Sore ini Savana sedang berkumpul bersama teman masa SMP nya yang dulu. Mereka sekarang sedang berada di salah satu cafe yang letaknya cukup jauh dari rumah Reno ataupun Savana sendiri. Mereka sudah menyewa satu cafe ini hanya untuk pertemuan mereka.
Beberapa diantara mereka bukan hanya merupakan teman masa SMP Savana saja, namun juga teman masa SMA Savana sebelum gadis itu memutuskan untuk pindah ke kota in menghampiri Reno. Memutuskan untuk pindah ke SMA Nusa Bangsa.
Ngomong-ngomong, saat ini Savana hanya sendirian saja disini. Tidak ada Reno yang menemani gadis itu seperti apa yang cowok itu sudah janjikan. Savana benar-benar datang kesini sendiri.
Sedari tadi, tak ada yang membuka suara sama sekali. Semuanya bungkam dan menatap kearah Savana. Sedangkan Savana yang ditatap mereka semua, gadis itu terlihat santai dengan bermain ponsel miliknya sendiri. Entah apa yang gadis itu sedang lakukan dengan ponselnya itu.
Sebenarnya, Savana bukannya tidak tahu ataupun tidak sadar kalau dirinya saat ini sedang ditatap, tentu saja dia tahu dan benar-benar sadar akan hal itu. Semua pasang mata disini benar-benar menatap kearah Savana.
Hanya saja, Savana memilih acuh.
Salah satu anak laki-laki yang ada di sana, yang diketahui bernama Angga, cowok itu menghela napas pelan melihat kebungkaman mereka semua. Mereka yang katanya rindu dengan Savana. Sekarang lihat, ketika Savana sudah ada dihadapan mereka, kenapa mereka semua hanya diam?
"Katanya kalian kangen, ini orangnya udah ada di sini kenapa malah pada diem sih? Mendadak bisu?" tanya Angga dengan suara santai. Cowok itu sebenarnya cukup kesal karena tak ada perbincangan diantara mereka. Hari sudah semakin larut tapi mereka masih belum mengatakan apapun.
Savana yang juga sama kesalnya pun akhirnya berdiri sembari menarik tangan Angga pelan agar ikut berdiri sama sepertinya. "Aku mau pulang aja ya Ga, males banget aku di sini. Orang-orangnya gak jelas semua," ujarnya tanpa melirik teman-temannya yang menatap Savana terkejut.
Baru saja salah seorang gadis yang diketahui bernama Arin hendak mencegah Savana agar gadis itu tidak pergi, tapi suara Angga lebih dulu menghentikannya. "Lain kali aja lagi. Ntar kalo udah tau mau ngomong apa baru ajak Savana ketemu lagi, itu juga sih kalau masih ada kesempatan," ujar Angga mencegah. "Savana udah badmood sekarang, gak bisa diganggu. Right?" tanya Angga meminta persetujuan Savana.
Savana mengangguk tanda setuju. Gadis itu melangkah pergi mendahului Angga tanpa melirik teman-temannya yang semakin terkejut dengan sikap Savana.
"Gak usah kaget, 1 tahun emang bukan waktu yang lama, tapi juga bukan waktu singkat. Jadi wajar aja kalo waktu 1 tahun itu bisa ngebuat orang banyak berubah. Tak terkecuali Savana," ujar Angga kemudian melangkah pergi menyusul Savana.
"Ver, kita susul Savana bareng Angga yuk, nebeng mobil dia. Tadi Savana sempet ngajakin aku nongkrong soalnya," ajak Anggun pada Vero, pacarnya yang bisa didengar oleh semua orang yang ada disana.
Arin, Ella dan Meta tampak bingung. Savana mengajak Anggun tapi tidak mengajak mereka? Itu terdengar sangat aneh. Dulu, Savana selalu mengajak mereka bukannya mengajak Anggun seperti ini.
For your information, Savana dulunya memiliki sahabat yang cukup dekat selain Reno yaitu Arin, Ella dan Meta ini. Serta juga Anggun yang tidak berteman dengan baik dengan 3 temannya yang lain.
Savana baru mengenal Anggun saat duduk di bangku SMA, namun gadis itu mengenal Arin, Ella dan Meta di bangku SMP.
Mungkin sedari SMA meskipun Savana sudah berteman dengan Anggun, tapi gadis itu tak pernah sekalipun mengajak Anggun pergi untuk sekedar nongkrong. Savana biasanya akan bertemu Anggun ketika berada di lingkungan sekolah. Diluar itu, Savana tak pernah berhubungan dengan Anggun. Savana akan selalu mengajak Arin, Ella dan Meta untuk itu.
Tapi kini, sekarang bukan Arin, Ella dan Meta lagi yang Savana ajak. Melainkan Anggun. Posisi mereka bertiga seakan telah tergantikan.
"Eh bentar Nggun," cegah Ella cepat. Anggun yang sudah siap pergi dari sana sembari menggenggam tangan Vero itu menoleh.
"Kenapa?" tanya Anggun dengan nada suara yang terdengar cukup malas.
"Gue tadi gak sengaja denger, katanya lo mau nongkrong sama Sava ya? Emang beneran gitu?" tanya Ella memastikan. Anggun hanya mengangguk singkat saja menanggapinya.
"Nongkrong dimana? Sama siapa aja?" kini giliran Arin yang bertanya.
"Nongkrong dimananya lo gak perlu tau. Untuk nongkrong sama siapa aja, gue cuma berdua sama Savana," balas Anggun santai seakan ingin menyombongkan dirinya bahwa sekarang Anggun lah yang paling dekat dengan Savana.
"Mmm, kita boleh ikutan gak?" Arin dan Ella berkata serempak yang langsung dibalas gelengan santai dari Anggun.
"Sava bilang, dia mau nongkrong berdua doang sama gue. Gak boleh ngajak siapapun termasuk lo bertiga," tunjuk Anggun pada Arin, Ella dan Meta. "Mantan sahabatnya atau mungkin, mantan temannya," lanjutnya berhasil menohok hati mereka.
"Tapi kita mau minta maaf sama dia karena kesalahpahaman kita dulu," balas Meta cepat.
"So?" Anggun menaikkan sebelah alisnya.
"Lo bisa tolong sampein permintaan maaf kita gak?" tanya Arin pelan, melanjutkan.
"Big no!" tegas Anggun. "Lo bertiga punya mulut sendiri kan buat ngomong sama Savana. Jadi ya, minta maaf aja sendiri sama mulut lo. Masa dulu buat nyinyirin Savana aja bisa, tapi sekarang buat minta maaf sama dia aja enggak," sarkas Anggun lagi kemudian langsung pergi dari sana sembari membawa Vero ikut serta.
Arin, Ella dan Meta terdiam mendengar ucapan sarkas Anggun. Benar, mereka seharusnya meminta maaf langsung dari mulut mereka sendiri. Bukan lewat perantara Anggun.
Gara-gara mereka sendiri, mereka kehilangan sahabat sebaik Savana.
Savana yang begitu loyal dan sangat mempedulikan mereka kini sudah tidak ada lagi. Savana yang dulunya bahkan rela mengorbankan dirinya sendiri demi teman-temannya kini sudah tidak bisa lagi mereka rasakan.
Karena mereka bertiga bukan lagi teman Savana. Pertemanan mereka benar-benar hancur akibat dari ulah mereka sendiri. Dan mereka benar-benar menyesal untuk itu.
Kalau waktu bisa diulang kembali, mereka benar-benar ingin mengulanginya kembali, sekali lagi. Mereka tidak akan menyia-nyiakan kebaikan yang diberikan Savana pada mereka.
Semenjak Savana memutuskan untuk pindah sekolah dan meninggalkan kota yang mereka tempati saat itu, mereka benar-benar merasa terpuruk. Perasaan bersalah baru muncul setelahnya. Mereka baru sadar bahwa apa yang mereka lakukan selama ini bukanlah perbuatan yang bisa dibenarkan dari sisi manapun.
Setelah hampir satu tahun tak bertemu Savana, akhirnya mereka bisa bertemu dengan gadis itu kembali, itupun lewat perantara Reno. Karena Savana yang memutuskan komunikasi dengan mereka membuat mereka sempat merasa kesulitan untuk mencari tahu kabar Savana.
Baik, Arin, Ella ataupun Meta tak ada yang tahu, bahwa sebenarnya selama ini Angga, Anggun dan Vero yang ada di dekat mereka masih berkomunikasi dengan baik dengan Savana. Mereka menyimpan nomor baru gadis itu.
Karena sekarang, memang hanya merekalah yang paling dekat dengan Savana.