Aira duduk kembali di ranjangnya. Pikirannya masih buntu untuk mengingat siapa dirinya dulu, semakin ia mencoba mengingat semakin sakit pula kepalanya.
Baginya mencari sedikit kilasan masalalu itu adalah hal yang penting. Dulu dia hidup dengan normal tak ada perasaan seperti ini yang dulu ia rasakan. Aira kembali menghela nafas ntah ini ke berapa kalinya. Jam dinding sudah menunjukkan jam setengah satu pagi, tapi mata Aira tak kunjung terpejam. Jujur, ia gundah dengan perasaannya, seakan ada sesuatu yang ingin keluar dari isi kepalanya ini.
Aira merasa haus akan kilasan masalalu itu, ia ingin memintanya kembali. Ia ingin melihat seperti apa dulu hidupnya, apa penyebab kecelakaan itu dan apa yang terjadi dulu. Tapi melihat jam dinding menunjukkan hari sudah larut Aira kembali berbaring di ranjangnya.
~️️️~
Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Aira tersentak, ini rekor bangun paling lamanya semenjak ia mulai bekerja banting tulang. Dulu dikampung ia biasa bangun jam 4 subuh, pergi ke tetangga samping rumah untuk membantu membuat kue basah yang akan di titip kan di warung warung terdekat. Lalu setelah membantu tetangganya membuat kue dan mendapatkan upah, lalu pulang dan menyuci bajunya dan nek Asih. selepas itu baru dia berangkat sekolah untuk menuntut ilmu.
Kini Aira telah menunaikan kewajibannya yaitu solat subuh, walau terkesan terlambat tapi tak apalah daripada tidak mengerjakan.
Aira membuka pintu kamarnya, ia bingung ingin melakukan apa.
Tapi kakinya mengayun ke arah dapur disana terdengar suara bik Sumi dan Mamanya yang sedang memasak. Aira diam berdiri, sedang kan Bu Suryani yang mengetahui kehadiran Aira menyuruhnya untuk mendekat, mendaratkan kecupan di kening Aira lalu tersenyum lembut.
Ah, jujur Aira suka dengan sikap manis Bu suryani.
"Gimana kepalanya masih sakit?" Bu suryani bertanya tentang kepalanya yang sakit akibat kejadian ingat mengingat dirinya yang dulu.
"Udah nggak kok Bu." masih Bu panggilan Aira untuk Bu suryani.
"Kok masih Bu Mama dong sayang." Suryani mengusap lembut rambut Aira, tapi kemudian tersadar dia tidak boleh membuat anaknya merasa tak nyaman. Semua butuh proses bukan?
"Eh tapi kalo kamu gak ma--" Aira memotong ucapan suryani
"Ma-ma" ucap Aira yang mendapat pelukan dari suryani. Buk sumi yang melihat itu melebarkan senyumnya, ah dia juga rindu momen momen seperti ini.
"Ma." Dita yang baru datang langsung memanggil Suryani. Mulutnya mengerucut ia tampakkan pagi ini, tak ada yang lebih menyebalkan baginya ketika melihat orang baru bermanja dengan Mamanya.
"Ah iya, kamu mau sarapan apa?" Suryani yang memang tidak menyadari kecemburuan anaknya itu lalu menanyakan ingin makan apa.
"Terserah, asal jangan ada aja brokolinya kek semalam." Mata Dita memandang ke arah Aira dengan tajam, lalu pergi ke arah meja makan.
Aira tau itu sindiran untuknya, tapi kini Aira tidak mengambil pusing dengan itu karena jawaban bagaimana dirinya telah ia ketahui.
Masih ingat dengan Aira yang menemukan buku diary dya tadi malam. Disana ia menemukan jawabannya.
Di buku diary itu dia adalah kakak yang sangat dekat dengan adiknya, Dita. Kini yang menjadi pertanyaan kenapa kehadirannya membuat Dita tak senang. Bukankah dulu mereka dekat?
Kini Aira dan yang lainnya tengah sarapan pagi. Aira melihat Dita yang nampak sangat lahap dengan keju dan roti panggang yang dibuat kan Suryani.
Kesukaan nya masih sama, pikir Aira.
"Besok kamu udah bisa sekolah Ra." pak Bara menatap Aira sambil tersenyum,
"Papa udah masukin sekolah kamu sama dengan Dita, ya supaya kalian pergi dan pulang bareng. Kalo ngasih mobil ke kamu, kan kamunya gak bisa nyetir."
"Iy pa, terimakasih." hanya itu yang Aira ucapkan sebagai balasan. Ia bahagia jika kenyataan ia akan sekolah kembali, tapi mengingat ini tempat baru----membuatnya kembali bimbang.
"Kenapa harus satu sekolah sih!" Dita menggerutu di sebelah sana, meski pelan tapi Aira yang memang duduk disampingnya masih bisa mendengar.
Ah lagi, Dita kembali tidak suka dengan Aira.
"Gak masalah, nanti aku naik angkutan umum aja pa." Aira menolak keinginan bara untuk dia yang berangkat dengan Dita.
"Eh gak boleh dong sayang, kamu kan baru di sini, kalo ke sesar gimana. Betul kata papa mu, kamu perginya bareng Dita."
Aira hanya mengangguk dan tersenyum canggung ke arah Dita. Ah adiknya itu pasti kesal dengan ini.
"Terserah, Dita berangkat dulu!" Dita mengambil tasnya, menyalami orang tuanya lalu pergi ke sekolah. Bahkan saat melewati Aira, cewek itu masih menatapnya sinis.
~️️️~
Kini Aira sedang berkeliling di sekitar rumah, ia sendirian Suryani tadi pamit pergi kumpul dengan teman arisannya. Papanya ke kantor dan Alfaro tentu saja ke kampus.
Aira diam menyusuri lemari kaca dekat tangga, di sana banyak sekali foto masa kecilnya dulu. Foto dengan Dita dan juga Alfaro terkesan mendominasi lemari kaca ini.
Aira tersenyum, wajahnya yang sekarang tidak jauh beda dengan foto masa kecilnya. Dita juga sama, meski terkesan tidak identik tapi mereka memiliki sesuatu yang mirip di wajahnya. Aira kembali berkeliling ke arah halaman belakang, disana ada kolam renang dengan air yang jernih. Ah, seandainya suasana telah berubah ingin rasanya Aira menjeburkan diri ke kolam itu.
Aira bingung dengan hidupnya yang baru ini, terkesan tiba tiba hingga dia bingung ingin melakukan apa. Kadang setan dalam hatinya merayu dan menyuruh nya seperti nona rumah, toh selama ini hidupnya susah. Tapi hati Malaikat kembali berteriak bahwa dia hanya orang baru disini dan bisa saja sewaktu waktu dia di pulang kan kembali ke kampungnya dulu.
~️️️~
Aira sungguh bosan, tadi ingin membantu bik Sumi membersihkan rumah, ditolak keras oleh wanita paruh baya itu. Kini ia sedang di kamar, melihat hp kentangnya yang tergletak tidak ada kuota menambah bosannya. Kalo ada kuota kan dia bisa membuka medsos dan meminta maaf pada teman temannya tidak pamit langsung ke mereka.
Suara pintu kamarnya terbuka, disana berdiri Dita masih dengan pakaian sekolahnya. Aira berdiri dari pembaringannya, tersenyum ke arah Dita dan dibalas dengan tatapan acuh.
"Ni baju lo!" Dita melempar paper bag ke arah Aira. Aira membukanya langsung, disana ada seragam sekolah lengkap. Dan itu terlihat sama persis dengan pakaian yang Dita kenakan.
"Papa yang nyuruh beliin ya, jadi jangan Geer atas kebaikan gua." Dita memang di suruh Bara untuk membelikan itu, mengingat dia dan istrinya sedang sibuk.
"Makasih, Dit." Dita yang dipanggil seperti itu langsung menatap Aira dalam. Ha, bukankah itu panggilan dari Dya satu-satunya. Kenapa Aira bisa ingat, kan katanya hilang ingatan.
"Jangan panggil gue dengan 'Dit'!" Dita mentap tajam Aira. Yang ditatap hanya tersenyum.
"Kenapa? dulu kan aku emang manggilnya gitu." jangan bingung Aira tau dari mana tentang ini, kan dyari itu telah menjawab banyak tentang dia dan kembarannya ini, termasuk nama panggilan sang kakak ke adiknya.
"Lo bohong ya hilang ingatan?" Dita menatap Aira curiga, ia kesal orang di depannya ini mengungkit masa lalu.
"Tadinya aku gak ingat apa-apa, tapi pas udah disini dan ngebongkar isi kamar ini, jadinya aku lumayan ingat." tak ada perasaan canggung seperti pertama bertemu yang Aira rasakan. Melainkan perasaan obrolan seru dengan adiknya.
"Jangan bilang lo--baca buku diary kita---"
"Eh, maksud gue buku diary gue dengan mending dya!"
Memang diary itu milik mereka berdua, bukan hanya Dya saja tapi tulisan dan kekesalan mereka di tulis sama di buku diary itu.
"Kenapa? itu kan buku diary aku juga, kan Dya itu aku, dan masih hidup." Aira membalasnya dengan kekehan kecil di akhir kalimatnya.
Wajah Dita memerah semakin kesal.
Dia benci dengan Aira itu jelas sudah, dan sekarang Aira berani bermain main dengannya. Seakan dia ini memang adik yang harus tunduk ke pada kakaknya.
"Ingat ya kak Dya itu udah mati, lo bukan kembaran gue, lo cuma sampah yang dipungut mama papa gue!"
Setelah mengucapkan kan itu Dita berlalu pergi dari kamar Aira.
Aira menatap datar pintu yang baru di tutup kencang itu. Ia tahu perkataannya tadi seolah dia sok berkuasa di rumah ini. Tapi dia tidak menyangka perkataan sang adik setajam itu kepadanya. Apa benar ia adalah sampah yg dipungut oleh mama dan papanya.
~️️️~
Pagi yang cerah mengawali hari Aira saat ini. Seragam yang diberikan Dita kemarin pas di badannya. Tapi yang menjadi risih itu adalah roknya yang hanya pendek, ia tak biasa dengan pakaian yang terkesan minim. Di sekolah negeri di kampung nya memakai kemeja panjang dan rok yang panjang tapi kini---
Ah sudahlah, Aira turun ke bawah untuk sarapan. Disana semua sudah berkumpul, Aira jadi tak enak karena ditunggu untuk serapan.
"Pagi sayang, udah siap ke sekolah baru?" suryani menyapa dengan kecupan di kening Aira.
"Udah ma," jawab Aira pelan, matanya menatap anggota keluarga yang fresh pagi ini.
" Yaudah Kelian sarapan dulu nanti baru berangkat." yang dimaksud hanya menggerutu tak senang, siapa lagi kalo bukan Dita, adiknya yang satu ini sepertinya benar-benar membenci Aira.
"Gak bareng Abang aja dek?" Alfaro yang melihat gelagat tak Senang Dita, menawarkan tumpangan kepad adiknya itu.
"Kuliah kamu kan beda arah, kalo muter dulu nanti gak keburu. Sama Dita aja gak papakan sayang?" Suryani bertanya sambil menatap Dita yang sedang mengunyah nasi gorengnya.
"Terserah. Asal jangan malu-maluin aja jadi cewek dari kampung." ini adalah sifat Dita, blak-blakan terhadap suatu hal.
Pak Bara yang mendengar itu hanya menggeleng kan kepalanya, anaknya satu ini jelas sekali tak suka dengan kakaknya. Untuk sementara ini memang tidak masalah, mengingat Aira batu datang ke sini.
Sedangkan Aira yang mendengar itu hanya terkekeh pelan.
"Kan emang dari kampung, gimana ngubah faktanya?" ah, berani sekali dia.
Suryani ikut tertawa melihatnya, bukan kah ini sesuatu yang patut di gembirakan. Dari ekspresinya bukan kah terlihat Aira sudah mulai beradaptasi. Suryani harap ini menjadi awalan yang baik, semoga kedepannya menjadi lebih baik lagi.
_