sudah duduk di depan Televisi menyaksikan ceramah subuh yang dibawakan oleh Ustadzah kondang yang dipanggil Mamah Dedeh favoritnya itu. Sementara Rizwan memilih untuk tidur kembali setelah shalat Subuh tadi.Dia akan nemanfaatkan seharian ini untuk mengistirahatkan tubuhnya sebelum kembali bekerja besok. Belum sempat Lina menyentuh pintu,bermaksud membangunkan suaminya untuk sarapan,Rizwan ternyata sudah lebih dulu membuka pintu. " oh Uda sudah bangun rupanya.Baru aja mau Lina bangunin." ucapnya agak manja. " Cacing Cacing di perut Uda berontak terus minta di kasih makan.Uda jadi ngga bisa tidur." usap Rizwan seraya tangannya nengelus perutnya yang lapar. " Uda melihara Cacing ya didalam perut Uda? jadi kalau Uda makan, bukan buat Uda tapi malah Cacing Cacingnya yang makan." ucap Lina menanggapi candaan Rizwan. Bukan menjawab,Rizwan tertawa dan memeluk Lina dari samping.Mereka berjalan ke meja makan. Diatas meja makan sudah terhidang Semangkok besar Nasi Goreng, irisan Tomat, Timun juga telur ceplok dan telur dadar yang khusus buat Rizwan.Rizwan lebih suka telur dadar dari pada telur ceplok. Juga jangan lupakan kerupuknya.khas orang Indonesia kalau makan Nasi Goreng tidak lengkap rasanya kalau tanpa kerupuk. Setelah selesai sarapan,mereka semua duduk duduk sambil menonton televisi.Termasuk ce' Popon yang ikut menonton setelah selesai membersihkan meja makan dan mencuci piring bekas sarapan tadi . ***** Kini Mila mulai menjalani hari harinya seperti yang sudah direncanakan yaitu membantu Lina di kios baju miliknya yang ada di pasar.Tepatnya pasar Jati Rawasari yang berada di daerah Cempaka Putih Jakarta Pusat. Mila harus bergegas sebelum Lina berteriak memanggilnya. Lina memang baik orangnya,tapi dia sangat disiplin kalau soal waktu.Apalagi kalau menyangkut masalah mencari rezeki. "Mila..!!!"teriaknya dari lantai bawah. Tuh kan baru aja dibilangin... "Iya kak.."sahut Mila yang sudah berada di anak tangga ke tiga dari atas. Rizwan yang takut diomeli oleh istrinya yang cerewet di setiap paginya langsung bergegas mengeluarkan mobil dari Garasi. " huh! Sang Ratu sudah mulai lagi tuh " gerutunya " untung aja sayang,kalau nggak.. Astagfirullah..... " sesalnya karena hampir mengucapkan kalimat yang tidak baik. " Na'uzu Billah... ya Allah..." mengelus dadanya. Pernah beberapa kali Rizwan mengomentari kecerewetan Lina di setiap Pagi mereka hendak berangkat ke pasar.Seperti yang terjadi di pagi beberapa bulan Lina baru membuka Kiosnya. " Ayo cepetan Da... hari udah siang nih.!" gerutu Lina berkali kali saat Rizwan sedang menunaikan hajatnya di kamar mandi. " Sabar dong Lin.... ini nggak mau keluar nih kalau kamu berisik terus disitu." ujarnya. " Ya, lagian dari tadi bukannya di selesaiin dulu urusan buang sampahnya,tiba mau berangkat baru Uda heboh" kesalnya karena dari selesai shalat Subuh suaminya itu hanya sibuk main game di ponselnya. " Hhhhh.."Rizwan menghembuskan nafasnya lemas.. dia kehabisan tenaga karena sesuatu yang begitu mendesak ingin di keluarkan tadi, tiba tiba merajuk tak mau keluar. " Udah! gara gara kamu berisik terus nggak mau keluar dia jadinya." gusarnya seraya tangannya masih mengelus elus perutnya yang masih terasa mulas mulas merajuk, begitu keluar dari kamar mandi. "Ngapain sih adek ngotot banget jualan lagi?.Kan uang yang Uda kasih masih cukup untuk belanja sama kebutuhan sehari hari kita." tanyanya di tengah perjalanan mereka menuju Pasar. "kalau untuk kita sehari hari,InsyaAllah emang cukup Da.Lina juga sangat bersyukur dengan itu.Tapi Lina kan juga pengen punya uang lebih,ya.. walaupun nggak banyak sih.. asalkan kita juga bisa membeli hal lain yang kita inginkan atau kita bisa berlibur.Dan yang lebih penting kita juga bisa bersedekah rutin dan membantu orang disekitar kita yang bisa kita bantu" " Bukannya Lina matre Da,tapi kenyataannya kan, tanpa ada uang, banyak hal yang kita ingin lakukan tapi tertunda bahkan nggak bisa, karena terhalang sama ketidak adanya uang.iya kan?? Boro boro mau membantu orang lain,yang ada justru malah kita yang nyusahin orang Da." " Lina selalu ingat pesan dari Almarhumah Bundo " Jangan takut jika usiamu tua,tapi takutlah jika masa mudamu tak berguna ". "Jadi selagi kita masih muda, dan sehat pula,kenapa harus malas malas mencari uang?" "Tapi uang bukan segalanya dalam hidup ini Dek, dan membantu orang lain juga kan nggak mesti harus dengan uang dek." sanggah Rizwan. " Ya memang uang bukan segalanya Da,tapi nyatanya, dengan banyak uang, banyak hal yang bisa kita lakukan.Tapi uang yang kita dapatkan jangan dimakan sendiri.Karena dari Rezeki yang kita dapatkan, juga ada hak orang lain didalamnya." " Dan memang membantu orang lain juga nggak mesti dengan uang sih,bisa dengan tenaga,fikiran dan doa juga.Tapi terkadang kita juga nggak bisa bantu orang lain dengan tenaga atau fikiran.Maka alangkah baiknya kalau kita bisa bantu dengan uang juga." " Ya tapi nggak usah buru buru juga gini dong.Tiap pagi Adek selalu teriakin Uda.kan malu sama tetangga Dek." masih berkomentar. " hehe maaf kalau soal itu Da.Habisnya Uda selalu aja lama".sungut Lina " Agak siang dikit kan nggak apa apa,Rezeki itu kan nggak kemana mana dan nggak akan ketukar juga." masih berkomentar juga. " Eh jangan.... ntar rezekinya di patok ayam duluan Da..." " ntar pelanggan Lina keburu lari ke pedagang lain.Rezeki itu memang sudah diatur Da,tapi sebagai Manusia yang diberi akal dan tenaga,kita WAJIB berusaha." ucapnya dengan menekankan kata "WAJIB " " hhh..." Rizwan menghela nafas pasrah.Dia selalu kalah kalau beradu argumen dengan Lina yang walaupun hanya lulusan SMA,namun wawasannya cukup luas. ***** " Ayo cepat! oh iya, jangan lupa bawa itu "tunjuk Lina pada sebuah kantong plastik yang lumayan besar.Mereka sempat belanja sedikit kemarin ke pusat belanja Grosir terbesar se Indonesia yakni TANAH ABANG. " Itu pesanan mba Noni sama Bu Limah" tambahnya. Mila yang tubuhnya begitu mungil,yang masih layak jika di sejajarkan dengan anak SMP,membawanya dengan mudah,sama sekali tak merasa keberatan.Karena ia sudah terbiasa membantu ibunya mengangkat belanjaan untuk keperluan warung ibunya. Rizwan yang melihatnya tak tega,buru buru turun dari mobil dan menghampirinya. " Sini biar Uda yang bawa " tawarnya " Ga usah Da, biar Mila aja. Mila kuat kok Da." tolak Mila dengan halus. " Ga apa apa,biar Uda aja,ini berat lho..." " Iya ga apa apa,biar Mila aja Da, Mila udah biasa kok." " Udah, sini!badan kamu yang kecil,nanti malah tambah kecil kalau ngangkat yang berat berat." "Nggak apa apa,Mila udah biasa kok" masih kekeh Lina yang sudah menunggu di dalam mobil, memutar bola matanya jengah menyaksikan adegan tarik menarik,rebutan antara suami dan adiknya di depan pintu rumahnya. Seperti balita yang sedang berebut mainan saja. " Udah dong rebutannya... hari udah siang nih.Udah Mila kasih aja,biar Uda yang bawa.Cepat masuk !" putusnya menghentikan aksi rebutan itu. "Ngapain lagi sih Mila?? " tanyanya heran melihat Mila yang kembali masuk kedalam rumah. " Tapi kakak nyuruh masuk tadi." ujarnya bingung. " Ya Allah. Milaaaa... masuk mobil adikku sayangggg..." gemesnya. " oh... iya ya hmh."menertawakan kebodohannya seraya memukul pelan kepalanya yang tiba tiba jadi eror setelah beradu rebutan tadi.Lina pun geleng kepala melihatnya. Kemudian Rizwan menjalankan mobilnya setelah Mila masuk kedalam mobil. Saat sedang siap siap membuka kios, Bu Limah mampir. " Kok tumben siangan Ni bukanya? tanyanya pada Lina yang dia panggil Uni.( panggilan atau sapaan kakak atau mbak untuk orang minang ). " Iya nih bu,tadi ngurusin anak tetangga dulu yang lagi rebutan mainan " jawabnya sambil melirik kedua orang yang merasa atau tidak kalau dirinyalagi disindir. " oh..eh rajin amat si Uni ngurusin anak tetangga subuh subuh?" tanyanya heran. Lina tertawa dengan tanggapan Bu Limah yang sepertinya percaya dengan ceritanya. " o.iya ini pesanan Bu Limah.warna dan ukurannya sih sesuai sama yang Ibu pesan,cuma motifnya agak beda ngga apa apa ya? Kemarin saya udah keliling nyari motifnya yang sesuai,tapi nggak nemu nemu juga." " Oh nggak apa apa Uni,ini juga saya udah syukur ini mah udah dapat.Ntar siang mau langsung pakek.Tadi saya udah kesini,tapi saya liat masih tutup,jadi saya belanja dulu.Untung Uni udah datang sebelum saya pulang.kalau nggak,bingung saya mau pakai apa ntar Uni ?" " Iya,maaf ya bu saya kesiangan hari ini " ".Eh nggak apa apa Uni.Justru saya yang minta maaf udah ngerepotin Uni sama pesanan saya.Padahal kondisi Uni lagi hamil gede begini.Maaf ya Ni." " Ya namanya juga dagang Bu,ya harus memuaskan pelanggan kan?" " Hehe Iya, eh ini duitnya Ni,makasih banyak ya" "Di jual ya bu bajunya." " Iya saya beli ya bajunya Ni". Bu Limah yang udah faham maksud kata kata Lina sebagai aqad jual beli,sekarang sudah tidak komentar lagi. Jadi dalam jual beli juga ada Aqadnya ya teman teman.. .Bukan cuma Nikah aja aja yang di Aqad in. Dulu sebelum Bu Limah faham,dia sempat komentar " Kok dijual lagi,? ini mau di pakek Uni.." Tapi setelah Lina menjelaskannya baru dia faham dan tidak berkomentar seperti itu lagi. Melihat kepuasan yang terpancar dari raut pelanggannya, merupakan kelegaan dan kebanggaan tersendiri bagi Lina.Sehingga ia selalu terpacu untuk memberikan yang terbaik. Begitu juga dengan para Author,dukungan dari para pembaca memacu dan memberi semangat para Author untuk membuat cerita yang lebih menarik lagi... Terimakasih sudah baca ya....?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN