CHAPTER 63

1777 Kata
"Lo gak usah desak Nando sama omongan lo deh El. Mending lo diem," cercah salah seorang cowok dengan nada kesal. Dia adalah Vero. Pacar dari Anggun. Sekarang ini sudah keesokan harinya sejak kejadian kemarin malam. Siswa-siswi SMA Bhakti yang memang diharuskan untuk tetap masuk setelah kegiatan kemarin terpaksa membuat mereka-mereka yang terlibat dalam kejadian kemarin saat bertemu dengan Savana memutuskan untuk kembali bertemu lagi di salah satu sudut lapangan sekolah SMA Bhakti. "Ver bisa gak lo jangan keras gitu sama Ella. Dia itu kalem, lemah lembut, gak bisa kamu kasarin sama omongan kaya gitu," ujar Arin membela Ella yang memang sahabatnya itu. Kejadian awal hari ini dimulai dari Ella yang tiba-tiba saja mengemis meminta balikan pada salah seorang cowok yang diketahui bernama Nando. Cowok yang sebenarnya kemarin tidak ikut dalam pertemuan dengan Savana dikarenakan kemarin cowok itu mendadak sakit sehingga kemarin cowok itu juga tidak ikut dalam kegiatan sekolah mereka yaitu kunjungan ke kota yang sekarang Savana tinggali, namun cowok itu juga merupakan salah satu bagian penting dalam hidup Savana. Nando memang tidak terlalu dekat dengan Savana sekarang, namun setidaknya cowok itu berada di kubu Savana sedari dulu. Cowok itu selalu membela Savana sama seperti Anggun, Angga dan Vero. Sejujurnya, salah satu alasan kenapa Nando putus dengan Ella pun juga ada sedikit perihal Savana yang menjadi penyebabnya. Namun terlepas dari Savana, Nando sebenarnya juga memang sudah lama ingin memutuskan hubungannya dengan Ella. Karena Nando rasa, Ella terlalu racun untuknya. "Terus mau lo gue apain tuh temen lo? Gak boleh dikasarin sama omongan kan kata lo, berarti boleh dong kalo gue kasarin dia pake fisik?" ujar Vero lagi dengan santai. Percayalah, apa yang Vero katakan itu hanya sebuah gertakan. Mana mungkin Vero melawan seorang gadis? Vero tidak sepengecut itu. Perdebatan sengit masih berlanjut. Sedangkan yang lainnya masih diam karena menurut mereka, perdebatan yang saat ini terjadi antara Ella, Arin dan Vero itu bukanlah urusan mereka. Semua perdebatan itu hanyalah berisi masalah pribadi Ella dan Nando yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan mereka "Stop belain Savana segitunya Vero!" Arin berteriak marah membuat semuanya terkejut. Bukan terkejut karena teriakan Arin. Tapi terkejut karena apa yang gadis itu ucapkan. "Emang dari dulu waktu dia masih disini sampe sekarang dia udah pergi pun terus aja orang-orang belain dia! Apa hebatnya sih itu cewe?!" pekik Arin lagi yang semakin membuat orang-orang yang berkumpul disana terkejut. Savana? Gadis itu membawa nama Savana lagi disini? Padahal, sekalipun tak ada perdebatan mereka yang menyangkut soal Savana sedari tadi. Apa yang mereka ributkan bukan soal Savana. Tapi lihat sekarang, lagi-lagi Arin menyalahkan Savana atas apa yang sebenarnya bukan kesalahan Savana. Semuanya menatap kearah Arin dengan tatapan yang berbeda-beda. Mereka rasa, mereka baru saja mendapati seseorang dengan kemunafikan yang baru saja terbongkar. Angga yang tadinya sedang tenang-tenang saja ditempatnya seketika saja langsung terduduk tegap mendengar suara Arin yang berteriak marah, menyalahkan Savana. "Gak ada yang lagi bahas Sava disini Arin! Jaga ya mulut lo!" sentak Angga dengan keras di tempatnya. Setelah teriakan dari Arin yang kembali menyalahkan Savana, mata semua orang terkecuali Ella menatap Arin murka. Meta yang sedari tadi memilih diam, gadis yang duduk disebelah Arin dan Ella itu tiba-tiba saja langsung menampar keras pipi sahabatnya itu. Plak! Suara nyaring terdengar tanpa bisa dicegah. Semua yang ada disana minus Angga dan Vero menatap itu semua dengan terkejut dan tak percaya. Dengan napas memburu Meta menatap Arin dengan nyalang. Sedangkan Arin yang mendapatkan tamparan keras itu menatap Meta tak percaya dan Ella yang kasihan dengan Arin menatap Meta dengan tatapan tajam. "LO APA-APAAN SIH TA?!" Ella berteriak emosi. Air matanya entah mendadak hilang kemana, mata Ella yang tadinya sendu menatap Meta semakin tajam. Kemudian, Ella beralih menatap Arij yang sedang meringis kesakitan sembari menyentuh pipinya yang terkena tamparan Meta. "Lo gapapa kan Rin?" tanya Ella merasa khawatir pada Arin. Arin menggeleng lemah. Kemudian gadis itu berganti menatap Meta dengan tatapan yang tak kalah tajam dari tatapan Ella gadis itu berdiri sembari menunjuk-nunjuk tepat di depan wajah Meta. "MAKSUD LO APA b******k!!" u*****n keluar dari mulut Arin. "Lo kenapa nampar gue?!" lanjutnya masih penuh dengan kemarahan. "LO SALAHIN SAVA LAGI g****k!!" Meta ikut berteriak, dia juga ikut berdiri mensejajarkan tubuhnya dengan Arin. Kini mereka sedang berhadap-hadapan dengan Ella yang ada di tengah-tengah mereka dalam posisi duduk. "Anjim, telinga gue rasanya kaya mau jebol dengerin congor mereka adu bacot," bisik salah satu cowok yang ada di sana pada teman yang duduk di sampingnya. "Toa banget sumpah tuh cocot mereka," sahut cowok yang lain yang duduk di sebelah kiri cowok pertama yang berkomentar. "Mulut lo semua kaya gak pernah disekolahin ya?" cowok ketiga yang duduk si sebelah kanan cowok pertama menanggapi ucapan teman-temannya dengan nada jengkel. Didepan mereka sedang ada perang mulut gadis-gadis kenapa mereka malah berisik sendiri sih. Memperkeruh suasana saja. "Mampus, mending diem kaya gue. Udah bagus nonton aja," komentar cowok yang duduk sedikit lebih jauh dari ketiga cowok tadi dengan santai menikmati adegan yang tersuguh di depannya. Cowok pertama dan kedua seketika saja secara refleks langsung mencebikkan bibirnya kesal melihat itu. "Maksud lo apa bilang Arin g****k?" kini Ella ikut bangkit berdiri menghadap Meta. Ella ada di kubu Arin. Meta sekarang diserang oleh dua orang sekaligus. "Terus aja lo belain sahabat kesayangan lo itu. Sebenernya yang g****k itu lo Kinan! Bukan Arin!" Ella kembali menyerang Kinan untuk membela Arin. Karena sedari dulu, hanya Arin lah yang memiliki pemikiran yang sama dengan dirinya. "LO BERDUA YANG g****k! LO BERDUA MUNAFIK!" Kinan mengerahkan semua tenaganya untuk berteriak. Teriakan yang berkali-kali lipat lebih nyaring dari sebelumnya itu membuat semua orang yang sedang menonton itu menutup telinga mereka secara spontan. "Kali ini gue setuju sama omongan lo berdua tadi. Cocot and congor mereka kaya toa," bisik cowok ketiga tiba-tiba saja yang langsung mendapatkan geplakan di kepala cowok yang sedari tadi hanya diam saja. "Lo jangan ikut-ikutan somplak setan!" ujar sang pelaku yang. Emosi Arin dan Ella semakin memuncak mendengarkan teriakan penuh permusuhan dari Ella. Tangan mereka berdua terangkat hendak melayangkan tamparan pembalasan untuk Meta. Suasana semakin mencekam membuat semua yang ada disana deg-degan dengan apa yang akan dilakukan Arin dan Ella pada Meta. Namun lagi dan lagi, Angga dan Vero sama sekali tak bereaksi melihatnya. Meskipun sejujurnya, sedari tadi Angga sudah merasa sangat geram mendengarkan kata-kata sampah yang Arin dan Ella lontarkan mengenai Savana. Tapi sebisa mungkin Angga menahan diri untuk tak langsung memberi pelajaran pada kedua gadis itu. Yakali kan Angga ngelawan cewek. Gak banget! Lagian, selagi ada Meta yang berperan sebagai tameng Savana, Angga jadi lebih santai. Bukan apa, karena gadis lawannya juga harus gadis kan? Apalagi ini mengenai adu mulut. Emang paling cocok kalo itu dilakukan oleh kaum hawa kan? For your information saja, Meta memang dulunya ikut berkerja sama dengan Arin dan Ella dalam melakukan sesuatu yang bisa dibilang hal buruk kepada Savana. Hanya saja, gadis itu kini sudah benar-benar sadar sepenuhnya bahwa apa yang dia lakukan adalah suatu kesalahan. Suatu kesalahan besar yang bahkan memang sangat sulit untuk dimaafkan. Oleh karena itu, meskipun Savana kemarin tidak menyambut dengan baik kehadirannya, Meta sama sekali tidak merasa marah ataupun kecewa kepada gadis itu. Karena Meta sendiri tahu dan sadar bahwa semua yang terjadi pada Savana tentang sikap gadis itu pada Meta sendiri pun karena ulah diri meta pribadi. Jadi, rasanya sangat salah kalau Meta menyalahkan Savana tentang hal itu. Baru tangan mereka melayang hendak bergerak. Ada sepasang tangan yang mencegahnya. Ketika mendapati seseorang yang ada di belakang Arin dan Ella sedang mencekal tangan kedua gadis itu. Semua yang ada disana melotot terkejut. Kaget dengan keberadaan orang itu. Arin dan Ella yang merasakan ada sepasang tangan yang mencekal tangan mereka itu menoleh kemudian mata mereka membelalak kaget mendapati Anggun yang ternyata pelaku dari cekalan tangan mereka. Anggun berdiri dibelakang mereka dengan ekspresi datarnya. Anggun memang sedang tidak ada di sana tadi di awal-awal mereka semua berkumpul. Alasannya adalah karena Anggun tadi sempat diminta tolongi salah seorang guru untuk membawakan buku ke ruang guru sehingga Anggun telat untuk datang kesini. Dan betapa terkejutnya Anggun saat gadis itu malah mendapati suasana yang kurang mengenakkan saat gadis itu baru saja tiba di tempat itu. Semuanya semakin hening. "Udah main teriak-teriakannya?" ujar Anggun dengan raut wajah datar santainya. "Sekarang mau apa? Main tampar-tamparan?" lanjutnya masih tetap dengan raut wajahnya tadi. "Basi lo!" Anggun menghempaskan tangan Arin dan Ella dengan kasar. Gadis itu kini berjalan maju lewat ditengah-tengah antara Arin dan Ella. Kemudian dia menempatkan tubuhnya di depan Kinan. "Mental tempe kaya lo berdua sok-sokan mau ngelawan Meta," lanjutnya terkekeh sinis. Arin dan Ella yang tadinya sempat loading dengan situasi kini mulai terpancing emosi lagi. "Apa lo? Semuanya gara-gara temen kesayangan lo itu ya Nggun?!" Arin menatap Anggun menantang. Ella pun juga seperti itu. Anggun dengan santainya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Well, gue akhirnya tau kalo lo berdua bener-bener munafik. Persis seperti kata Meta barusan," ujarnya. "Hmm. Pantes sih, Nando mutusin lo El. Lo munafik sih," lanjutnya tersenyum miring menatap Arin dan Ella yang semakin tersulut emosi dengan tangan mereka yang terkepal kuat. "Pantes juga sih Sava masih ragu-ragu buat maafin lo berdua," ujarnya kembali menambahkan yang semakin membuat wajah Arin dan Ella memerah menahan emosi. "Kenapa? Marah?" tanya Anggun dengan nada mengejek. Tangan Arin mengepal kuat lalu mata gadis itu menatap Anggun dengan tatapan penuh permusuhan. "Lo udah diperbudak sama cewe sok polos yang namanya Sava ya Nggun? Sampe lo belain dia segininya," ujar Arin. "Jaga omongan lo Arin!" desis Meta marah. Lagi dan lagi Arin menyalahkan Savana yang sama sekali tidak tahu menahu tentang hal ini. Sebenarnya apa yang Arin pikirkan? Tatapan Arin beralih dari Anggun ke Meta. "Lo juga udah diperbudak sama cewe sok polos itu Meta," ujar Arin lagi kemudian. "Lo salah Rin," ujar Meta menanggapi dengan tenang perkataan Arin yang sebenarnya sangat menguji emosinya. "Bukan gue yang diperbudak sama Sava. Tapi lo nya aja yang udah buta sama rasa iri lo sama Sava," lanjur Meta dengan realistis. Orang-orang yang ada di sana seketika saja langsung berteriak heboh mendengar perkataan Meta. "Lo jangan munafik Meta. Lo sendiri juga dulu terlibat sama kita, lo gak jauh-jauh beda dari kita," ujar Ella membantu Arin yang nampaknya sudah kesusahan membela diri sendiri. "Bener. Gue dulu emang gak jauh beda sama lo berdua, dan gue akui sekarang, bahwa apa yang gue lakuin di masa lalu itu benar-benar hal yang paling menjijikkan buat gue. Gimana bisa gue berbuat kaya gitu dulu," ujar Meta menjawab dengan tenang. Meta tidak berusaha mengelak untuk hal itu karena memang begitulah kenyataannya. Setidaknya Meta mengakui kesalahannya di masa lalu. Tidak seperti Arin dan Ella yang bahkan sampai saat ini pun masih enggan mengakui kesalahannya. "Tapi setidaknya gue sekarang udah bisa lebih sadar diri lagi. Gak kaya lo berdua yang masih buta akan itu," lanjut Meta lalu berlalu pergi meninggalkan kumpulan orang-orang itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN