CHAPTER 49

2321 Kata
Sepanjang menonton film, Savana hanya diam saja. Dari awal sampai akhir, gadis itu sama sekali tidak bersuara. Gadis itu hanya sesekali saja berteriak saat hantu yang ada di film tersebut muncul. Savana terus bersembunyi di belakang bantal sofa yang gadis itu pegang. Jujur saja, gadis itu sebenarnya merasa takut, namun di sisi lainnya gadis itu juga sangat penasaran. Savana memang penakut, apalagi kalau soal hantu. Namun anehnya, meski takut dengan hantu, gadis itu sangat gemar sekali menonton film horor. Menonton film horor seperti sudah menjadi kebiasaan Savana sedari dulu. Sedari gadis tersebut duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar. Gadis itu sudah mulai gemar dengan hal-hal yang berbau horor, terlebih adalah film horor. Sejak dulu, Savana dan Reno sering kali menghabiskan waktu mereka untuk menonton film horor bersama. Dan tentu saja semua itu bisa terjadi karena Savana yang mengajak Reno. Reno sendiri merasa tak enak hati untuk menolak ajakan Savana, lagipula Reno sendiri pun juga sedang tidak memiliki kegiatan lainnya, jadi Reno pikir tak ada salahnya untuk menemani Savana menonton film horor. "Sekarang..., enaknya kita ngapain lagi ya?" tanya Aldi seraya kakinya berselonjor santai di atas karpet bulu yang ada di ruang tamu rumah Reno. "Pulang," sahut Reno yang baru saja datang dari dapur sambil membawa nampan yang berisi 4 gelas minuman dingin lalu meletakkannya di atas meja yang ada di hadapan Aldi dan Geo yang sedang duduk dengan santai di karpet bulu ruang tamu tersebut. Tak lama setelah kedatangan Reno, Savana menyusul di belakang Reno dengan membawa nampan yang berisi beberapa kaleng snack. Kemudian gadis itu meletakkan nampan yang dia bawa itu di sebelah minuman yang tadi Reno bawa. "Wah wah, pake repot-repot segala tuan rumah," ujar Aldi disertai senyuman lebarnya. "Kalo gini kan enak Ren. By the way, makasih ya neng Savana cangtip," lanjut cowok itu yang dihadiahi lemparan tutup kaleng snack dari Reno yang memang baru saja membuka tutup kaleng snack yang tadi Savana bawa. "Kalo sama gue gak ada akhlak, giliran sama Sava aja di puji-puji. Emang gak punya adab lo Al," gerutu Reno mencibir Aldi yang hanya memasang senyum sok polosnya. "Gue yang tuan rumah disini, tapi makasihnya cuma Sava doang. Anjim!" tambahnya membuat Aldi tak kuasa menahan ledakan tawanya. "Bwahaha," tawa Aldi terdengar ke seluruh penjuru ruang tamu rumah Reno. "Justru itu, karena lo tuan rumahnya, maka lo emang wajib melayani tamu. Sedangkan Sava? Dia kan bukan tuan rumah, tapi dia bisa mau berbaik hati ngebantu lo siapin ginian buat gue sama Geo, itu berarti patut banget gue kasih apresiasi berupa ucapan terimakasih," oceh Aldi yang berhasil membuat Reno mendengus kesal. "Temen lo emang mulutnya lemes banget Ge, nemu dimana sih lo?" ucap Reno dengan suara pelan. Cowok itu kini tak lagi menatap Aldi, Reno mengabaikan Aldi dan memilih untuk mengajak Geo berbicara karena sedari tadi Reno perhatikan Geo selalu saja diam. Ya, meski memang biasanya juga selalu seperti itu sih. "Gak tau. Lupa. Gak penting juga," jawab Geo berturut-turut dengan santai. "Anak anj-," umpat Aldi kesal mendengar jawaban yang Geo berikan atas pertanyaan Reno. Sial sekali memiliki teman yang asal ceplos dan bermulut tajam serta pedas seperti Geo. Sama sekali tidak bisa diajak kompromi memang. "Gitu lo ya sekarang, oke! Gue tandain lo berdua," ujar Aldi sedikit dramatis sembari menatap Reno dan Geo dengan tatapan seolah-olah sedang terluka. "Gue mah sekarang bestie-an sama Sava aja udah. Lebih adem ayem, no debat no kecot," tambahnya membuat mata Reno melotot kecil mendengarnya. "Siapa yang kasih izin lo temenan sama Sava? Gak ada ya! Bawa pengaruh buruk ntar lo sama dia, enak aja! Udah gue jagain dari lama, udah gue sayang-sayang dari jaman gue sama dia sama-sama masih orok, lo seenaknya aja mau ambil dia," protes Reno menatap Aldi tak suka. Sementara itu, Aldi malah menampilkan senyum kemenangannya. Ternyata masih sama. Masih Savana yang menjadi tahta tertinggi untuk seorang Reno. "Waduh, masih harta tahta semua tentang Sava ternyata si Reno Ge! Gawat banget gak sih?" ucap Aldi memasang wajah sok terkejut dengan mulut melongo dan telapak tangan cowok itu yang berada di depan mulutnya, ala-ala seorang yang memang baru saja terkejut akan sesuatu. Geo hanya diam saja tak bereaksi. Hanya menatap Savana dan Reno dalam diam. Tak ada yang tahu apa yang sedang cowok itu pikirkan. Benar-benar tidak tertebak sama sekali. "Bacot lo Al. Jangan mulai masalah baru, gue gak mau pusing lagi mikirin jalan keluarnya, udah bagus-bagus kaya gini aja," tegur Reno kepada Aldi karana takut apa yang cowok itu katakan bisa menimbulkan satu masalah baru antara Geo dan Savana. Sungguh, Reno tidak ingin hal itu kembali terjadi. Atau Reno akan benar-benar pusing memikirkan bagaimana jalan keluar untuk masalah mereka. "Ya sorry deh. Gue kan niatnya cuma bercanda doang," ucap Aldi dengan santai. "Yang lo maksud bercandaan itu bisa jadi masalah serius kalo orang itu gak bisa nangkep maksud omongan lo b**o!" ujar Reno memaki Aldi di akhir. Aldi tidak merasa sakit hati atau tersinggung dengan makian yang dia terima dari Reno. Mereka berteman sudah cukup lama, makian seperti itu sudah biasa untuk mereka. Aldi tahu betul itu hanya makian candaan atau pelengkap kalimat saja. Bukan suatu hal yang serius yang dapat membuat Aldi merasa marah. "Iya Ren iya. Gue kan udah minta maaf juga barusan," ucap Aldi menatap Reno sejenak sebelum akhirnya mengalihkan tatapannya untuk menatap kearah Geo berada. "Lo gak anggep serius omongan gue kan Ge? Gue gak ada maksud memicu masalah baru atau ngebuat lo nyusun rencana baru buat jahatin Savana lagi kaya yang udah-udah. Gue beneran murni cuma bercanda aja, gak ada maksud lainnya lagi," tutur Aldi menjelaskan kepada Geo. Anggukan singkat yang diberikan Geo akhirnya dapat membuat Aldi maupun Reno setidaknya bisa bernapas sedikit lebih lega. "Gue masih bisa bedain yang mana candaan yang mana seriusan," papar Geo dengan tatapan yang terus mengarah pada Savana yang sedang menundukkan kepalanya dalam. "Gue rasa, selama kedatangan gue kesini. Ada satu orang disini yang merasa gak nyaman sama kedatangan gue. Apa, kedatangan gue ada ganggu dia?" ujar Geo tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang seketika saja mampu membuat Savana menegang di tempatnya. Reno sendiri ikut terdiam seketika, cowok itu langsung menatap Savana dan Geo bergantian. Begitu menatap kearah Geo, Reno baru sadar bahwa ternyata sedari tadi cowok itu masih terus saja menatap Savana. Tak salah lagi, memang Savana yang Geo maksud. "Eh, gak gitu kali Ge. Si Sava cuma ngerasa gak enak aja itu sama lo," sahut Reno dengan cepat menyangkal, cowok itu langsung mengklarifikasinya. Tak ingin Geo salah paham dengan Savana. Ya, meskipun sebenarnya apa yang Geo ucapkan ada benarnya juga sih. Memang pada kenyataannya Savana sedikit merasa tidak nyaman dengan kedatangan Geo. Namun demi kebaikan, rasanya Reno memang harus dengan segera menyangkal apa yang Geo katakan. "Iya, dia pasti emang gak enak sama lo. Takut juga ditambah soal ngerasa gak nyaman sih emang bener," timpal Aldi ikut-ikutan menambahkan. "Secara, lo inget sendiri kan gimana kejamnya lo dulu campakin dia gitu aja. Gak pernah lo anggap kehadirannya, gak pernah lo pedulikan usahanya, gak pernah lo gubris perlakuannya," kata Aldi lagi yang tanpa sadar malah memperkeruh suasana. Reno menggeram rendah karenanya. Sebenarnya ada apa dengan Aldi hari ini? Kenapa cowok itu terus saja memperburuk keadaan dan seperti ingin memicu permasalahan baru. "Shut up Aldi!" sentak Reno sudah tertahan, cowok itu sudah merasa sangat geram dengan Aldi. "Ada apa sama lo hari ini? Kenapa terus aja memperkeruh keadaan? Lo sadar gak kalo apapun yang lo omongin hari ini itu benar-benar memperburuk semuanya. Seenggaknya, kalo lo gak tahu caranya saring omongan. Mending diem aja deh. Jangan asal ngomong kaya gitu!" omel Reno pada Aldi dengan menahan kekesalan yang sudah menumpuk. Dengan sekuat tenaganya, Reno berusaha untuk tidak meledak pada Aldi. Reno tak ingin kalau sampai cowok itu sendiri juga yang menyebabkan suatu masalah baru. Antara Reno sendiri, dengan temannya. Savana langsung mendongak begitu mendengar suara Reno yang tertahan itu. Savana sangat tahu dan paham betul. Kalau Reno sudah seperti itu, berarti cowok itu memang sudah merasa sangat kesal atau emosi. Dan jika tidak segera ditenangkan, maka Reno pasti bisa saja akan meledak di detik itu juga. Kapanpun dan di manapun itu. Savana meringsut mendekati Reno, kemudian menarik dengan pelan lengan cowok itu. Memundurkannya dan membuatnya sedikit lebih jauh dari Aldi. "Ren..., Aldi temen kamu loh. Jangan marahan kaya gitu, gak baik buat pertemanan kalian," ujar Savana mencoba menenangkan Reno. "Aldi juga cuma bercanda doang kok, aku aja paham kalo dia lagi bercanda, dia gak lagi serius Ren. Buat apa kamu marah sama dia? Dia gak ada salah apapun kok," lanjutnya lagi setengah berbisik. Reno masih tak memberikan reaksinya, cowok itu sebenarnya tidak sedang emosi berlebihan kepada Aldi ataupun marah kepada cowok itu. Reno hanya sedang merasa kesal saja dengan Aldi. Aldi terlalu berlebihan saat bercanda. Tidak sadarkah Aldi siapa yang sedang cowok itu ajak bercanda? Dia Geo. Cowok kaku yang tak pernah bercanda sama sekali. Reno benar-benar merasa hanya takut, kalau saja apa yang Aldi katakan sebagai candaan itu dianggap serius oleh Geo. "Coba atur nafas dulu deh Ren. Biar lebih tenang juga," saran Savana kemudian yang langsung dilaksanakan oleh Geo. Cowok itu langsung mencoba mengatur napasnya. Menghirup oksigen dengan panjang, dan menghembuskannya secara perlahan. Reno melakukan itu berulang kali sampai cowok itu merasa bahwa dirinya sudah lumayan tenang. "Udah lebih tenang kan?" tanya Savana dengan perhatian penuh terpusat pada Reno. Kepala Reno mengangguk kecil mengiyakan. Memang benar, Reno merasa sedikit jauh lebih tenang daripada tadi. Hanya Savana saja yang berusaha untuk menenangkan Reno. Begitulah kenyataannya. Padahal Savana sama sekali tidak ikut campur mengenai obrolan mereka tadi. Namun, Savana jelas tak akan membiarkan sahabatnya seperti tadi kan? Lagipula juga, Reno mengatakan itu semua untuk membela dan menyelematkan Savana, meski Savana tak pernah meminta Reno melakukan itu, namun semua usaha Reno yang diberikan untuk Savana jelas saja harus Savana hargai. Aldi malah hanya diam saja di tempatnya. Entah apa yang ada di pikiran cowok itu, yang jelas Aldi tak memberikan reaksi apapun sedari tadi. Hanya diam menikmati kekesalan Reno. Sementara Geo, mata cowok itu kini sudah beralih untuk melirik kecil ke arah Aldi. Tatapan yang diberikan Geo untuk Aldi menimbulkan tanda tanya besar bagi siapapun yang melihatnya. Karena jelas saja, dari tatapan Geo untuk Aldi seperti menyimpan sebuah rahasia dan Geo sama sekali tidak berusaha untuk menutupi sebuah rahasia itu. Padahal jika Geo ingin, cowok itu bisa menyembunyikannya. Ingat, Geo sangat pandai bermain ekspresi. Kalau untuk sekarang, Geo malah terkesan seperti ingin sengaja menunjukkan adanya sesuatu yang sedang Aldi sembunyikan. Ah, sepertinya memang hanya geo yang mengetahui kenapa Aldi menjadi seperti ini. Buktinya Savana dan Reno malah menatap Geo dan Aldi dengan tatapan bingungnya. Tapi, ada satu tatapan lain di mata Reno, cowok itu memicingkan matanya, menatap curiga kearah kedua sahabatnya. "Gue lihat-lihat, kayanya ada yang aneh dari lo berdua," ujar Reno setelah lebih tenang. Nada bicara cowok itu juga sudah kembali normal. "Geo, kayanya lo udah tahu ya apa yang ngebuat Aldi kaya gini, apa yang ngebuat Aldi terus ngomong ngelantur dari tadi," lanjutnya kemudian. Geo nampak langsung menghendikkan bahunya acuh. "Menurut lo aja," kata cowok itu singkat. Reno menghela napasnya lelah. Memang harus ekstra sabar menghadapi Geo. Dan ternyata sekarang sahabat Reno yang satu lagi yaitu Aldi malah harus membuat Reno menambah stok kesabarannya. Hanya Savana saja yang terus kalem dan menurutinya. "Terserah lo berdua deh mau apa. Gue cape," ungkap Reno menyerah. Cowok itu beralih untuk menatap Savana. "Sava, maat ya. Hari ini harusnya kamu bisa menikmati waktu istirahat kamu dengan baik. Tapi gara-gara ada temen-temen Reno, waktu istirahat kamu jadi keganggu," ujar Reno meminta maaf kepada Savana, merasa tak enak kepada gadis itu.. "Gak masalah Ren, lagian aku kan juga tanu disini," balas gadis itu disertai senyuman tulusnya. "Enggak. Kamu bukan tamu Sava, kamu ada hak juga disini. Ini rumah kedua kamu kalau kamu lupa Sava," ujar Reno membenarkan. "Mama Sania dan Papa kan juga udah anggap kamu kaya anak sendiri Va, kamu pun juga udah anggap Mama Sania dan Papa kaya orang tua kamu sendiri kan?" Savana langsung mengangguk kecil menjawabnya. "Nah, maka dari itu, kamu juga harus anggap rumah ini sebagai rumah kamu juga. Kamu juga harus menganggap aku bukan hanya seorang sahabat aja, tapi juga seorang saudara, kakak lebih tepatnya," lanjut cowok itu kemudian. "Harus banget ya ngomongin hal gak penting kaya gitu?" ujar Geo dengan mata yang menatap malas Reno dan Savana. "Lo mana tahu apa-apa soal gue dan Sava Ge," ujar Reno. "Hal yang kata lo gak penting itu,, nyatanya untuk Gue dan Sava itu adalah hal yang benar-benar penting kok," tambahnya. "Udah, kaga usah ada debat-debat lagi deh mendingan. Gue aja cape dengernya, gimana Sava yang diem aja dari tadi," kata Aldi menengahi. Cowok itu menatap Geo. "Udah Ge, gak usah di debatin lagi kali. Emangnya ada untungnya buat lo? Cuma nambah cape juga kan," katanya. "Lagian juga, Reno hari ini sensitif banget, udah kaya cewe yang mau pms. Gak bisa diajak bercanda, maunya serius terus. Padahal kalo gue mah ogah serius sama dia, mendingan seriusnya sama Sava aja ya?" ucapnya menatap Savana dengan tatapan menggoda miliknya. Reflek saja, Geo langsung menepuk pelan kepala Aldi tapa ada suatu alasan yang jelas. "Aduh!" ringisnya saat merasakan tepukan di kepalanya yang berasal dari tangan Geo. Percayalah, sepelan apapun tepukan yang Geo berikan kepada Aldi tadi, rasanya tetap saja cukup menyakitkan. Tenaga cowok itu tidak main-main. "Lo yang bener aja deh Ge! Kenapa tepuk kepala gue sih, ada salah apa lagi gue sama lo? Perasaan dari tadi gue cuma buat Reno kesel, kenapa lo jadi ikut-ikutan jadi kesel coba," keluhnya disertai protes. Geo terdiam, bingung juga akan menjawab apa. Lagipula, Geo tadi juga hanya reflek saja. Tidak memiliki alasan lain. "Cuma reflek, mewakili Reno," kata cowok itu tanpa mau menatap sang lawan bicara. Reno yang mendengar namanya dibawa-bawa hanya diam saja, terlalu malas untuk menanggapinya. Lagipula, cowok itu menanggapinya, maka pembicaraan tentang hal ini tidak akan pernah selesai. Padahal kepala Reno sudah mulai merasa pusing. Cowok itu ingin segera mengakhiri pembicaraan ini. Nanti. Kapan-kapan saja pembicaraan ini akan kembali diteruskan. Setidaknya, kalau salah satu dari mereka mengingatnya. Pasti nanti mereka akan mengungkitnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN