Ini sudah pukul 03.00 tapi Edward tidak kunjung datang juga. Banyak orang yang mengelilingi lapangan, ntah dari mana mereka mendapatkan info kalo ada pertandingan di hari ini. Aira yang duduk di samping Lia menghela nafas pasrah, ia sudah menduga ini tidak akan terjadi. Edward tidak mungkin datang. Pengecut! Di tengah lapangan Elno memantul-mantulkan bola basketnya. Melihat jam di tangannya, Elno tersenyum miring. Ia melihat ke arah Aira, cewek itu berdiri dengan wajah tajam menatapnya. Elno mendekat, ia berdiri di depan Aira. "Waktunya udah habis. Di sini jelas, sahabat yang lo bela-bela itu nggak datang!" Elno terkekeh, ia melihat dalam ke wajah Aira. "Sesuai janji Edward, dia kalah lo jadi milik gue. Gue mau kita pacaran." Aira menggeram, ia mendorong Elno keras. Tubuh cowok itu sed

