Savana, Angga, Anggun dan Vero benar-benar sedang berkumpul di salah satu cafe yang letaknya cukup jauh dari cafe awal tempat mereka berkumpul tadi. Cafe yang satu ini, letaknya cukup dekat dengan rumah Savana. Atau malah bisa dibilang letaknya sangat dekat dengan rumah Geo.
Ah, bukankah kemarin gadis itu mulai belajar bersama Geo?
Ya, itu memang benar adanya. Dan proses pembelajaran Savana cukup baik meskipun gadis itu masih tetap merasakan kesulitan. Karena memang dari awal, sama sekali tidak ada niat di diri gadis itu untuk benar-benar mempelajari biologi Ah, mungkin hal-hal seperti ini yang akan membuat Geo merasa kesulitan dalam mengajar Savana.
Terlepas dari semua itu, saat ini Savana nampak terlihat sedikit melamun di tempatnya. Angga, Anggun dan Vero yang duduk tepat berada di depan gadis itu terlihat menatap Savana dengan tatapan bingungnya.
Savana, benar-benar terlihat berbeda sekarang. Gadis yang biasanya akan memasang senyum cerianya, kini malah nampak terlihat murung.
Jujur saja, Angga, Anggun dan Vero sebagai sahabat Savana merasa sedih melihat itu. Meskipun mereka sudah lama tidak bertemu dengan Savana, namun komunikasi mereka masih sangat baik. Mereka juga cukup sering melakukan panggilan video dengan Savana.
Pada saat melakukan panggilan video dengan Savana pun, gadis itu juga terlihat sedikit berbeda dari biasanya, dari Savana yang mereka kenal. Dan barulah sekarang mereka benar-benar menyadari tentang perbedaan Savana, setelah mereka benar-benar bertemu kembali secara langsung dengan Savana. Setelah hampir satu tahun lamanya mereka tak bisa melihat dan menyentuh Savana secara fisik.
"Sava..., akhir-akhir ini aku perhatiin dari panggilan-panggilan video kita sebelumnya, kamu kelihatan kaya lagi ada suatu masalah. Ada apa?" tanya Anggun pada Savana dengan nada lembutnya.
Kalau boleh jujur, Anggun sedikit kaku untuk berbicara dengan Savana setelah sekian lama mereka tak bertemu meski masih sering bertukar kabar.
Savana menoleh menatap Anggun seketika, perkataan Anggun tadi benar-benar membuyarkan lamunan gadis itu.
"Gak apa-apa kok Nggun, cuma lagi kepikiran tentang beberapa hal kecil yang gak penting aja," ujar Savana menjawab disertai dengan senyuman tipisnya, senyuman yang Savana harap bisa membuat Anggun merasa lebih tenang dan tidak lagi mencemaskan Savana.
"Kamu gak pinter bohong Sava," ujar Angga dengan suara pelan. "Setelah kejadian waktu itu, aku lihat-lihat kamu mulai sedikit demi sedikit berubah," lanjutnya yang seketika saja berhasil membuat Savana terdiam di tempatnya.
"Tolong Va, angan kaya gini cuma gara-gara masalah itu. Kesalahpahaman yang mereka buat gak seharusnya ngebuat kamu jadi kaya gini," kata Angga sekali lagi.
Vero yang sedari tadi hanya diam saja dan hanya berperan sebagai pendengar seketika seketika saja mulai berniat membuka suaranya begitu cowok itu mendapati raut wajah Savana yang terlihat kurang nyaman dengan perkataan yang baru saja keluar dari mulut Angga.
"Udah Ga. Jangan ngomong kaya gitu lagi," ujar Vero berusaha menghentikan Angga. "Masalah yang sebenarnya emang kecil, tapi coba lo lihat dari sisi Sava. Dia cuma ngerasa kecewa aja sama orang yang dia kira sahabat baiknya ternyata malah nusuk dia dari belakang. Menjebak Sava sampai sempat ngebuat Sava hampir aja dikeluarkan dari sekolah. Lo gak tahu apa yang Sava rasain karena hal kaya gitu Ga. Jadi gue mohon, tolong lo stop pojokin Sava kaya gitu," Vero berujar dengan sangat serius.
"Gue tahu kok kalau lo ngomong kaya gitu karena lo sayang sama Sava. Lo khawatir sama dia dan gak ingin Sava terpuruk lagi. Tapi, bukan kaya gitu caranya Ga," lanjut Vero sedikit menambahkan.
Tampaknya, hari Angga sedikit terketuk setelah mendengarkan perkataan dari Vero. Sepertinya memang benar, Angga terlalu mencemaskan Savana hingga cowok itu terus berkata dan menuntut Savana untuk sesuatu hal yang saat ini belum bisa Savana lakukan.
Angga terlalu terpaku dengan tujuannya yang ingin membuat Savana kembali seperti dulu lagi, namun dia tak sadar bahwa untuk sementara ini, Savana benar-benar sangat kesulitan tentang itu.
"Maaf Va...," ujar Angga pada akhirnya dengan suara lirih miliknya. Cowok itu menundukkan kepalanya dalam, tak berani menatap kearah Savana.
"Gak apa-apa kok Ga. Aku ngerti kamu kaya gitu karena kamu peduli sama aku, dan aku juga seneng karena kamu peduli sama aku Ga," ujar Savana membalas dengan disertai senyuman manisnya. "Ga..., untuk sekarang ini dan aku yakini cuma sementara, aku emang gak bisa bersikap selepas dulu, dari kejadian waktu itu, aku sedikit demi sedikit mulai tahu banyak tentang dunia luar. Tentang banyaknya orang-orang dengan berbagai macam sifat dan sikap yang gak semuanya baik ataupun buruk. Dan aku rasa, sebenarnya aku cukup bersyukur setelah mengalami kejadian itu. Kalau diingat-ingat, aku gak akan mungkin bisa duduk di sini sendirian tanpa Reno kalau aku gak pernah mengalami kejadian kaya gitu Ga. Aku bakalan tetep jadi Sava yang dulu, Sava yang terlalu bergantung sama seseorang terlebih itu Reno," lanjut Savana menjelaskan dengan panjang lebar.
"Aku yang sekarang mungkin memang udah sedikit berbeda daripada aku yang dulu. Tapi kamu juga harus inget satu hal Ga. Bahwa meskipun aku mungkin sedikit berubah, tapi sebenarnya adalah aku tetap aku. Savana Arabella, temen kamu," Savana mengakhiri perkataannya dengan senyuman manis miliknya.
Sepanjang Savana mulai berbicara tadi, Angga langsung memusatkan perhatiannya kepada Savana. Dan dengan melihat senyuman manis Savana, kini hati Angga sedikit merasa lebih tenang.
Setidaknya, senyuman manis Savana yang sarat akan ketulusan tidak pernah luntur. Tidak pernah hilang dari gadis itu. Senyuman itu masih tetap sama.
Melihat suasana yang sedikit demi sedikit mulai mellow mengharukan, Anggun tidak akan tinggal diam karena itu. Gadis itu tak ingin suasana seperti sekarang setelah sekian lama mereka tidak bertemu dengan Savana. Anggun ingin suasana yang menyenangkan dan penuh dengan binar kebahagiaan.
"Eh, ngomong-ngomong, temen kamu yang namanya Reno nya kemana Va? Kamu kok tumben sendirian, kata Arin waktu itu Reno mau datang bareng kamu, temenin kamu," ujar Anggun secara tiba-tiba membuat Savana beralih menatap kearah gadis itu. "Aku pengen banget nih ketemu sama temen kamu yang namanya Reno itu, pengen tahu, kaya apa sih orang yang udah jadi sahabat kamu bertahun-tahun. Cowok yang buat kamu sampe pindah dari SMA Bhakti sampai kesini?" tambah Anggun lagi kemudian.
"Oh itu, si Reno lagi ada urusan katanya, gak bisa ikut temenin aku dulu," ujar Savana menjawab dengan jujur. Memang seperti itulah yang Reno katakan kepada Savana. Dan benar-benar hanya itu alasan yang Reno saat cowok itu berkata tidak bisa ikut serta dengan Savana, mengantarkan gadis itu. "Ah, tapi sebenarnya emang urusannya Reno penting banget sih. Jadi, aku ya maklum aja," lanjut gadis itu itu lagi kemudian.
"Sepenting apa urusannya sampe dia biarin kamu berangkat sendirian kesini Va? Setahu aku dari cerita kamu tentang dia, temen baik kamu yang namanya Reno itu selalu utamain kamu dalam segala hal, lalu gimana dia sekarang?" tanya Vero tiba-tiba menyahut.
Savana terkekeh pelan mendengar pertanyaan itu. "Ini tentang masa depannya dia Ver. Reno lagi coba deketin seseorang, dan seseorang itu adalah teman aku di SMA aku yang baru, temen deket aku banget malah," ujar Savana sedikit menjelaskan.
Anggun sedikit tertegun ditempatnya mendengar pernyataan Savana. "Kamu gak sakit hati atau ngerasa kecewa sama Reno karena dia lebih pilih temen baru kamu itu daripada kamu sendiri?" tanya Anggun dengan pelan.
Savana menggeleng pelan seraya tersenyum tipis menjawabnya. "Engga Nggun. Aku gak sakit hati ataupun kecewa kok," jawab Savana dengan sejujurnya. Meskipun Reno sebenarnya tidak memberitahu perihal cowok itu yang tidak bisa mengantarkannya karena cowok itu akan pergi berkencan bersama dengan Lula. Savana mencoba untuk memahaminya. Savana tidak marah.
Savana bahkan tahu bahwa Reno akan pergi bersama dengan Lula karena tadi sebelum gadis itu berangkat untuk menemui teman-teman lamanya ini, Reno tak sengaja salah mengirimkan pesan kepada nomornya. Di pesan yang Reno kirimkan itu, cowok itu mengatakan bahwa cowok itu akan menjemput Lula setengah jam lagi.
Namun tak lama setelah pesan tersebut masuk di ponsel Savana, Reno segera menariknya kembali.
Mendengar jawaban dari Savana, Anggun menatap Vero dan Angga bergantian, kemudian gadis itu menghela napasnya pelan.
Ah, ternyata sifat Savana yang satu ini tetap sama. Terlalu baik dan selalu mencoba berpikir positif. Padahal tanpa Savana sadari, tidak semua hal yang Savana temui memang benar-benar merupakan hal-hal yang positif.