"Jangan marah-marah terus Ren. Bu Rita milih Geo untuk jadi guru pembimbing aku belajar biologi juga kan ada alasannya, beliau gak asal pilih. Kamu jangan kaya gini dong," ujar Savana menegur Reno yang sedari tadi nampak terlihat sangat gelisah.
Setelah pergi kearah yang berlawanan dengan Aldi dan Geo tadi, ternyata Reno memutuskan untuk mendatangi taman sekolah yang tidak terlalu ramai. Masih ada beberapa siswa-siswi di taman tersebut yang sedang duduk bersantai. Mungkin, mereka semua sama seperti Savana dan Reno yang sudah menyelesaikan tugasnya dan tinggallah mereka untuk menunggu waktu pembukaan acara resmi dibuka.
Reno sedari tadi duduk dengan tidak tenang ditempatnya, kaki cowok itu terus saja bergerak tak menentu. Savana yang hanya melihatnya saja sampai lelah dibuatnya.
"Ini gak sesimpel seperti apa yang kamu bilang Sava," meski sedang menyimpan kekesalan dan kepalanya juga mulai berdenyut pusing, Reno tetap berusaha membalas perkataan Savana dengan suara lembutnya. Reno jelas tidak ingin mengatakan sesuatu yang kasar kepada Savana dan berpotensi membuat gadis itu malah marah kepada cowok itu. Atau akibat yang paling parahnya, jika saja Reno sudah kelewat batas, bisa jadi Savana malah menjadi membenci cowok itu.
Reno jelas tidak ingin kalau sampai hal itu menjadi kenyataan.
"Kamu harus inget Va, di minggu-minggu sebelumnya, gimana kejamnya Geo sama kamu, dia emang enggak atau malah belum melukai kamu secara fisik karena sebelum itu menjadi nyata, bersyukurnya kamunya udah sadar dan berhenti buat coba-coba deketin dia dan dapatin hati dia," tambah Reno lagi menambahkan, mencoba menjelaskan dan mengingatkan Savana tentang perangai Geo. "Tapi dia melukai kamu secara batin Va, meski kamu masih bisa menutupinya dengan satu senyuman, tapi aku masih tetap bisa ngelihat gimana berusahanya kamu buat nutupin semua itu," katanya lagi.
Savana terdiam. Apa yang dikatakan Reno sama sekali bukan hanya sebuah bualan semata. Itu memang kenyataannya. Tapi, untuk saat ini, Savana benar-benar tidak bisa melakukan banyak hal. Geo menjadi tutor pembimbing belajar biologinya adalah perintah langsung dari Bu Rita. Savana jelas tahu dan yakin bahwa Bu Rita memilih Ge dengan pertimbangan yang cukup banyak. Wanita paruh baya itu pasti sudah memikirkannya dengan sangat baik.
Dan diantara semuanya, Geo lah yang akhirnya wanita paruh baya itu pilih. Dan itu artinya, memang benar-benar Geo yang cocok untuk bisa mengajari dirinya. Savana tak enak hati kalau harus menolak seseorang yang sudah dijadikan Bu Rita sebagai pilihannya. Gadis itu juga merasa tak enak menolaknya karena kalau sampai Savana menolaknya, itu berarti Bu Rita harus kembali mencari seseorang lain yang bisa dimintainya untuk membantu Savana belajar biologi.
"Geo gak akan kaya gitu lagi Ren kalau Sava udah gak berusaha buat deketin dia lagi, udah gak lagi gangguin hidup dia," ujar Savana menjelaskan dengan suara pelannya. "Dan kali ini Sava emang gak akan aneh-aneh lagi. Sava udah bukan yang dulu lagi, Sava gak akan pernah deketin Geo lagi kalau bukan Geo sendiri yang kasih Sava kesempatan buat deketin dia. Ya, meskipun itu sama sekali gak mungkin terjadi juga sih," lanjutnya.
Savana menatap Reno dengan tatapan seriusnya. Gadis itu tahu bahwa sahabatnya ini benar-benar sedang mengkhawatirkan dirinya.
"Gak usah khawatirin aku Ren, semuanya udah beda," kata Savana menutup.
***
Acara pembukaan perayaan dies natalis SMA Nusa Bangsa baru saja selesai dilaksanakan. Menandai bahwa selama satu minggu kedepan, seluruh warga SMA Nusa Bangsa secara resmi akan benar-benar disibukkan dengan berbagai rangkaian acara yang akan dilaksanakan.
Savana, Reno dan Lula saat sedang berada di salah satu sudut lapangan yang sedikit jauh dari keramaian. Mereka bertiga sedang menatap ramainya beberapa stand yang ada di tengah lapangan sekolah yang ada di hadapan mereka itu dengan tatapan yang berbeda-beda.
Di tengah-tengah kegiatan mereka yang hanya duduk diam saja dengan mata yang hanya sibuk menatapi sekelilingnya. Suara ponsel yang ada di genggaman Reno seketika saja berhasil mengalihkan pandangan mereka bertiga untuk menatap Reno secara bersamaan.
"Udah kaya orang sibuk aja temen kamu Va. Notifnya rame banget perasaan," ujar Lula berceletuk dengan santai.
Memang benar, suara notif di ponsel Reno terdengar sangat ramai. Entah siapa yang mengirimi pesan cowok itu.
Reno berdecak pelan mendengar perkataan Lula pada Savana yang sedang menyindirnya. "Ck. ponsel gue baru dapet sinyal, makanya notifnya rame," kata Reno mengatakan apa adanya.
Beberapa saat yang lalu, Reno memang sempat kehilangan sinyal ponselnya. Memang SIM-card yang saat ini Reno gunakan sedikit sulit mendapatkan sinyal saat digunakan di kawasan SMA Nusa Bangsa.
Lula tak lagi berniat menanggapi perkataan Reno, mata gadis itu malah tak sengaja terfokus pada stand makanan yang menjual berbagai jenis kue tradisional. Lula seketika saja langsung tertarik begitu melihatnya. Sudah lama rasanya Lula tidak memakan jajanan tradisional.
"Eh, Va. Aku mau beli jajanan tradisional disana dulu ya? Kamu mau nitip nggak?" Lula berpamitan sekaligus menawari langsung kepada Savana seraya tangannya menunjuk kearah tempat stand penjual kue tradisional itu berada.
Mata Savana mengikuti arah tunjuk jari tangan Lula kemudian gadis itu mengangguk pelan. "Iya, kamu beli aja Lula, gak apa-apa, aku tunggu di sini sama Reno," ujar Savana menjawab. "Kamu gak perlu beliin aku apa-apa, aku masih kenyang Lula. Belum mau makan," lanjut gadis itu kemudian.
"Oh ya udah kalo gitu, aku beli jajan duluan ya," pamit Lula sekali lagi yang hanya mendapatkan jawaban anggukan saja dari Savana.
Tak beberapa lama setelah Lula pergi beranjak meninggalkan Savana dengan Reno, Savana menoleh menatap Reno yang sedari tadi tidak bersuara dan fokus pada layar ponselnya. Savana menjadi penasaran, ada apa dengan cowok itu? Memangnya apa yang ada di ponsel Reno sampai-sampai cowok itu terlihat sangat serius sekarang ini.
"Ada apa Ren? Kenapa kamu aku perhatiin dari tadi fokus banget sama ponsel kamu sejak suara notif banyak tadi. Ada sesuatu?" tanya Lula langsung. Tidak ingin menebak atau mencari tahu diam-diam. Savana lebih suka langsung menanyakannya kepada Reno saja. Karena gadis itu yakin, Reno akan langsung memberitahunya jika hal itu memang tidak bersifat rahasia.
Sementara jika bersifat rahasia, jika Reno tidak ingin mengatakan kepada dirinya pun Savana tak masalah. Savana masih tahu batasan untuk itu.
Reno yang mendapatkan pertanyaan dari Savana itu seketika saja langsung menoleh untuk menatap gadis itu. "Beberapa anak-anak SMP ngajak kita ketemuan Va," ujar Reno bercerita. "Mereka lagi ada di kota ini sekarang. Dan mereka juga tahu kalau kita pindah ke kota ini, makanya mereka bisa tiba-tiba aja ngajakin kita buat ketemu. Katanya juga karena udah cukup lama kita gak ada kabar," jelas Reno.
Savana terdiam sejenak. Belum memberikan respons apapun atas perkataan Reno.
"Sekolah mereka lagi ada kunjungan di beberapa tempat yang ada di kota ini Va. Dan kamu juga tahu sendiri kan kalau temen-temen kita rata-rata masuk di satu SMA yang sama. SMA Bhakti. Dan kamu sendiri juga dulu sekolah di SMA Bhakti kan sebelum pindah kesini?" lanjut Reno lagi.
Savana kali ini menanggapinya dengan anggukan pelan di kepalanya.
"Jadi gimana Va? Kamu mau ketemu sama mereka atau enggak?" kata Reno mencoba menawari Savana.
Di tempatnya duduk, Savana sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Ada beberapa hal yang tidak Reno ketahui tentang beberapa hal yang sudah Savana lewati selama satu tahun tidak adanya Reno di sampingnya. Ada beberapa hal yang terjadi selama Savana bersekolah di SMA Bhakti, dan Reno sama sekali tidak mengetahui kejadian itu.
"Boleh deh Ren, gak apa-apa kalo sama kamu," jawab Savana akhirnya setelah bergelut dengan pikirannya sendiri.
Savana pikir, tidak akan jadi masalah besar untuknya bertemu dengan teman-teman lamanya. Lagipula, ada Reno juga yang ikut serta untuk menemani dirinya.
Reno mengangguk kemudian tatapannya beralih untuk menatap layar ponselnya kembali. Mengetikkan sesuatu di sana.
Sementara Savana, gadis itu kembali sibuk dengan pikirannya sendiri. Kejadian seperti ini tidak pernah sama sekali terlintas di kepalanya, bertemu dengan teman-teman lama sama dengan mengingat masa lalunya.