Setelah perkataan Aldi di kelas tadi, Reno memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Lula pun juga demikian.
Saat diperjalanan menuju ke rumahnya, Reno benar-benar merasa bersalah dengan Savana. Gadis itu pasti sudah menunggunya cukup lama hingga akhirnya baru berinisiatif untuk pulang terlebih dahulu.
Hingga detik ini pun, Reno belum tahu bahwa sebenarnya Savana pulang bersama dengan Geo. Atau lebih tepatnya Geo sedang mengajak Savana ke rumahnya untuk memulai mengajar Savana.
Geo sebenarnya tidak berbohong tentang cowok itu yang sudah memberitahu kepada Reno bahwa cowok itu akan mengajak Savana ke rumahnya dan mulai belajar di sana. Geo memang benar-benar melakukannya. Geo sudah mengirimkan pesan kepada Reno namun sayangnya ponsel cowok itu mati dan belum menyala sampai saat ini. Reno benar-benar melupakan perihal ponselnya yang mati. Cowok itu terlalu khawatir dengan keadaan Savana.
Begitu sampai di rumah, Reno langsung bergegas masuk ke dalan rumahnya sebelum itu, Reno tadi sempat berhenti di depan rumah Savana dan mengamati rumah gadis itu yang nampak sangat sepi. Tanda bahwa Savana sedang tidak ada di rumahnya. Savana belum pulang.
Reno masuk ke dalam rumahnya lalu langsung menuju kearah kamarnya. Cowok itu mengambil ponsel yang ada di saku celananya kemudian men-charge ponsel tersebut setelahnya.
Setelah beberapa menit menunggu, ponsel milik cowok itu akhirnya bisa kembali dinyalakan. Dan saat menyala, banyak sekali suara dering notif yang berasal dari ponsel tersebut.
Tangan Reno dengan lincah langsung menekan ikon salah satu aplikasi chatting yang ada di ponselnya. Melihat ada beberapa notifikasi dari grup dan temannya. Hingga jemari Reno dengan sadar menekan salah satu pesan yang berasal dari kontak bernama 'Geovano'
Geovano Aditya: Gue sama Sava mulai belajar hari ini di rumah gue. Lo tenang aja, ada nyokap gue di rumah. Tapi kalo lo tetap khawatir sama dia, lo bisa nyusul kesini.
Setelah membaca pesan yang diberikan Geo itu, barulah Reno akhirnya bisa menghembuskan napasnya lega. Setidaknya keberadaan Savana sekarang sudah jelas. Tak lagi abu-abu. Reno tak perlu lagi mengkhawatirkannya. Karena kalaupun ada sesuatu yang terjadi kepada Savana. Sudah pasti pelakunya adalah Geo.
Reno merasa benar-benar sangat lelah hari ini, padahal cowok itu tak banyak melakukan kegiatan. Hanya duduk-duduk saja seharian ini bersama dengan Lula di taman. Mengobrol ringan di sana.
Kalau boleh jujur, Reno benar-benar merasa sangat bahagia hari ini karena bisa menghabiskan sebagian besar waktunya dengan Lula. Hanya berdua saja. Mereka mengobrol kan banyak hal dan itu terasa sangat menyenangkan.
Biasanya, pembahasan yang mereka bahas pasti tidak jauh-jauh dari perihal Savana. Baik Lula ataupun Reno biasanya sangat fokus kepada gadis itu. Namun untuk hari ini tidak lagi. Mereka benar-benar fokus dengan pendekatan mereka sendiri.
Kalau Reno tahu sebegini asik dan senangnya mengobrol ringan dengan Lula, Reno pasti akan melakukannya sedari dulu. Sebelum ini, belum pernah ada gadis yang bisa dengan mudah membuat Reno merasakan hal seperti ini selain Savana. Dan kini, pada akhirnya Reno juga bisa merasakannya kepada Lula. Reno benar-benar nyaman dengan gadis itu.
Reno menjatuhkan dirinya ke ranjang miliknya. Berbaring terlentang sembari menatap langit-langit kamarnya.
"Kedepannya, gue kayanya bakalan lebih banyak luangin waktu buat bisa pendekatan sama Lula lebih jauh lagi deh. Gue yakin, gue benar-benar suka sama dia," gumam Reno seraya membayangkan wajah Lula. Cowok itu tersenyum tipis kemudian.
***
Di lain tempat namun masih di belahan bumi yang sama, Savana saat ini terlihat sedang duduk di salah satu sofa yang ada di kediaman Geo. Mata gadis itu menatap kearah sekelilingnya, memandangi setiap inci sudut rumah Geo.
Saat ini, gadis itu sedang duduk di sana sendirian, sementara Geo baru saja berpamitan kepada Savana untuk mengganti seragamnya dengan baju santainya. Geo juga meminta Savana untuk menunggu cowok itu di sana dan Savana benar-benar melakukan apa yang Geo minta.
Belum lama setelah Savana ditinggalkan sendirian oleh Geo di ruang tamu rumah cowok itu sendiri, pintu utama rumah Geo yang letaknya tidak jauh dari area ruang tamu yang saat ini Savana tempati tiba-tiba saja terbuka. Hal itu berhasil membuat pandangan Savana beralih untuk menatap kearah pintu tersebut. Lalu, masuklah seorang wanita paruh baya dari pintu tersebut.
Wanita paruh baya yang nampak sedang membawa sekantung kresek kecil ditangannya.
"Assalamualaikum," salam wanita paruh baya itu yang Savana yakini sepertinya beliau adalah Mama dari Geo, si pemilik rumah.
"Waalaikumsalam," jawab Savana seraya gadis itu langsung bangkit berdiri dari duduknya. Rasanya kurang sopan jika Savana tetap diam dan duduk dengan tenang sementara si pemilik rumah baru saja datang.
Wanita paruh baya yang ternyata memang Mama dari Geo itu lalu menatap keberadaan Savana dengan sedikit terkejut pada awalnya, namun tak lama setelah itu, wanita paruh baya itu nampak tersenyum dengan lembut mendapati keberadaan Savana. Menyambut gadis itu dengan hangat.
"Loh, ada anak gadis cantik disini," sapa Mama Geo dengan ramah, tak lupa juga dengan senyuman yang masih terukir indah di wajah wanita paruh baya itu. "Temannya Geo yang bakalan belajar bareng Geo ya? Siapa sih namanya? Nak Savana bukan?" lanjut Mama Geo lagi, mengingat-ingat nama gadis yang memang dimintai Bu Rita untuk Geo ajarkan.
Savana tersenyum kecil membalasnya. "Iya Tante, saya Savana," jawab Savana dengan sopan. Gadis itu lalu maju dan mengamit tangan Mama Geo untuk disaliminya. "Salam kenal ya Tante," kata Savana lagi kemudian.
"Iya Savana. Salam kenal juga," jawab Mama Geo. "Oh iya, kok kamu sendirian Savana? Geo nya kemana? Kok kamu ditinggalin sendiri di sini?" tanya Mama Geo dengan beruntun kemudian sembari kepala wanita paruh baya itu menoleh ke kanan dan ke kiri secara bergantian. Mencari keberadaan Geo. Anaknya.
"Geo katanya lagi ganti baju dulu Tante, Savana di suruh nungguin Geo disini," jawab Savana segan.
Mendengar jawaban yang diberikan Savana, Mama Geo nampak terlihat mengulum senyumnya tipis. Gadis ini adalah gadis yang sangat sopan dan polos. Mama Geo benar-benar sangat suka dengan kepribadian yang dimiliki Savana.
"Oh iya , silahkan duduk lagi Nak Savana. Jangan berdiri terus, santai aja. Anggap rumahnya sendiri," ujar Mama Geo seketika saja setelah sadar bahwa Savana saat ini sedang dalam posisi berdiri karena melihat kehadirannya tadi.
Savana tersenyum lalu mengangguk, setelahnya gadis itu kembali duduk di tempatnya tadi.
"Kalo gitu Tante masuk dulu ya. Kamu tungguin Geo dulu disini sendirian gak apa-apa?" tanya Mama Geo pada Savana.
"Gak apa-apa kok Tante," jawab Savana masih dengan senyumnya.
Mama Geo pun juga membalas senyuman Savana itu, kemudian wanita paruh baya itu berlalu masuk dan menghilang di balik dinding di salah satu sudut rumah Geo. Meninggalkan Savana sendirian di ruang tamu rumah tersebut dengan jantung yang sedikit berdebar.