Episode 12

1893 Kata

Aira menoleh kesamping, adiknya ini sudah entah berapa kali menghela nafas sambil menggerutu panas. Sama seperti yang Dita rasakan, Aira juga merasa panas, karena jujur satu bulan hidup dengan Surayani, membuat kulit Aira yang biasa tahan panas kini sedikit manja. Dita menoleh ke arah kakaknya. "Lo bodoh tau gak," ucapnya ketus. Aira tersenyum, masih tetap hormat di tiang bendera. "Gak ada kata bodoh, berkorban demi adik." "Aku gak mungkin biarin kamu dihukum sendiri," lanjut Aira. Jujur perkataan Aira membuat hati Dita hangat, itu berarti Aira peduli kepadanya. Namun kembali hal itu ditepis olehnya. Ia tak boleh terlena kepada ucapan Aira yang biasa saja. "Ck, sok jadi pahlawan, gue gak butuh dikasihani!" Aira mengabaikan ucapan Dita dan memilih diam, tak ambil hati, itulah yang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN