Flashback on
Seorang laki-laki jangkung saat ini tengah duduk di atas motornya yang terparkir di depan halaman salah satu rumah yang sudah begitu familiar untuk laki-laki itu.
Laki-laki itu adalah Geo, dan rumah yang saat ini ada di hadapan cowok itu adalah rumah milik Reno.
Sekarang, jam menunjukkan pukul setengah 9 malam. Dan entah apa yang membuat cowok itu datang kemari, Geo sendiri juga tidak menyadarinya.
Mata cowok itu terus menatap rumah Reno yang pintunya sudah tertutup rapat, namun dari cahaya lampu yang ada di rumah itu yang masih nampak menyala, Geo menjadi yakin bahwa penghuni yang ada di dalam rumah itu belum tertidur.
Sejenak, Geo mengalihkan tatapannya untuk menatap kearah rumah yang ada di sebelah rumah yang saat ini sedang ada di hadapannya. Dari sepengetahuan Geo, itu adalah rumah milik Savana. Saat Geo memperhatikan rumah gadis itu, dapat Geo pastikan bahwa kemungkinan besar si penghuni rumah sedang tidak ada di rumah. Mengingat rumah itu yang sangat gelap. Terbukti dari tidak ada cahaya lampu sama sekali di rumah itu. Bahkan lampu teras rumah itupun juga tidak menyala.
Melihat itu, Geo bergegas untuk turun dari motornya lalu melangkah maju mendekati pintu rumah Reno. Lalu, cowok itu mengetuk pintu rumah Reno dengan tenang.
Tok tok tok
Hanya butuh tiga kali ketukan saja, dan tidak membutuhkan waktu lebih lama lagi, terdengar suara sahutan dari dalam rumah yang ada di hadapan Geo saat ini, dari suaranya, terdengar seperti seseorang yang menyahut itu sedang berada di dekat-dekat pintu masuk rumah. Yang itu berarti, kemungkinan besar seseorang itu sedang berada di ruang tamu rumah tersebut.
"Iya bentar," sahut suara laki-laki dari dalam rumah yang bisa dipastikan bahwa itu adalah suara milik Reno. Si pemilik rumah.
Pintu yang tadi Geo ketuk lalu tiba-tiba terbuka lebar. Menampilkan sosok Reno yang baru saja membukakan pintu untuk si pengetuk alias Geo. Namun ada sesuatu yang sedikit berbeda yang baru saja Geo temukan faktanya. Dari dalam rumah Reno lebih tepatnya di bagian ruang tamunya, ada seseorang gadis yang wajahnya tidak terlalu asing di ingatan Geo. Seingat Geo, gadis itu adalah gadis yang sangat sering bersama dengan Savana. Ya, itu adalah Lula.
Saat melihat keberadaan Lula di dalam rumah Reno membuat Geo menatap kearah Reno dengan tatapan rumitnya. Apa maksud dari semua ini?
"Lo.., kenapa ada dia di rumah lo?" tanya Geo menatap Reno dengan rumit sembari menunjuk Lula dengan dagunya.
Reno yang seketika saja tersadar bahwa cowok itu baru saja tertangkap basah sedang berdua dengan Lula di dalam rumah cowok itu sendiri oleh Geo pun seketika saja langsung dibuat tergagap karenanya.
"Eh itu Ge, lo jangan salah paham dulu," ujar Reno dengan sedikit panik. "Gue bisa jelasin kok," lanjutnya.
Geo terdiam sejenak, lalu cowok itu melihat jam yang menempel di pergelangan tangannya. Tak terasa, jam sudah hampir menunjukkan pukul 9 malam, tidak banyak waktu lagi untuk Geo sekarang. Sepertinya, ada sesuatu yang aneh terjadi. Geo benar-benar tidak memiliki waktu senggang untuk mendengarkan penjelasan tidak berguna dari Reno.
"Gue gak butuh penjelasan lo karena gue yakin itu bukan sesuatu yang penting. Tapi satu hal yang harus lo tahu, lo baru aja melakukan suatu kesalahan besar Reno," ujar Geo kemudian langsung berlalu pergi meninggalkan Reno di depan pintu rumah cowok itu sendiri dengan begitu panik. Cowok itu hanya memiliki 2 opsi tujuan saja sekarang. Dan Geo akan memulai dari opsi pertamanya.
Geo menaiki motornya kemudian melajukannya dengan kecepatan diatas rata-rata. Dengan melewati jalan-jalan tikus agar cepat sampai di tempat tujuannya, Geo terlihat mencoba untuk tetap fokus mengendarai motornya meskipun pikiran cowok itu sendiri sebenarnya sudah kalut entah karena apa.
Hanya butuh waktu sekitar 30 menit untuk Geo sampai di tempat tujuan pertamanya padahal seharusnya untuk mencapai tempat ini dari rumah Reno, membutuhkan waktu kurang lebih hampir satu jam lamanya. Namun karena saking ngebut dan Geo yang melewati serta memilih jalan-jalan pintas, alhasil cowok itu bisa sampai di tempat ini dengan waktu hanya 30 menit atau setengah jam saja.
Geo melihat kearah bangunan yang ada di depannya, saat akan turun dari motornya, terlihat segerombolan laki-laki dan perempuan yang keluar dari dalam bangunan itu. Wajah-wajah mereka semua nampak asing di mata Geo dan tak ada satu pun dari orang-orang itu yang dapat Geo kenali wajahnya.
Ah, setahu Geo tempat ini sudah di sewa secara khusus hanya untuk pertemuan mereka-mereka yang memang diundang untuk datang. Dan salah satu dari tamu undangannya adalah seseorang yang Geo kenal, namun saat Geo lihat, tidak ada orang itu disini. Apa, orang itu sudah pergi?
Karena tak melihat seseorang yang dia cari disini, Geo akhirnya memilih untuk beranjak pergi dari sana. Namun, saat cowok itu baru akan menyalakan mesin motornya, tiba-tiba saja suara dari salah satu gadis yang ada di sana berhasil membuat Geo mengurungkan niatnya untuk sejenak.
"Kira-kira, Sava ajakin Anggun nongkrong ke cafe mana ya?" ujar salah satu gadis yang nampak sedikit murung.
Saat mendengar nama Savana disebut, Geo benar-benar langsung terdiam dan terfokus di tempatnya. Cowok itu berusaha dengan baik mendengarkan kata demi kata yang keluar dari mulut mereka. Berusaha dengan baik mendengarkan pembicaraan mereka.
"Ya mana kita tau lah Rin. Kita-kita aja sama-sama pendatang disini, kalaupun kita tahu di cafe mana mereka nongkrong pun kita juga akan tetap kesulitan temuinnya, banyak cafe dengan nama yang sama disini karena cabangnya yang deketan," sahut salah satu gadis lain menanggapi.
"Udahlah Rin. Lo gak udah coba cari-cari Sava dulu untuk sekarang, mendingan kita langsung balik ke Bandung aja deh, udah malem juga, guru-guru kan juga udah kasih peringatan untuk segera balik ke Bandung," sahut salah satu gadis yang lainnya lagi.
"Tapi Angga, Anggun sama Vero pun juga belum balik Meta! Mereka lagi nongkrong sama Sava!" tukas gadis pertama yang dipanggil 'Rin' itu.
"Ya udah sih, itu kan mereka emang udah jadi temen baik Sava. Wajar aja dong kalo mereka nongkrong bareng, apalagi mereka juga udah cukup lama gak ketemu," kata salah satu gadis yang berdiri cukup jauh dari gadis yang dipanggil 'Rin'
Gadis itu sedari awal nampak terlihat menatap 'Rin' dengan tatapan sinisnya. Nampak sekali bahwa gadis itu sangat tidak menyukai sosok 'Rin' dan dua gadis lain yang berdiri di sebelah 'Rin'
"Pokoknya, gue bakalan laporin ke guru-guru kalo mereka belum pulang jam segini dan malah masih nongkrong di salah satu cafe yang ada di kota ini!" ujar 'Rin' dengan liciknya.
Gadis yang sedari tadi menatap 'Rin' dengan sinis itu tampak tidak suka dengan apa yang 'Rin' katakan.
"Ya lo jangan egois kaya gitu dong! Lo jangan coba-coba buat ciptain masalah baru!" tegas gadis itu dengan nada tidak suka miliknya. "Sementang lo sekarang udah gak bisa deket lagi sama Sava, beda sama Angga, Anggun, Vero yang makin kesini kelihatan makin deket Sava, lo jangan kambing hitamin mereka kaya gitu. Lo busuk banget tahu gak Rin?" marahnya kemudian.
"Jaga omongan lo ya Van!" teriak 'Rin' dengan marah. Tak terima dikatai seperti itu oleh gadis yang 'Rin panggil dengan 'Van' itu.
"Apa?! Gak terima lo gue ngomongin fakta kaya gitu?!" ujar gadis yang dipanggil 'Van' itu dengan nada menantang. "Lo tuh harusnya sadar diri tahu gak Rin? Lo harusnya tuh coba introspeksi diri, bukan malah kaya gini. Muak gue lama-lama lihat wajah lo!" maki 'Van' dengan pedas pada 'Rin'
Saat mendengarkan semua perdebatan itu, Geo tak bisa menampik bahwa cowok itu sedikit terkejut dengan apa yang mereka sedang bicarakan. Dan Geo rasa, memang benar-benar ada sesuatu yang mencurigakan sekarang.
Namun, Geo sudah tidak memiliki lebih banyak waktu lagi untuk mendengarkan perdebatan itu. Sekarang, cowok itu sudah tahu akan kemana dia membawa motornya melaju.
Kini, saatnya Geo pergi ke opsi kedua.