CHAPTER 45

1023 Kata
Hari Minggu adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu kedatangannya oleh anak sekolah karena mereka yang sudah satu minggu full mengisi otak mereka dengan berbagai macam pelajaran yang cukup menguras tenaga dan melelahkan untuk mereka akhirnya bisa beristirahat di hari minggu ini. Hari minggu kali ini, tidak ada yang berbeda dari Savana maupun Reno. Mereka masih sama-sama menghabiskan hari minggu bersama dengan Savana yang datang ke rumah Reno pagi-pagi buta. Rencananya, Savana ingin mengajak Reno menonton film horor bersama hari ini. Namun sebelum itu, karena masih pagi, Savana akan memasak makanan terlebih dahulu untuk bisa dijadikan sarapan untuk Savana sendiri dan juga Reno. Ngomong-ngomong, Mama Reno sampai saat ini pun memang belum kembali. Wanita paruh baya itu memutuskan untuk menemani suaminya menyelesaikan pekerjaannya di luar kota dan mereka akan kembali pulang bersama. Mama Reno juga sudah berpesan kepada Reno dan menitipkan Savana kepada Reno selama Mamanya itu pergi ke luar kota, menyusul suaminya. Dan Reno, seperti biasanya akan selalu melakukan apapun yang diminta Mamanya. Lagipula, tanpa disuruh pun juga Reno pasti akan selalu menjaga Savana. Karena hal seperti itu sudah masuk menjadi kebiasaan Reno sejak kecil. Menjaga Savana layaknya adiknya sendiri. Namun, Reno sendiri memang sudah tak bis lagi menjadi seperti yang dulu-dulu. Karena kalau dulu Reno akan selalu berada di sisi Savana bahkan ketika mereka berada di sekolah, di kelas mereka sebab mereka yang dulunya selalu berada di satu kelas yang sama. Berbeda dengan sekarang ini. Reno sudah tak lagi berada di satu kelas yang sama dengan Savana. Dan itu awalnya cukup membuat Reno waspada. Namun, karena Reno sekarang sudah mengenal gadis bernama Lula dengan baik. Reno jadi menjadi sedikit lebih tenang karenanya. Reno yakin, Lula akan bis menjaga Savana selama Reno tidak bisa terus berada di sisi gadis itu. Lagipula, Savana sendiri pun nampak sangat senang saat bersahabat dengan Lula. Ketenangan Reno juga semakin bertambah saat mengingat Savana ditempatkan di kelas yang terkenal dengan solidaritasnya yang sangat tinggi di SMA Nusa Bangsa. Kelas itu, benar-benar kelas impian di SMA Nusa Bangsa. "Reno! Sarapannya udah jadi. Ayo kita sarapan dulu, mumpung masih hangat," ujar Savana setengah berteriak dari arah meja makan setelah meletakkan satu mangkok kaca berukuran sedang di atas meja makan. Mangkok kaca itu berisi sayur sop yang cukup digemari Reno untuk makanannya saat sarapan. Mendengar teriakan Savana dari arah meja makan, Reno yang sedang berada di ruang keluarga pun segera beranjak dari tempatnya langsung menuju kearah meja makan. Ah, Reno sendiri pun tak sabar untuk sarapan karena perut cowok itu yang memang sudah sangat lapar. Apalagi, mengingat kali ini yang membuat sarapannya adalah Savana, sudah lama sekali gadis itu tidak membuatkan dirinya sebuah makanan. Reno rindu dengan masakan Savana. "Wah, enak banget ini mah," ujar Reno langsung begitu sampai di meja makan dan melihat ada berbagai lauk di atas meja makan dengan sayur sop yang menjadi sayur utama dan satu-satunya. Reno menarik kursi yang ada di sebelah kursi tempat dimana Savana duduk. Lalu, tanpa kata cowok itu langsung mendudukkan dirinya di sana. Setelah melihat Reno duduk dengan tenang di kursinya, Savana dengan sigap langsung mengambil satu buah piring dan mengambil nasi secukupnya. "Segini cukup?" tanya Savana menunjukkan piring yang dia pegang kepada Reno. "Iya, cukup," jawab Reno. "Kamu mau lauk apa Reno?" tanya Savana lagi kemudian. "Semuanya aja Va, satu-satu," ujar cowok itu lagi menjawab. Lalu dengan segera Savana langsung mengambilkan lauk semua jenis lauk yang ada di meja makan dan menaruhnya di atas piring yang dia pegang, dan kemudian, Savana langsung memberikan piring tersebut kepada Reno. "Makasih ya Va," ucap Reno seraya tangannya menerima piring yang sudah terisi lauk dari Savana. Savana hanya mengangguk saja menjawabnya, lalu gadis itu mengambil satu piring lagi dan mengisinya dengan sayur dan lauk yang dia mau. Sementara Reno, cowok itu sendiri juga belum menyentuh makanannya. Cowok itu akan menunggu Savana terlebih dahulu. "Oh iya Ren. Ngomong-ngomong, hari jumat kemarin, ulangan harian biologi aku dibagikan. Terus seperti biasanya, aku selalu dapat nilai rendah di pelajaran itu," ujar Savana bercerita dengan tangannya yang tetap sibuk mengambil lauk yang ada di meja makan untuk di letakkan di atas piringnya. Ah, soal perkataan Savana itu, memang benar adanya. Savana memang sangat sering bahkan bisa dibilang selalu mendapatkan nilai yang buruk di mata pelajaran biologi. Gadis itu memang sangat lemah di mata pelajaran yang satu itu meskipun gadis itu termasuk murid yang sangat pandai di sekolahnya. "Wah iya? Kamu ternyata masih nggak bisa sama biologi ya Va? Aku kira sekarang udah lebih jago daripada dulu," sahut Reno menanggapi. "Gak apa-apa kalo gak bisa mah. Kan memang gak ada orang yang bisa menguasai semua hal," lanjut cowok itu memberi semangat kepada sahabatnya itu. Piring yang Savana pegang gadis itu letakkan di atas meja setelah selesai mengambil lauknya, lalu dengan muka cemberutnya, gadis cantik itu menatap Reno dengan bibirnya yang melengkung ke bawah. "Tapi kata guru biologi aku sekarang, aku bakalan di cariin guru les privat khusus pelajaran biologi aku Reno, gara-gara waktu itu aku pernah gak sengaja cerita kalau selama di SMA lama dan di jaman-jaman SMP, aku paling gak bisa sama pelajaran biologi," keluh gadis itu kemudian. "Ya gak apa-apa dong kalo di cariin guru les privat, bukannya emang lebih bagus ya?" kata Reno menyahuti. "Ya iya sih, apalagi emang yang bakalan jadi guru les privat aku itu anak SMA Nusa Bangsa juga. Kata gurunya, biar aku lebih seneng dan santai belajarnya, makanya gurunya kasih guru les privat nya anak Nusa Bangsa juga," paparnya. "Nah, itu apalagi. Udah gak apa-apa Va, pasti seru tuh nanti kamu belajarnya," Reno tersenyum dan hak itu membuat Savana tanpa sadar ikut tersenyum saat melihatnya. "Ya udah yuk, kita sarapan dulu. Setelah itu kita nonton film horor dan lakuin semua hal yang pengen kamu lakuin hari ini," kata Reno yang langsung diangguki Savana. Kemudian, mereka langsung menyantap makanan yang sudah tersaji di piring di depan mereka. Sementara itu, tanpa Savana dan Reno sadari, tak jauh dari tempat mereka berada, ada dua laki-laki jangkung yang sedang memperhatikan keduanya, bahkan di awal mereka baru berada di meja makan itu. Kedua laki-laki jangkung itu menatap keduanya dengan tatapan yang berbeda. "Gue gak tahu kalau mereka sedeket ini," ujar salah satu dari dua laki-laki yang ada di sana. Aldi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN