“Sial, ini tidak akan berhasil sama sekali!” Revana memaki dirinya sendiri sambil meletakan dengan kasar pena yang beberapa saat lalu berada di tangannya. Dia mendesah dan bersandar pada kursinya sambil menutup mata. Sandaran kursinya langsung condong ke arah lantai dan Revana menatap ke atas langit-langit. Pandangan matanya menerawang. Elma menoleh ke segala penjuru ruangan, mengamati banyaknya kotak yang tertata rapi di sekitarnya. Ruangan kerja yang terlampau kecil dan tanpa jendela. Kotak-kotak itu berjajar apik hingga menutupi lukisan yang semula dipanjang untuk tujuan keindahan. Lukisan yang dia beli karena dia terpukau oleh kepulauan mist yang berkilauan di mata sang pelukis. Oh, dan ada juga pot bunga yang tertutupi oleh kotak tersebut. Namun yang kedua itu tidak begitu berarti b

