CHAPTER 61

1515 Kata
Malam sudah semakin larut, jam juga sudah menunjukkan pukul 10 malam sekarang. Savana, Angga, Anggun dan Vero baru saja selesai mengobrol. Mereka benar-benar membicarakan banyak hal bersama malam ini. Tak pernah sekalipun Savana bayangkan bahwa gadis itu akan pulang semalam ini sendirian. Tak ada Reno ataupun siapapun yang menemaninya. Satu tahun yang lalu saat gadis itu masih terpisah dengan Reno, Savana memang pernah pulang selarut ini, namun gadis itu tak pulang sendirian saat itu. Gadis itu diantarkan pulang oleh temannya. Angga. Saat itu, alasan kenapa Savana pulang sangat larut adalah karena gadis itu menghadiri acara ulang tahun salah satu teman sekolahnya. Dan Angga juga ada di sana sebagai salah satu tamu undangannya. Oleh karena itu, Angga bisa mengantarkan Savana pulang malam itu. Anggun dan Vero sebenarnya juga ada di sana waktu itu, hanya saja mereka berdua datang bersamaan dengan berboncengan menaiki motor. Sehingga mereka berdua tidak bisa mengantarkan Savana pulang. Untung saja ada Angga juga di sana. Savana, Angga, Anggun dan Vero kini tengah berdiri di depan cafe tempat dimana mereka tadi berkumpul bersama di dalamnya. "Sava, mau kita anterin pulang aja nggak? Udah malem banget ini, meskipun kota ini dan daerah sini juga udah cukup familiar buat kamu, tapi tetep aja. Sekarang udah terlalu larut untuk kamu pulang sendirian," ujar Angga menawari Savana untuk pulang bersama. Dilihat dari wajahnya saja, cowok itu benar-benar terlihat sangat mencemaskan Savana. Savana terdiam sejenak mendengar perkataan Angga. Memang benar, malam sudah sangat larut. Namun, Savana pikir, gadis itu benar-benar bisa pulang sendirian. Apalagi, tadi Angga, Anggun dan Vero sempat bercerita bahwa mereka harus cepat-cepat pulang kembali ke kota mereka. Karena sekolah mereka juga sudah memperingatkan seluruh siswa-siswi nya yang datang di kota ini menggunakan kendaraan pribadi untuk segera kembali ke kota asal mereka. Bandung. "Ah nggak usah repot-repot anterin aku pulang Ga. Kalian langsung balik aja ke Bandung. Kam udah ditunggu juga sama guru kalian," ujar Savana menjawab pada akhirnya. Gadis itu juga sedikit terkekeh saat mengatakannya. Seolah gadis itu ingin menunjukkan kepada Angga bahwa dirinya memang sangat baik-baik saja. Tak ada yang perlu dicemaskan dari gadis itu. "Kata kamu rumah kamu cukup dekat dari sini Va, jadi rasanya gak masalah deh kalau kita anterin kamu pulang dulu baru nanti kita balik ke Bandung," sahut Vero menanggapi. Laki-laki yang berstatus sebagai pacar dari Anggun itu nampaknya juga ikut mencemaskan Savana. "Nah, bener kata Vero tuh Va," ucap Anggun menambahkan. Savana mulai kebingungan cara bagaimana menolak ajakan ketiga temannya itu sekarang. Mereka bertiga benar-benar terlihat sangat kekeuh dengan keinginan mereka yang ingin mengantarkan Savana pulang ke rumah. Mereka benar-benar ingin memastikan Savana selamat sampai tujuan dengan mata kepala mereka sendiri. Di tengah-tengah keterdiaman Savana memikirkan cara menolak ajakan ketiga temannya itu, tiba-tiba saja dari arah belakang tubuh Savana, ada sebuah tangan yang menarik dengan pelan pergelangan tangan gadis itu yang mau tak mau, hal itu berhasil membuat Savana berbalik menatap sang pelaku. "Geo?!" pekik Savana terkejut melihat keberadaan Geo yang tiba-tiba saja ada dibelakangnya. Mendengar pekikan mengejutkan dari Savana membuat Angga, Anggun dan Vero seketika saja ikut menoleh menatap Geo yang masih dalam posisi tangan cowok itu menggenggam pergelangan tangan Savana. Geo sendiri, cowok itu hanya diam saja tak mengeluarkan suara sama sekali. Mata cowok itu menatap kearah Savana dengan tatapan serius miliknya. Tatapan yang entah kenapa berhasil membuat Savana merasakan salah tingkah karenanya. Setelah beberapa saat terdiam, Savana akhirnya kembali tersadar kedalam dunia nyata. Mata gadis itu mengerjap pelan. Berusaha menyadarkan dirinya sendiri. "Kamu kok ada disini Ge?" tanya Savana kemudian. Geo terdengar menghela napasnya lelah. Ah, baru saja Savana sadari bahwa ternyata Geo terlihat sedang sangat kelelahan sekarang. Napas yang tidak beraturan serta bulir-bulir keringat yang berjatuhan membasahi wajah cowok itu adalah bukti bahwa cowok itu benar-benar sedang sangat kelelahan sekarang. "Bodoh," satu kata itu yang keluar dari mulut Geo setelah beberapa saat cowok itu hanya diam saja mendengar pertanyaan yang meluncur dari mulut Savana. Savana mengernyitkan dahinya bingung mendengar Geo mengatakan hal yang sama sekali tidak nyambung dengan apa yang gadis itu tanyakan kepada cowok itu. Savana ingin protes, tapi mengingat cowok ini adalah Geo, maka Savana lebih memilih untuk diam saja menerimanya. Melihat Savana yang hanya diam saja tak protes membuat Geo lagi dan lagi mengembuskan napasnya lelah. "Ini daerah deket komplek rumah gue kalo lo lupa Sava," ujar Geo pada akhirnya memilih menjawab pertanyaan Savana tadi. Jawaban yang Geo berikan itu sontak saja berhasil membuat Savana tersadar bahwa gadis itu saat ini memang berada di daerah sekitar komplek rumah Geo. Ah, bagaimana Savana bisa baru menyadarinya sekarang? "Ah iya ya?" ujar Savana sedikit terlihat linglung. Gadis itu menatap ke sekeliling cafe lalu kembali menatap kearah Geo. "Eh iya bener deh. Aku gak sadar loh tadi, beneran deh," lanjut Savana lagi kemudian, takut membuat Geo salah paham dengannya. Geo belum berniat menanggapinya sekarang. Cowok itu masih hanya diam saja menatap kearah Savana. Sementara Angga, Anggun dan Vero, ketiga teman Savana itu terlihat bingung dengan situasi saat ini. Kedatangan Geo yang sangat tiba-tiba membuat mereka bingung. Siapa laki-laki yang tiba-tiba saja menarik tangan Savana ini? Yang jelas, mereka menyadari satu hal bahwa Geo dan Savana saling mengenal satu sama lain. Hanya itu saja. "Sorry sebelumnya. Lo ini siapa ya?" tanya Angga tiba-tiba pada Geo. Cowok itu tak bisa menahan rasa penasarannya melihat kehadiran Geo yang tiba-tiba saja menarik tangan Savana. Geo menoleh untuk menatap Angga sejenak kemudian setelahnya kembali mengalihkan pandangannya untuk menatap kearah Savana berada. "Geo. Teman Savana," ujar Geo menjawab dengan singkat. "Lo bertiga bisa pergi sekarang, biar gue aja yang anterin Savana pulang," lanjut Geo menambahkan. Jawaban yang diberikan Geo sama sekali tidak memuaskan untuk Angga, Anggun maupun Vero, mereka masih sama-sama bingung dibuatnya. "Va?" tanya Anggun kemudian, daripada ini semakin lama, bukankah lebih baik langsung bertanya kepada Savana saja? Savana mengerjap pelan, setelah jawaban yang diberikan Geo saat Angga bertanya tentang siapa cowok itu, Savana benar-benar dibuat terkesiap seketika. "Iya bener, dia temen aku kok. Teman sekolah," jawab Savana mengkonfirmasi bahwa apa yang Geo katakan benar kenyataannya. "Kalian gak usah khawatir, dia orang baik kok," lanjutnya lagi menambahkan. "Udah, kalian langsung pulang aja sekarang. Gak usah khawatir sama aku, udah ada temen aku juga kok," tambah Savana sekali lagi yang mau tak mau membuat Angga, Anggun dan Vero menganggukkan kepalanya pelan. Setuju dengan apa yang Savana katakan. "Ya udah, kita balik ke Bandung duluan ya Sava. Nanti kapan-kapan kita meet lagi di lain waktu kalau ada kesempatan," ujar Anggun kemudian gadis itu maju untuk memeluk Savana dengan ringan. Kalau boleh jujur Anggun benar-benar sangat merindukan Savana. Savana adalah satu-satunya gadis yang menjadi sahabat dari Anggun. Baru saja bertemu namun kembali diharuskan untuk berpisah dengan Savana benar-benar berhasil membuat Anggun merasakan perasaan yang cukup sedih karenanya. "Iya Nggun, nanti pasti ketemu di lain kesempatan," ujar Savana membalas pelukan Anggun sekilas. Kemudian mereka melepaskan pelukan mereka masing-masing. Setelah Anggun, kini Vero berganti maju dan mengulurkan tangannya di depan Sava yang langsung dibalas oleh gadis itu. "Baik-baik disini ya Va. Jangan putus kontak, kalo ada apa-apa langsung kabarin kita aja, kita pasti akan selalu siap buat bantuin kamu kalo kamu butuh bantuan kita," ujar Vero dengan tulus. "Iya Ver, makasih ya," jawab Savana disertai dengan senyumannya. Setelah melepaskan jabatan tangan mereka, Angga lalu menatap Vero dan Anggun sejenak. "Lo berdua tolong siapin mobil dulu gih," ujarnya yang langsung disetujui mereka. Mereka berdua lalu berlalu meninggalkan Savana, Angga dan Geo di sana. "Va, kamu tahu kan gimana sayangnya aku sama kamu. Mungkin kalo dibandingkan sama temen cowok kamu yang namanya Reno itu, aku emang bukan apa-apa. Tapi yang harus kamu tahu, kalau aku ada di posisi Reno itu, aku gak akan mungkin tinggalin kamu cuma untuk pendekatan sama cewek. Kamu terlalu berharga untuk bisa diabaikan Sava," ujar Reno panjang lebar. "Dia kaya gitu karena memang harus Angga. Gak apa-apa kok, aku gak masalah," jawab Savana yang menyadari bahwa Angga terlihat menyimpan rasa kesal kepada Reno. "Mulai sekarang, aku benar-benar mohon sama kamu Va. Tolong jangan bergantung sama siapapun ya? Termasuk temen kamu yang namanya Reno itu. Karena sekarang, temen kamu itu udah gak bisa diandalkan lagi. Tolong percaya sama aku Va," ujar Angga kembali menambahkan. Savana mengangguk saja menjawabnya. "Iya Ga. Kedepannya aku gak akan bergantung sama siapapun," ujarnya. Angga memasang senyum tipisnya. Lalu tak lama setelahnya terdengar suara klakson mobil dari arah kanan mereka. Tin tin. Itu adalah suara klakson mobil dari mobil yang ditumpangi Anggun dan Vero. Sebelum pergi meninggalkan Savana, Angga menyempatkan dirinya untuk maju memeluk Savana dengan erat, menyalurkan rasa sayangnya kepada gadis itu. Berat berpisah dengan Savana, namun mau tak mau Angga harus melakukannya. "Baik-baik disini ya Va. Jangan lupa balas chat aku, aku akan selalu tungguin itu," ujar Angga di sela-sela pelukan mereka. "Iya Ga. Aku gak akan lupa kok," jawab Savana kemudian pelukan mereka terlepas. Mereka saling melemparkan senyuman satu sama lain sebelum pada akhirnya Angga berbalik dan berlalu pergi meninggalkan Savana dan Geo sendirian di depan cafe itu. Geo yang sedari tadi masih ada di sana dan hanya diam saja menyimak terus menatap Savana dengan tatapan rumit miliknya. "Lo perlu jelasin banyak hal Savana," ujar Geo yang sontak saja membuat Savana kebingungan karenanya. Apa maksud cowok ini sebenarnya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN