Episode 5

1987 Kata
Berdua di dalam mobil dengan Dita bukan lah pilihan yang bagus menurut Aira. Setelah kejadian di kamarnya waktu itu, Aira kembali canggung untuk duduk berdua seperti ini dengan Dita. Aira menatap jalanan kota Jakarta yang terlihat sangat ramai di hari kerja seperti ini. Gedung gedung pencakar langit mendominasi tepi jalanan ini. Lalu setelahnya ada pondok pondok pedagang kaki lima di tepi jalan. Ah, melihat baraneka ragam makanan jalanan itu mengingat kan Aira dengan teman-temannya dikampung. Dulu, saat Aira lepas gajian ia akan pergi ke tempat tempat seperti itu untuk kulineran, bukan kulineran lebih tepatnya, tapi makan satu makanan saja mengingat ia harus hemat pengeluaran. Aira mengeluarkan hp kentangnya dari saku roknya. Pesan wa kmaren belum di balas oleh teman-temannya. apakah mereka memang marah dengan dirinya karena pergi tanpa pamitan. Aira menghela nafas dalam, dia melihat di jalanan itu banyak anak berseragam sama dengannya, itu berarti sekolahnya hampir sampai. Aira melihat ke arah Dita, adiknya tampak fokus mencari tempat parkir yang baik. Setelah mobil itu terpakir dan membuka seat belt nya, Dita menoleh ke arah Aira. Kakaknya itu masih menatap kagum bangunan sekolah dari kaca mobil yang terparkir. "Cepetan, bentar lagi masuk. Gak usah norak deh jadi orang." Aira tersentak saat mendengar seruan Dita dari samping., Ah karena asik mengagumi bangunan sekolah itu ia jadi lupa bahwa mobil telah lama berhenti. "Iya, tunggu." Aira mengambil tasnya dan menyusul Dita yang duluan keluar. Aira dan Dita beriringan berjalan menuju kelasnya, kata papanya tadi ia kelas 12 IPA 2, berarti sekelas dengan Dita. Aira menatap risih orang-orang yang mentapnya intens. Apa ada yang salah dengan pakaian atau rambutnya. Aira melihat ke arah pakaiannya, oke. Rambutnya, oke. Ohh, atau kerena dia anak baru, ah bukankah itu wajar. Anak baru di sekolahnya dulu tak ditatap seperti ini. Bagaimana ya, tatapan mereka itu seakan terkejut, senyum sinis dan juga berbisik bisik. "Ta, kok mereka liatin kita kaya gitu." Aira berbisik sambil terus berjalan ke arah kelasnya. "Itu karena liat lo yang kampungan." Aira mendengus sebal, selalu kata kampungan, yang dilontarkan Dita kepadanya. "Huh." Aira mendengus sebal ~️️️~ "Hoi, sampai juga lagi." pertama sapaan yang keluar saat ia memasuki kelas 12 IPA 2. Itu Jihan, sahabat Dita satu-satunya. "Ini yang lo ceritain." Aira mengerenyit, memang adiknya ini menceritakan apa tentang dirinya. "Hm'm," gumam Dita sebagai jawaban. Aira mengangguk singkat pada Jihan sebagai sapaan, sambil duduk di kursinya. Aira yangg bingung mau duduk dimana tanpa pikir panjang langsung duduk di bangku sebelah Dita. "Kok Lo duduk disini, tu dibelakang masih kosongkan?" Sungguh Dita tak suka sebangku dengan siapapun. Bahkan Jihan yang notabenenya adalah sahabat, tidak dibolehkan duduk dengannya. Jihan itu duduk di bangku depan, persis di depan mejanya Dita. "Terserah aku dong, ini itu fasilitas sekolah. Papa bayar mahal-mahal itu ya untuk ini salah satunya." Aira menjawab dengan senyuman. Bagi Dita senyum itu sangat menyebalkan. Kalo bukan di sekolah sudah ingin Dita tabok muka kakaknya ini. "Pagi anak-anak." Bu Rahma selaku wali kelas dan merangkap guru fisika mereka datang. "Ibu dengar ada anak baru ya?" para murid yang memang acuh sedari tadi kini celingukan mencari mana anak baru yg dimaksud. Aira dan Dita yang memang duduk dua dari belakang itu sedari tadi tidak di perhatikan oleh murid yang lain. "Saya buk." Aira mengangkat jari telunjuknya, kemudian ke depan kelas setelah dapat suruhan Bu Rahma. "Tak kenal maka tak sayang, tak sayang gak bisa pacaran dong, makanya ayo kenalan dulu." Aira tertawa mendengar perkataan Bu guru di depannya ini. Ah masih jiwa muda toh. "Hai, aku kejora Aira--" Aira menjeda ucapannya, tadi pagi papanya telah mewanti-wanti untuk memperkenalkan diri sebagai keluarga HANZEL. "Kejora Aira HANZEL." Bu Rahma menyambungnya dengan tepat. Sekedar informasi saja papa Dita dan Aira adalah donatur besar di sekolahnya ini. Dan kemaren saat ingin memasukkan Aira ke sekolah ini. Pak Bara meminta langsung agar Dita dan Aira sekelas. "Ha kembaran Dita ya?'' "Iya pantesan mirip." "Itu makanya Dita mau jalan ma dia tadi pagi ya." "Selama ini kemana aja sih?" Bisikan bisikan itu banyak terdengar sehingga membuat suasana kelas ricuh. Aira memandang Dita yang berada di bangkunya, adiknya itu hanya menatap tajam ke arahnya. Apakah salah dengan perkenalannya tadi, bukan dia yang menjelaskan tapi Bu Rahma. "Aira ini memang saudaranya Dita, kata papanya pak Bara, kemarin dia baru pulang setelah sekian tahun tinggal dengan neneknya." Aira mengerenyit heran, kenapa papanya berbohong, ah juga kenapa Bu Rahma seakan meistimewakan keluarga HANZEL. "Oke, Aira kamu boleh duduk." Bu Rahma tersenyum dan kembali mengembalikan suasana yang ricuh tadi dengan menyuruh anak-anak untuk membuka buku mereka. ~️️️~ Nth sudah berapa lama Aira duduk mengamati Bu Rahma yang menerangkan rumus rumus tak dimengertinya di papan tulis, dari dulu pelajaran fisika adalah pelajaran yang paling Aira tidak suka, baginya menghitung buah yang jatuh dari pohonnya adalah lelucon, kenapa tidak sekalian ngitung cinta aku ke kamu, eakkk. Beda lagi kalo pelajaran biologi, bahasa Inggris, Aira jagonya. Ditatapnya Dita yang sudah dari tadi tidur di sebelahnya, Bu Rahma tak menegur padahal gurunya itu tahu bahwa Dita tertidur di sampingnya. "Dit, bangun dong udah bel tuh." Aira menguncang pelan lengan Dita saat bel istirahat berbunyi, sedang Bu Rahma sudah keluar sedari tadi. Adiknya itu tetap dalam posisinya. Tak ada pergerakan terdengar hingga suara Jihan memanggil Dita terdengar dari pintu. "Ditalo harus bangun karena pengeran kuda lo sedang otw kemari." Jihan mengguncang bahu Dita dengan kasar, Dita yang mengerti maksud Jihan menegakkan tubuhnya seketika. Ah, cowok itu tidak pernah absen mengunjunginya. Aira menatap heran Dita dan Jihan. Tadi dia bangunin nggk mau sekarang mendengar pengeran kuda sudah langsung tegak saja tubuhnya. Mata Aira beralih ke arah pintu disana berdiri seorang cowok dengan Hoodie putih sambil tersenyum ramah ke arahnya, ah bukan lebih tepatnya ke arah Dita. Aira berpikir mungkin ini yang dimaksud Jihan tadi, ah Dita pandai memilih pacar dengan kadar ketampanan yang terbilang wah seperti ini. Tapi Aira mengerenyit, bukankah di hampiri pacar seharusnya muka kita itu berseri-seri ya. Ini kenapa muka Dita sedikit geram dan menatap acuh ke arah cowok tadi. "Nggk mau ke kantin Ta?" cowok itu kini tepat berada di depan meja mereka, ah makin dekat makin ganteng teranyata, ah pikiran Aira sedikit khilaf. "Oh iya, lo siapa, anak baru?" Cowok tadi mentap Aira dengan senyuman manisnya, ah kalo tak ingat malu Aira akan berteriak histeris di tatap seperti itu. "Ah iya, aku anak baru." Aira menatap ke arah cowok itu dengan senyumannya pula. "Kenalin gue Rafael leo Aidan " "Dan lo bisa panggil gue Leo aja. ah btw Kelian agak mirip gak sih?" leo menatap Aira dan Dita secara bergantian, mereka mirip, pikirnya dalam hati. "Ya miriplah mereka, Aira kan kakaknya Dita, kembar ." Jihan menjawab nya. "Serius beb? kok kamu gak bilang punya kakak. Mana cantik lagi." Dita memutar bola matanya. "Stop call me bab beb." Dita mendengus sebal, cowok satu ini tak pernah lelah mengejarnya, mereka tidak pacaran, kalo kata Jihan status mereka itu PDKT yang gak kelar-kelar. Gimana mau kelar saat di tembak aja Dita nolak, eh yang ditolak tetap kekeuh dengan perasaannya. Kalo istilahnya mah galon, gagal move on. Bagi Dita Leo tak pernah serius dengan perasaannya, sekedar untuk main-main begitulah pikiran Dita. Leo juga begitu punya pacar sana-sini tapi yang selalu di dekatin Dita. Leo itu playboy, jelas. Primadona sekolah mana yang tidak tertaklukkannya kecuali Dita,itu jelas karena Dita tak akan termakan rayuan gombal receh dari Leo. "Kamu pacarnya Dita?" Aira bertanya, ia heran dengan sikap Dita yang tak manis ke cowok di depannya ini. "Doain aja kakak ipar." Leo terkekeh dengan ucapannya itu, ah manisnya, pikiran Aira mulai ngelantur akibat senyuman cowok ini. "Playboy kayak lo gak akan pernah jadi pacar gue." Aira menaikkan dagunya akibat ucapan Dita barusan, ah playboy? pantas saja mudah ngobrol nyambung dengan seorang cewek. "Ah, Dita mah gitu, gue kan sering bilang playboy gue bakalan hilang kalo lo terima cinta gua." "Kalo sekali playboy, ya tetap playboy!" Dita memutar bola matanya malas, sumpah ia risih di kejar kejar oleh cowok satu ini. ~️️️~ Bel pulang sekolah telah berbunyi 15 menit yang lalu, Aira kini menunggu Dita di lorong sekolah. Adiknya itu tadi pergi ke toilet bersama Jihan tapi seperempat jam menunggu tapi tanda tanda Dita datang belum tampak. Aira melihat ke sekeliling sekolahan sudah hampir sepi, hanya sedikit anak yang tinggal salah satunya anak drumband yang sedang berlatih di lapangan basket. Aira ingin menuju ke toilet untuk menyusul Dita, mungkin saja terjadi sesuatu dengan adiknya itu. Sesampainya di toilet, Aira tak melihat adanya orang di dalam toilet tersebut. Ah, kembali Aira berasumsi mungkin saja Dita menunggunya di parkiran. Sama halnya dengan toilet tadi, di parkiran juga Aira tak melihat Dita. Bahkan mobil yang mereka kendarai tadi pagi tidak ada ditempat. Apa mungkin Dita meninggalkannya. Lalu, Aira pulang naik apa. Bukan karena tak ada duit, bahkan tadi pagi Suryani memberinya uang cash dan kartu kredit untuk jaga-jaga. Tapi masalahnya dia tidak tau alamat pulang, nama daerah rumahnya saja dia tidak tau, mau bagaimana menaiki angkutan umum. Lama Aira berjalan hingga sampai ke gerbang sekolahnya, namun solusi untuk pulang belum juga terpikirkan. Ingin menelpon mama dan papanya, tidak tau nomornya. Begitu juga dengan nomor handphone Alfaro. Ah, bagaimana ini. Aira melihat ke belakang, terdengar suara motor yang mendekat ke arahny. Di balik helm full face pengendara itu, Aira tahu bahwa dia adalah Leo. Cowok yang datang ke kelasnya tadi. Dan lagi di belakang Leo ada pula cowok yang menggunakan motor sport seperti Leo. "Kakak ipar, pulang sama siapal?" Leo bertanya, melihat Aira yang kebingungan dari parkiran tadi membuatnya penasaran. "Gak tau, tadi pagi bareng Dita. Sekarang Ditanya duluan pulang." Aira menatap ke arah belakang cowok yang mengikuti Leo itu tidak membuka helmnya seperti yang kini leo lakukan. Hanya diam dengan mesin motor yang masih menyala, ah Aira berharap bisa melihat wajahnya, siapa tau ganteng seperti leo, eh!!. "Kalo gitu bareng lo aja No." Cowok yang tadi diam, kini menatap Leo dengan kening berkerut bingung. "Kok gue?" suara bass keluar dari mulutnya yang tertutup helm full face ny. "Masak gua? dikira nanti nggk dapat adeknya malah kakaknya diembat." "Ck, naik ojol aja sana." cowok tadi menyarankan Aira untuk menaiki ojek. Aira memutar bola matanya malas, belum pun di suruh dia sudah memikirkannya, tapi yang jadi masalah itu Aira gak tau alamat rumahnya. "Ah, No lo mah gitu sama cewek." "Gue gini sama cewek juga milih milih." dari helm itu Aira melihat tatapan sinis ke arahnya. Aira penasaran bagaimana rupa cowok di depannya ini. "Kamu bisa gak buka helmnya, aku mau liat muka kamu." Aira tak tahan hingga ia meminta cowok itu untuk membuka helmnya. "Mukanya jerawatan besar kakak ipar, makanya gak mau buka helm." Leo terkekeh. "Seriusan?" dengan polosnya Aira percaya yang di ucapkan leo. Leo melongo, ah kakaknya Dita ini polos juga. "Elno lo mau ngantarin gak?" Leo kembali menanyakan kepada elno, sahabatnya itu bernama ELNO WEDA PRATAMA. Sesuai namanya dia anak pertama dari mama papanya. "Malas, lo aja sana." Elno kembali menolak. "Plissss, deh No, nanti kalo gue antarin Dita salah paham lagi, makin nolak gue dia kalo gitu." "Kan lo emang playboy." "Udah-udah." Aira jadi tak enak, ah kalo dia tau alamat rumahnya dia tidak perlu di kasihani seperti ini. "Leo sama--" Aira menunjuk cowok itu, "ELNO, namanya Elno" Leo yang mengerti tatapan Aira menyambung ucapannya. "Ah, Leo dan Elno gak usah antarin aku, maksih tawarannya." "Tapi aku bisa minta tolong gak?" Aira bertanya ke arah leo. "Bantuin apa kakak ipar" "Kamu tau alamat rumahnya Dita kan??" Aira kembali bertanya. "Tentu, apa sih yang nggk gue tau tentang Dita." Leo memang narsis. "Eh, tapi itu rumahnya lo juga kan? Kok nanya?" "Karena aku gak tau nama daerahnya apa, aku kan baru disini." "Kamu catat disini deh." Aira hendak mengambil kertas dan pulpen dari dalam tasnya untuk media catatan alamat rumahnya. Belum sempat dia membuka tasnya, tapi suara Elno membuat heran. "Ck, ribet lo pulang bareng gue." Elno turun dari motor dan menarik tangan Aira ke arah motornya. Seketika Leo cengo melihat tingkah Elno , bukannya tadi dia yang menolak untuk mengantar kakak ipar?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN