Acara perayaan ulang tahun SMA Nusa Bangsa akan dilaksanakan pada hari ini. Semua siswa siswi SMA Nusa Bangsa tanpa terkecuali saat ini sedang disibukkan oleh acara pembukaan perayaan ulang tahun sekolah yang akan berlangsung selama satu minggu ini.
Karena acara perayaan ulang tahun sekolah ini akan berlangsung selama satu minggu, maka bisa dipastikan bahwa selama satu minggu itu pula para siswa-siswi SMA Nusa Bangsa akan dibebaskan dari kegiatan belajar mengajar.
Ya, benar-benar semuanya tanpa terkecuali. semua warga sekolah SMA Nusa Bangsa ikut berpartisipasi dalam keberlangsungan acara ini agar berlangsung dengan baik dan kondusif, sesuai dengan harapan mereka. seluruh warga sekolah benar-benar bergotong-royong untuk mensukseskan acara perayaan ulang tahun SMA Nusa Bangsa ini. bukan hanya anggota osis saja yang bekerja untuk membantu mensukseskan, namun semuanya ikut membantu.
Pada pagi-pagi buta, di SMA Nusa Bangsa sudah sangat terlihat ramai. Beberapa siswa-siswi perwakilan dari kelas sudah datang ke sekolah untuk mewakili kelas mereka dalam mensukseskan acara. Terlebih yang memiliki jabatan di kelas seperti ketua kelas, wakil ketua kelas, sekretaris 1 dan 2, bendahara 1 dan 2, serta yang menjabat sebagai seksi-seksi nya.
Sementara untuk anak osis, kemarin malam mereka semua menginap di sekolah tanpa terkecuali. Ditemani pula dengan anggota PMR sekolah. Untuk siswa-siswi lain yang bukan merupakan anggota OSIS, PMR dan tidak memiliki jabatan di kelas. Mereka semua akan berangkat ke sekolah seperti hari normal biasanya. Namun meski begitu, mereka juga tetap akan ikut berpartisipasi dalam mensukseskan acara perayaan ulang tahun SMA nusa bangsa ini. Karena masing-masing dari kelas yang ada di SMA nusa bangsa sudah diberikan tanggung jawab masing-masing untuk mensukseskan acara perayaan ulang tahun SMA nusa bangsa, dan tanggung jawab itu harus dilaksanakan seluruh warga kelas bersama-sama dengan bergotong-royong dan saling membantu.
Jadi, tidak akan ada 1 siswa siswi di SMA Nusa Bangsa pun yang tidak ikut berpartisipasi dalam membantu mensukseskan acara perayaan ulang tahun SMA nusa bangsa.
Saat ini, Savana sudah berada di kelasnya, gadis itu terlihat sangat sibuk dengan beberapa alat dan bahan yang akan dijadikannya sebuah kerajinan yang tentu saja kerajinan itu berkaitan dengan perayaan ulang tahun sekolah.
Kelas Savana mendapatkan tanggung jawab mengenai perayaan ulang tahun sekolah berupa hiasan untuk pelengkap pada perayaan ulang tahun sekolah. Hiasan yang akan dibuat kelas Savana ini akan dijadikan sebagai pameran kecil yang memang akan ada selama acara perayaan ulang tahun sekolah berlangsung. Hiasan atau kerajinan yang akan dibuat kelas Savana ini akan dijadikan sebagai simbol karya yang yang dibuat oleh siswa-siswi SMA nusa bangsa.
Bisa dibilang bahwa hasil kerajinan yang dibuat oleh kelas apa itu dapat mewakili seluruh kerajinan-kerajinan yang dibuat oleh siswa-siswi SMA nusa bangsa.
Sebenarnya bukan tanpa alasan kelas Savana diberikan tanggung jawab untuk perihal hiasan atau kerajinan. Semua itu ada alasannya, dan alasannya adalah karena kelas Savana terkenal dengan siswa-siswinya yang kreatif dan inovatif. Serta siswa-siswi kelas Savana yang sangat senang bergotong-royong dan saling membantu, sehingga dapat diyakini bahwa hiasan atau kerajinan itu akan dapat selesai bakat hanya dalam beberapa jam saja. Karena memang, sekolah lupa untuk memberi tahu perihal adanya suatu pameran kecil saat perayaan ulang tahun sekolah.
Jika diberikan kepada kelas lain, tanggung jawab ini belum tentu akan dapat diselesaikan. karena waktu yang sangat mepet, dan karena belum tentu kelas lain bisa sama seperti kelas Savana yang sudah terjamin kesolidaritasan nya.
"Lula Lula. Tolong ambilin selotip yang ada di belakang lo dong Lempar ke gue sini coba," ujar salah satu laki-laki yang merupakan warga kelas tersebut.
Tak ingin banyak bicara dan mendebat, bola sodok saja langsung melaksanakan apa yang laki-laki itu minta. Gadis itu langsung menengok ke belakang dan mengambilkan selotip yang ada di belakang tubuhnya. Lalu, gadis itu melemparkannya ke arah laki-laki tersebut sesuai dengan apa yang laki-laki itu minta.
"Thanks ya La," ujar laki-laki itu tak lupa untuk berterima kasih kepada Lula.
"Yoi," jawab Lula dengan santai. Lalu gadis itu kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda tadi.
Saat ini, Lula sedang membuat tas dari bahan-bahan seadanya. Dibantu dengan beberapa teman perempuan kelasnya yang lain. Sementara Savana, gadis itu saat ini sedang sibuk membuat bunga dari plastik dan kertas. Gadis itu membuatnya sendirian karena menurutnya membuat bunga dari plastik dan kertas tidak sulit. Setidaknya tidak sesulit membuat tas seperti yang Lula lakukan.
Maka dari itu, Savana meminta teman-temannya untuk membantu Lula membuat tas saja ketimbang membantunya membuat bunga dari plastik dan kertas.
Selama hampir setengah jam, Savana sendiri akhirnya menyelesaikan tugasnya. Bunga yang Savana buat dari plastik dan kertas sudah selesai. Ada 10 tangkai bunga di sana dengan warna yang berbeda beda dari bahan plastik. Dan ada sekitar 15 tangkai bunga lagi dengan warna yang juga berbeda-beda dari bahan kertas.
"Sava udah selesai buatnya nih. Ada barang lain yang perlu dibuat nggak? Biar Sava coba buatin kalau Sava bisa. Biar cepat selesai juga," ujar Savana mengundang perhatian seluruh anak-anak penghuni kelas itu.
"Masih ada satu lagi Sava yang belum," jawab Ayu, teman kelas Savana. "Itu, buat rajutan. Kamu bisa nggak?" lanjut gadis itu sembari menunjuk kain, benang dan alat serta bahan lain yang biasa digunakan untuk membuat rajutan.
Mata Savana menatap mengikuti arah jari Ayu menunjuk. Di sana dapat Savana lihat sudah ada lengkap semua alat dan bahan yang biasa digunakan seseorang untuk membuat sebuah rajutan.
Savana lalu beranjak berdiri dari tempatnya, mendekati alat dan bahan membuat rajutan itu kemudian mengambilnya.
Ah, Savana dulu pernah diajarkan merajut oleh Mama Sania. Mereka berdua pernah merajut bersama. Bahkan itu terjadi selama beberapa kali. Dan sedikit banyaknya, Savana masih ingat bagaimana caranya merajut.
"Ya udah, Sava ambil ya. Sava coba buatin sesuai contohnya," ujar Savana. "Sava bisa kok buatnya, insyaallah," lanjut gadis itu kemudian.
"Iya Sava, kamu buat aja," jawab Lula menanggapi. "Makasih ya by the way, kamu cepet banget kerjanya," tambahnya kemudian.
Savana hanya tersenyum saja menanggapinya, lalu gadis itu kembali duduk dan langsung mengerjakan rajutannya.
Waktu berlalu begitu saja sampai tak disadari, 2 jam sudah berlalu. Semua hiasan dan kerajinan yang dibuat kelas Savana sudah selesai sepenuhnya. Ada tas dari bahan seadanya yang dibuat Lula dan beberapa teman kelas mereka, bunga dari plastik dan kertas yang dibuat Savana, Rajutan yang juga dibuat Savana, Vas bunga dari bahan plastik yang dibuat beberapa gadis di kelas mereka untuk bisa dijadikan tempat bunga Savana, ada lampion juga yang dibuat oleh siswa laki-laki yang ada di kelas mereka.
Semuanya sudah selesai, kelas dengan penuh kesolidaritasannya itu pun juga sudah selesai dibersihkan. Alat dan bahan yang masih tersisa sudah dirapihkan sedangkan sampah-sampah dan barang-barang yang sudah tidak berguna juga sudah dibuang.
Sekarang, hanya tugas terakhir kelas Savana untuk hari ini adalah untuk mengantarkan seluruh kerajinan yang sudah dibuat pada hari ini ke ruangan yang dijadikan sebagai tempat pameran kecil.
"Yang cowo-cowo. Gih pada angkat terus taruh semua kerajinannya ke ruangan sanggar, udah di tungguin sama anak-anak OSIS," kata Andi mengkomando. Cowok itu baru saja kembali dari kumpul ketua kelas.
Dengan bergotong royong, sebagian anak laki-laki langsung membawa kerajinan itu menuju ke ruang sanggar, seperti apa yang sudah dikatakan Andi tadi.
Setelah semuanya benar-benar selesai dan kerajinannya juga sudah diantarkan. Tanggung jawab yang diberikan pada kelas Savana hari ini sudah resmi selesai. Dan para warga kelas tersebut sudah diperbolehkan untuk bersantai atau berjalan-jalan sesuka mereka. Karena mereka sudah tidak memiliki tanggungan karena sudah menyelesaikan tanggung jawabnya dengan sangat baik.
"Lula, aku mau samperin Reno ke kelas dia dulu ya. Kamu mau ikut nggak?" ujar Savana berpamitan sekalian menawari Lula untuk ikut bersama gadis itu kalau saja Lula menginginkannya.
Lula menoleh, menatap Savana. "Enggak deh Va. Kamu aja yang kesana, hati-hati ya," jawab Lula menolak dan berpesan kepada Savana untuk berhati-hati.
Savana mengangguk paham saja menanggapinya. Lalu tangan gadis itu terangkat, melambai kepada Lula.
"Bye Lula, Sava ke kelas Reno dulu yaa," pamit gadis itu lalu langsung keluar dari dalam kelasnya untuk pergi ke kelas Reno.
Oh ya, ngomong-ngomong, tadi pagi Savana berangkat bersama dengan Reno seperti biasanya. Mama Sania juga sudah pulang ke rumah kemarin malam pada jam 10.
"Hai Sava," sapa salah satu gadis dari dalam kelas Reno begitu gadis itu sampai di depan kelas cowok itu.
Gadis itu segera keluar dari dalam kelasnya untuk menghampiri Savana yang masih berdiri di depan kelas itu.
Ah, ingatkah kalian bahwa sebelumnya Savana begitu gigih untuk mengejar dan mendapatkan hati Geo? Karena hal itulah Savana menjadi banyak dikenali di SMA Nusa Bangsa. Selain itu, Savana juga banyak dikenal karena berteman dekat dengan Reno yang merupakan sahabat dari Geo, si most wanted sekolah.
Savana juga dikenal karena kecantikan gadis itu serta berita kepindahannya yang menyebar ke sekolah apalagi saat awal kepindahannya itu, Savana sempat menjadi korban bully dari Raisa. Jadi, Savana tak heran lagi jika banyak dari siswa-siswi SMA Nusa Bangsa yang mengenalnya. Meski Savana sendiri tidak mengenal balik orang-orang itu.
Ngomong-ngomong soal Raisa, Savana sudah lama tidak melihat gadis itu. Saat pembullyan yang dialaminya hari itu adalah saat pertama dan terkahir kalinya Savana melihat Raisa. Kabar yang Savana dengar sih, katanya Raisa dipindahkan ke sekolah lain untuk sementara waktu agar gadis itu bisa mendapatkan banyak bimbingan di sana. Di sekolah Raisa yang satu itu, memang berisi banyak anak-anak nakal yang pembangkang dan suka membully. Intinya, itu memang khusus untuk anak-anak pembuat onar di sekolah.
Raisa berhasil mendapatkan hukuman seperti itu bukan hanya karena Raisa membully Savana saja. Tapi karena selama ini Raisa sudah banyak membully siswa-siswi lain di SMA Nusa Bangsa. Dan baru karena kasus Savana ini, Raisa mendapatkan hukumannya karena baru di kasus inilah ada yang berani melapor kepada guru-guru SMA Nusa Bangsa.
Terlebih saat itu Lula melaporkan kejadian pembullyan yang Savana alami kepada wali kelasnya dan langsung ditanggapi dengan baik oleh wali kelasnya itu.
"Halo," jawab Savana sedikit kikuk karena gadis itu yang tidak mengenal nama gadis yang saat ini ada di hadapannya.
Gadis itu hanya memberikan senyuman maklum saja. Dari apa yang dia dengar, Savana memang sedikit kurang mudah bergaul dengan orang asing, kadang-kadang. Meski begitu, hanya butuh waktu sebentar saja untuk bisa membuat Savana merasa nyaman dan mau berteman dengan orang-orang baru.
"Kamu dateng kesini mau cari Reno, Geo atau malah cari Aldi nih?" tanya gadis itu langsung yang membuat Savana sedikit terkejut mendapatkan pertanyaan itu.
Dengan membawa-bawa nama Geo. Bagaimana mungkin Savana tidak terkejut karenanya. Ya, meski sejak kedatangan Geo di rumah Reno sabtu kemarin bersama Aldi, Savana sudah memutuskan untuk tidak lagi berusaha menjauhi pertemuannya dengan Geo karena Savana sendiri sadar, lingkungan Savana dan Geo saling berdekatan, mereka bahkan satu lingkungan di sekolah dan satu teman dengan Reno.
Akan sangat sulit untuk Savana menghindari pertemuannya dengan Geo. Itu akan sangat merepotkan untuk Savana. Jadi, gadis itu bersikap selayaknya pada normalnya saja. Dia tidak akan menghindari pertemuannya dengan Geo, namun juga tidak akan berusaha untuk mendekati Geo.
"Cari Reno," jawab Savana setelahnya. "Reno nya ada?" tanya gadis itu kemudian.
"Oh Reno ya? Ada kok," jawab gadis yang sampai saat ini pun belum Savana ketahui namanya. "Bentar ya, aku panggilin dulu," Savana mengangguk mengiyakan. Kemudian gadis yang ada di depan Savana tadi mulai kembali memasuki kelas Reno.
Tak lama setelah masuknya gadis itu ke dalam kelas kembali, Reno terlihat keluar dari dalam kelas itu. Menghampiri Savana yang masih setia berdiri di depan kelas Reno.
"Sava, tumben kesini. Ada apa?" tanya Reno langsung saat cowok itu sudah berada di hadapan Savana.
"Gak apa-apa Ren, Sava cuma bosen aja di kelas," jawab gadis itu dengan jujur. "Kamu sendiri kenapa di dalam kelas terus Ren? Memangnya tugas kelas kamu belum selesai ya? Padahal, acara pembukaan dimulai jam 10 nanti loh. Itu aja udah di undur, aturan kan di pengumuman awal jam 9, tapi gara-gara masih banyak kelas yang belum selesaikan tugasnya jadi di undur itu acaranya," papar gadis itu terus menyerocos.
"Lagian, kalau ceritanya kaya gini mah gak bisa ada yang disalahin ya Ren. Pihak sekolah, anak-anak OSIS sama anak-anak MPK juga banyak kerjaan lain, mungkin lupa ngabarin, lupa ngumumin atau gimana, yang namanya manusia juga kan, lupa itu hal wajar," lanjutnya. "Tapi juga kita kan gak bisa salahin anak-anak kelas yang tugasnya belum selesai juga ya. Soalnya pengumumannya yang telat. Mungkin beberapa dari anak-anak kelas lain banyak yang salahin anak-anak OSIS, pihak sekolah, anak-anak MPK gara-gara masalah ini. Tapi kalo buat Sava mah, itu bukan salah mereka ya."
Reno tersenyum menanggapi perkataan Savana. Sahabatnya itu, memang selalu memang selalu berusaha untuk menghargai usaha orang lain. Dan Reno sangat senang karena itu. Savana benar-benar membawa aura positif untuk orang-orang terdekatnya. Dan Reno yang sudah bersahabat dekat dengan gadis itu sudah benar-benar merasakan aura positif yang Savana bawa.
"Iya, aku sepemikiran sama kamu Va," jawabnya. "By the way, kelas aku udah selesai kok tugasnya Va. Tadi cuma kebagian bantuin nata-nata kursi di depan panggung aja. Sama bantuin angkat-angkat barang bentar tadi yang cowo-cowo," kata cowok itu melanjutkan.
"Oalah, bagus deh kalo gitu. Aku soalnya mau ajak kamu jalan-jalan keliling sekolah, lihat-lihat sekitar sekolah aja gitu," ujarnya. "Kan sekeliling sekolah udah dihias untuk satu minggu ke depan tuh. Tadi kelas sebelah ini juga hiasannya bagus gitu, aku mau lihat kelas-kelas yang lainnya Ren," lanjut gadis itu.
Memang, selama pekan perayaan ulang tahun SMA Nusa Bangsa, seluruh tempat termasuk kelas-kelas diwajibkan untuk dihias. Dan yang menghiasinya adalah siswa-siswi dari kelas itu sendiri. Waktu menghias dilakukan pada hari minggu kemarin, Savana pun juga ikut serta. Reno, Aldi dan Geo juga demikian. Yang jelas, semuanya benar-benar dikerjakan bersama-sama. Kerja sama tim kelas sangat dibutuhkan disini.
Ngomong-ngomong, cara siswa-siswi tersebut menghias kelas pun tidak sembarang. Masing-masing kelas biasanya memiliki tema yang berbeda-beda. Dan itu membuat kelas-kelas tersebut terlihat semakin menarik dengan berbagai tema.
"Oh, kamu mau ngajak aku lihatin sekitaran sekolah?" ujar Reno. "Ya udah ayo aku temenin. Tapi sebelum itu, aku mau pamit sama Geo sama Aldi dulu ya. Kamu mau ikut masuk atau tungguin aku disini aja?" tanya Reno menawarkan.
Savana menggeleng pelan. "Enggak. Aku tunggu kamu disini aja Ren," jawab gadis itu yang langsung diangguki Reno.
"Ya udah, baik-baik deh kamu kalo gitu disini, aku masuk kelas dulu ya," izinnya kemudian berlalu pergi meninggalkan Savana di depan kelasnya sendirian.
Reno langsung mendatangi Geo dan Aldi yang sedang duduk di pojok kelas berdua. Kedua temannya itu saat ini sedang bermain game di ponselnya. Sebelum Savana datang pun, Reno tadi juga sedang bermain game di ponselnya. Sama seperti apa yang dilakukan Geo dan Aldi sekarang.
"Woi, gue mau cabut dulu," ujar Reno langsung berpamitan.
"Cabut kemana anjir, orang acara pembukaannya diundur nanti jam 10," sahut Aldi menanggapi.
"Temenin Sava keliling sekolah, di mau lihat-lihat suasana sekitar katanya. Kan kelas-kelas pada dihias tuh, nah dia pengen ngelihat," ujar Reno.
"Berduaan doang sama Sava?" tanya Aldi.
"Ya menurut lo aja sih," jawab Reno acuh tak acuh. "Dah lah. Gue udah ditungguin Sava di depan kelas, kasihan dia sendirian, orang gue balik kesini tadi cuma niat mau pamitan doang, kenapa jadi gue kaya diintrogasi. Gak banget," lanjut Reno lalu langsung berlalu pergi dari hadapan Geo dan Aldi.
Sepeninggalan Reno, Aldi langsung meletakkan ponselnya di atas lantai begitu saja. Cowok itu juga langsung menoleh menatap Geo yang masih terlihat fokus pada layar ponselnya.
"Eh Ge. Reno sama Sava lagi jalan berdua tuh. Kita ikutin aja yuk," ide Aldi yang membuat Geo langsung mengalihkan pandangannya dari layar ponsel untuk menatap Aldi dengan tatapan yang sulit diartikan.
Aldi memasang senyuman evilnya saat melihat tatapan yang didirikan Geo itu. Lalu dengan segera cowok itu berdiri dari duduknya.
"Ayo!" kata cowok itu