Kantin terlihat sangat sepi hari ini, jelas saja,, pasalnya hampir seluruh siswa-siswi SMA Nusa Bangsa saat ini tengah disibukkan oleh tugas mereka masing-masing
Sementara Geo, cowok itu saat ini sedang duduk melamun dengan tangannya yang sibuk mengaduk-aduk jus jeruk yang ada di depannya. Dengan Aldi yang juga berada di sana, lebih tepatnya duduk di kursi yang berada di sebelah Geo.
"Oh ayolah Ge. Kenapa lo ngelamun mulu sih dari tadi? Tinggal terima aja tawaran dari Bu Rita. Sesimpel itu doang, kenapa jadi lo buat ribet sih?" ujar Aldi setengah kesal melihat tingkah Geo yang tidak biasanya. Terus melamun sedari tadi. "Lagian, gue pikir-pikir juga gak ada ruginya buat lo ajarin dia. Berbagi kan indah Ge, apalagi berbagi ilmu yang bermanfaat, terima aja lagi. Itung-itung buat nambah pahala kan," tambah Aldi lagi, mulai mempengaruhi.
Geo tak memberikan respons apapun selain melirik Aldi sekilas, sebelum pada akhirnya cowok itu menatap kearah segelas jus jeruk yang ada di depannya.
"Gue akan terima tawarannya kalau yang gue ajarin itu bukan cewe," ujar Geo. "Apalagi cewe itu Sava. Gue gak sudi," katanya melanjutkan.
Aldi menggelengkan kepalanya dramatis mendengar jawaban penuh nada angkuh dari Geo.
"Emangnya kenapa sih kalo yang lo ajarin Sava? Orang dia aja sekarang udah gak pernah tuh gangguin lo lagi, kenapa lo masih aja kaya nyimpen dendam gitu sama dia? Lo gak bisa ya damai aja sama Sava. Lagipula juga itu semua udah berlalu. Sava udah gak minat lagi ngejar lo Geo, dia udah sadar sekarang," tutur Aldi menatap Geo dengan alis yang menukik tajam.
Jujur, Aldi sangat tidak suka dengan perilaku Geo yang seperti ini. Entah kenapa, setelah beberapa waktu sudah berlalu, namun Geo sampai saat ini pun masih saja menampilkan perilaku tidak sukanya dengan Savana. Padahal Savana sendiri sudah tidak pernah lagi mengganggu Geo. Tapi, cowok itu masih saja tetap mengungkitnya. Dan menjadikan semua itu alasan akan ketidaksukaannya kepada Savana.
"Lo jangan kira gue gak tahu semuanya Geo. Kita udah pernah bahas ini semuanya sebelumnya, jadi jangan berlagak sok mau jauh-jauh sama Sava," lanjut Aldi lagi.
"Jaga omongan lo Aldi!" tukas Geo tak suka. "Jangan bahas sesuatu yang belum jelas kebenarannya," ujarnya.
Aldi tersenyum miring mendengar perkataan Geo. Ah, sahabatnya yang satu itu memang selalu saja meninggikan gengsi dan harga dirinya. Tolong ingatkan Aldi nanti untuk memberitahu Geo bahwa dengan gengsi yang dimilikinya, Geo tidak akan pernah bisa menemukan jawaban atas segala kebingungan cowok itu. Geo tidak akan pernah bisa memiliki apa yang cowok itu inginkan di dalam hatinya.
Karena sesungguhnya, gengsi itu hanya akan menjadi benalu dalam diri Geo, dalam hidup cowok itu.
"Terserah lo aja. Gue cuma lagi berusaha buat ingetin lo doang sebagai temen, kalo lo tetap keras kepala kaya gini, ya itu udah keputusan lo sendiri. Yang jelas, kalau aja nanti lo baru sadar bahwa apa yang lo lakuin ini adalah sebuah kesalahan, jangan cari gue lagi. Gue gak mau pusing-pusing mikirin orang keras kepala kaya lo," ujar Aldi geram. Memperingatkan kepada Geo yang hanya diam saja mendengarkan. "Lagipula, bagus juga kalau nantinya Sava jadi sama Reno. Lebih terjamin kebahagiaannya nanti. Reno aja udah nge-treet Sava like a queen. Kalo lo mah apaan Ge," kata Aldi meremehkan Geo di akhir.
"Gak usah banyak bacot," ujar Geo menampilkan wajah datarnya. "Gue udah terima tawaran Bu Rita tadi. Lo juga denger sendiri," lanjutnya.
"Iya sih emang," Aldi mengangguk-anggukkan kepalanya membenarkan. "Tapi lo tadi mulai goyah, mulai gak yakin sama keputusan lo dan berniat mau ngebatalin itu kalau lo lupa."
"Berhenti bicara omong kosong Aldi. Lo sama sekali gak membantu," geram Geo terlihat mulai kesal karena merasa dirinya terus saja ditekan oleh perkataan Aldi.
"Up to you Ge. Intinya jangan cari gue kalo lo udah sadar bahwa apa yang saat ini sedang lo sangkal adalah sebuah kenyataannya," pasrah Aldi pada akhirnya. Cowok itu mulai lelah berdebat dengan Geo. Sahabatnya yang satu itu terlalu keras kepala dan kaku. Tidak suka mengalah dan tidak ingin disalahkan.
Ngomong-ngomong yang Aldi dan Geo bahas saat ini adalah perihal Geo yang dimintai tolong oleh salah satu guru biologi di SMA Nusa Bangsa untuk membantu Savana dalam belajar biologi. Guru tersebut bernama Bu Rita.
Kata Bu Rita, Savana memiliki nilai yang sangat buruk pada mata pelajaran biologi, padahal di mata pelajaran lain nilai gadis itu sangat tinggi. Bahkan hampir semuanya mendapat nilai A.
Hanya mata pelajaran biologi saja yang mendapatkan predikat C karena nilainya yang bahkan berada di bawah KKM.
Guru biologi tersebut benar-benar sangat menyayangkan hal itu mengingat Savana sebenarnya adalah seorang yang pintar. Dan hanya karena mata pelajaran biologi saja, nilai raport gadis itu menjadi sedikit goyah.
Flashback on
Aldi sedang berjalan mengendap-endap beberapa langkah di belakang Reno dan Savana yang nampak sedang sibuk mengamati sekitar mereka. Diikuti dengan Geo yang berdiri di sebelah Aldi dengan langkah malasnya.
Mengikuti Savana dan Reno adalah ide dari Aldi yang sangat tidak Geo minati. Cowok itu terlalu malas untuk melakukan semua ini karena merasa semuanya tidak berguna dan tidak ada manfaatnya untuk Geo.
Ingatlah bahwa Geo adalah salah satu tipe manusia yang tidak suka membuang-buang waktu berharganya hanya untuk urusan tak jelas seperti ini. Hanya saja, daripada cowok itu sendirian di dalam kelas tanpa Aldi dan Reno, maka dengan terpaksa akhirnya Geo menerima tawaran Aldi yang mengajaknya mengikuti Savana dan Reno secara diam-diam. Meski sebenarnya Geo benar-benar sangat malas dsn tidak minat dengan semuanya.
Namun, secara tiba-tiba. Saat ditengah-tengah kegiatan Aldi dan Geo mengikuti Reno dan Savana. Tiba-tiba kedua laki-laki tersebut dihampiri oleh salah satu guru yang ada di SMA Nusa Bangsa. Beliau adalah Bu Rita.
"Geo! Aldi!" panggil Bu Rita yang berhasil membuat tak hanya Aldi dan Geo berhenti melangkah. Namun juga dengan Reno dan Savana. Bahkan mereka berdua dengan kompak menoleh kebelakang begitu mendengar suara Bu Rita yang memanggil nama Geo dan Aldi.
"Eh Bu Rita," ujar Aldi membalas dengan cengengesan begitu menyadari kalau suara keras Bu Rita saat memanggil namanya dengan Geo berhasil membuat dirinya tertangkap basah sedang mengikuti Savana dan Reno secara diam-diam. Terbukti dari Savana dan Reno yang tiba-tiba saja berjalan mendekati Geo dan Aldi yang sudah berdiri di hadapan Bu Rita. "Ada apa ya Bu kalau saya boleh tahu?" tanya Aldi melanjutkan dengan suara sopannya.
"Oh enggak. Saya ada urusannya sama Geo," jawab Bu Rita yang membalut Aldi memasang senyum kecutnya diam-diam.
"Ya kalau ada urusan sama Geo kenapa pake segala panggil-panggil nama gue anjir," ujar Aldi yang tentu saja hanya bisa berkata lewat hatinya.
"Ada apa Bu?" tanya Geo langsung saat mendengar jawaban yang diberikan Bu Rita kepada Reno.
"Oh itu, kebetulan lagi ada Savana juga kan disini. Jadi Ibu ini cuma mau minta tolong aja sama Geo untuk bisa ajarin Savana mata pelajaran biologi ya? Nilai Savana kurang di mata pelajaran biologi, jadi Ibu mau Geo tolong bantuin Savana belajar biologi ya?" kata Bu Rita langsung menyampaikan maksudnya memanggil Geo tadi.
Savana yang juga benar-benar sedang berada di sana dengan Reno yang berdiri di sebelahnya pun seketika langsung terdiam kaku.
Diajari oleh Geo? Savana benar-benar dibuat bingung ingin berekspresi seperti apa.
Sava ingin senang saat mendengar gadis itu akan diajari Geo, tapi rasanya Sava malah harus sedih karena Geo pasti tidak akan menyetujuinya.
Sementara itu, Aldi yang masih berdiri di sebelah Geo pun langsung menyenggol lengan tangan Geo dengan refleks karena melihat Geo yang terdiam dengan pandangan yang rumit.
"Ya Bu," hanya itu saja yang berhasil keluar dari mulut Geo. Namun entah kenapa berhasil membuat hati Savana membuncah bahagia. Pun dengan Aldi yang tiba-tiba menyunggingkan senyuman puasnya.
Berbeda dengan Reno yang malah tengah dihadapkan dengan rasa khawatirnya kepada Savana begitu mendengar jawaban persetujuan dari Geo. Reno tidak menyangka, temannya yang satu itu akan menyetujuinya dengan mudah. Tanpa membutuhkan waktu lebih lama lagi untuk berpikir
Reno ingin mencoba berpikir positif atas jawaban Geo yang menyetujui untuk mengajari Savana. Reno ingin berpikir bahwa mungkin saja Geo memang murni ingin mencoba membantu Sava. Namun nyatanya Reno tidak bisa, cowok itu tidak bisa mencoba berpikir positif. Pikiran tentang niat buruk Geo pada Sava membuat Reno waspada seketika.
"Bu Rita, gak bisa ya kalo orang lain aja? Jangan Geo," kata Reno tak lagi bisa menahan untuk bertanya. Reno benar-benar tidak ingin Geo yang mengajari Savana. Firasat Reno cukup buruk tentang ini.
"Apa-apaan sih lo Ren. Orang Bu Rita mintanya Geo kok, kenapa lo yang kelihatan kaya gak setuju gitu sih? Sava aja anteng-anteng aja tuh di tempatnya," ujar Aldi menatap Reno tak suka.
"Gue gak tanya lo," singkat Reno tak ingin memberikan jawaban yang panjang.
Bu Rita terlihat mengulas senyumnya tipis. "Gak bisa Reno, pemegang nilai biologi tertinggi kelas 11 di sekolah ini ya Geo. Bahkan anak olimpiade biologi aja kalau nilainya sama Geo," ujar Bu Rita memberikan pengertian kepada Reno. "Maaf ya sekali lagi. Memang harus Geo langsung yang ajarin Savana, itu juga udah pilihan langsung dari beberapa guru," katanya.
Bu Rita lalu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Ya sudah kalau begitu. Ibu cuma mau ngomongin itu aja, karena Geo sudah setuju. Jadi Ibu langsung pamit undur diri dulu ya. 15 menit lagi acara pembukaan dies natalis SMA Nusa Bangsa bakalan di mulai. Kalian juga cepet-cepet ke lapangan ya nanti," kata Bu Rita.
"Iya Bu, siap!" hanya Aldi saja yang menjawab dengan semangat. Sementara Aldi, Geo dan Savana terlihat sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Entah apapun itu yang saat ini sedang mereka pikirkan, yang jelas Aldi yakin bahwa yang sedang mereka pikirkan pasti tidak akan jauh-jauh dari perihal tentang apa yang baru saja Bu Rita sampaikan. Tentang Geo yang akan menjadi guru pengajar pembantu mata pelajaran biologi untuk Savana.
Bu Rita lalu langsung beranjak pergi meninggalkan mereka di tengah-tengah koridor itu. Lalu, tak lama setelah Bu Rita pergi meninggalkan mereka, Geo terlihat langsung ikut beranjak pergi ke arah kantin sekolah, yang tentu saja langsung Aldi ikuti di belakang cowok itu.
Tak sampai satu menit setelah Geo dan Aldi pergi meninggalkan koridor sekolah, Reno juga ikut beranjak pergi dengan arah yang berlawanan dengan arah Geo pergi tadi, diikuti dengan Savana dibelakang cowok itu."
Flashback off
Meja kantin yang diisi oleh Geo dan Aldi sangat hening sekarang, tak ada lagi yang berniat membuat suara setelah Aldi memilih pasrah karena lelah berdebat dengan Geo.
Di tengah-tengah keheningan yang ada di meja yang mereka tempati, suara bel tanda akan adanya pengumuman tiba-tiba saja berbunyi.
Teng! Teng!
"Ditujukan kepada seluruh siswa-siswi SMA Nusa Bangsa untuk segera berkumpul di lapangan sekolah guna melaksanakan acara pembukaan dies natalis SMA Nusa Bangsa yang akan segera di mulai."
Teng! Teng!
Setelah pengumuman tersebut selesai, Aldi segera berdiri dari duduknya, menatap Geo yang masih duduk dengan tenang di tempatnya.
"Ayo, lo gak mau telat dateng ke lapangan sekolah dan berakhir di hukum kan Ge?" ujar Aldi mengajak.
Geo melirik Aldi sekilas kemudian menghembuskan napasnya lelah sebelum pada akhirnya cowok itu ikut berdiri dari duduknya.
"Gue akan coba pikirin lagi nanti," ujar Geo tiba-tiba saja yang berhasil membuat Aldi kebingungan dibuatnya..
"Maksudnya?" bingung Aldi yang tidak mendapatkan jawaban sama sekali karena Geo yang tiba-tiba saja langsung berlalu pergi meninggalkan Aldi yang tengah terdiam cengo karena perkataan Geo satu menit yang lalu.
Entah apa maksud dari perkataan Geo itu, Aldi tidak paham sama sekali.
Tak ingin ambil pusing dan memikirkan lebih lanjut perkataan dari sahabatnya itu, Aldi memilih untuk langsung melangkah menyusul Geo yang sudah beberapa langkah di depannya.
Urusan perkataan Geo itu bisa Aldi pikirkan nanti saja. Yang terpenting sekarang adalah Aldi tidak terlambat datang ke lapangan sekolah.
***
Seorang laki-laki dengan seragam SMA nya tengah berdiri di depan kaca yang ada di dalam kamar mandi sekolahnya. Cowok jangkung itu terlihat menatap wajahnya sendiri dengan tatapan yang tajam dan penuh dengan kelicikan di dalamnya.
Tangan cowok itu merogoh saku celananya, mengambil ponselnya yang ada di sana kemudian menyalakannya.
Jari-jari tangannya terlihat sibuk menari di atas layar ponselnya, menekan ikon galeri dan menekan salah satu foto yang ada di sana.
Senyuman miring tiba-tiba saja terukir di bibir cowok itu, tak lama setelahnya terdengar seringaian iblis terdengar keluar dari mulutnya.
"Sebentar lagi, kita akan kembali bertemu. Anak kecil," ujar cowok tersebut dengan suara rendahnya seraya jarinya sibuk mengelus-elus layar ponselnya yang masih menampilkan foto seorang gadis di dalamnya.
Laki-laki misterius yang tidak jelas identitasnya akan segera muncul, tak ada yang tahu siapa yang laki-laki itu cari dan mau apakah laki-laki itu. Yang jelas, laki-laki itu tidak memiliki niat yang baik. Untuk siapapun seseorang yang akan atau ingin ditemuinya.