CHAPTER 64

1066 Kata
Disisi lain, di salah satu kantin yang ada di sudut SMA Bhakti. Sekelompok siswa laki-laki nampak sedang berkumpul. Mereka nampak sedang bersantai dengan beberapa diantaranya sedang bermain game di ponselnya. Dan beberapa di antaranya yang lain sedang mengerjakan tugas sekolah. Perkenalkan, mereka adalah Dafa, Tino, Frans dan Sena. Dulu, saat Savana masih bersekolah di SMA Bhakti ini. Gadis itu sempat berteman dengan keempat laki-laki ini. Bahkan, gadis itu sempat dekat dengan salah satu dari keempat laki-laki ini. Dafa. Itu adalah nama laki-laki yang sempat dikabarkan dekat dengan Savana saat gadis itu masih bersekolah di SMA Bhakti ini. "Tino g****k, lo jangan jadi beban doang anying! Jangan cuma numpang nama!" Sena menatap kearah Tino dengan kesal. Pasalnya, sekarang mereka sedang membuat tugas kampus bersama namun Tino bukannya membantu tetapi malah merusuh. Ketika Sena dan Frans sibuk mengerjakan dengan Sena sebagai orang yang mendikte dan Frans sebagai yang mengetik. Berbeda dengan Tino yang hanya duduk diam sembari membolak-balikkan kertas kosong yang berserakan di lantai. "Bantuin No! Lo pikir kita gak cape apa daritadi ngerjain cuma berdua sedangkan lo cuma duduk diem bengong," sahut Frans menimpali. "Ya gue juga mau bantu. Tapi bingung mau bantu apa anjir," jawab Tino tak terima disalahkan. "Lo gantiin Frans ngetik gih, biar Frans gantiin gue ngedikte. Gue mau beli minum dulu, haus," ujar Sena sembari menyerahkan buku tebal yang dia pegang kepada Frans. Cowok itu berdiri kemudian berlalu keluar. Sangat jauh berbeda dari Sena, Frans dan Tino. Kini Dafa malah terlihat sedang bermain game di ponselnya. Kebetulan sekali, tugas kelompok Dafa sudah cowok itu selesaikan dengan baik bersama dengan teman-teman kelompoknya yang kebetulan juga berisi anak-anak pintar di dalamnya. Hingga hal itu membuat Dafa lebih mudah mengerjakan tugas sekolahnya itu. "Jer ntar temenin gue cari buku di gramed ya. Lo kan yang paling hapal sama letak-letak bukunya," ujar seorang laki-laki yang baru saja dengan laki-laki lain di samping cowok itu yang nampak sedang membawa buku ditangannya. Ah, lebih tepatnya cowok itu sedang berjalan sembari membaca buku. Laki-laki itu adalah Chiko dan yang di sebelahnya itu adalah Jery. Chiko dan Jery juga merupakan teman Savana dulu. Karena Chiko dan Jery yang satu tongkrongan dengan Dafa membuat Savana juga menjadi mengenal kedua laki-laki itu. "Atur aja," balas Jery yang masih fokus dengan buku yang sedang dia baca. Ngomong-ngomong saat melihat teman-temannya atau lebih tepatnya Frans dan Tino yang sibuk mengerjakan tugasnya, Dafa tiba-tiba saja menjadi teringat dengan Savana. Dulu, Dafa dan Savana seringkali menghabiskan waktu mereka berdua untuk berbagai macam hal dan kegiatan. Salah satunya adalah dengan mengerjakan tugas bersama. Savana yang memang sangat pintar seringkali membantu Dafa yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugasnya. Savana benar-benar gadis yang baik. Hanya saja, memang Dafanya sendiri yang kurang merasa bersyukur hingga cowok itu juga mudah terhasut dengan omongan orang-orang disekitarnya yang belum tentu benar kebenarannya. Hah, kalau sudah mengingat Savana seperti ini, rasanya Dafa perlu untuk menelpon gadis itu. Namun, sayangnya semenjak gadis itu memutuskan untuk pindah dari SMA Bhakti, nomor telepon gadis itu sudah tidak bisa dihubungi lagi. Savana sudah tidak ada kabar sama sekali. Dafa tiba-tiba saja terlihat murung. Awalnya tidak ada yang menyadari hal itu, sampai Chiko tiba-tiba saja melihat kearah Dafa dan mendapati muka murung dari sahabatnya itu. "Kenapa lagi lo Fa? Murung banget kayanya, lagi ada masalah?" tanya Chiko langsung. Seketika saja, saat mendengar suara Chiko itu, baik Frans, Tino ataupun Jery yang tadinya fokus dengan kegiatan masing-masing secara kompak langsung menoleh menatap kearah Dafa. Dafa yang mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Chiko hanya menggelengkan kepalanya pelan. "Enggak, gue gak apa-apa," jawab cowok itu berbohong. Namun, Chiko jelas mengetahui tentang kebohongan Dafa itu. Pun juga dengan ketiga temannya yang lain yang ada di sana. "Gara-gara Sava lagi ya?" tebak Chiko langsung, tepat sasaran. Dafa sudah tidak bisa mengelak lagi setelahnya. Teman-temannya memang sangat tahu tentang hal apa yang seringkali mengganggu pikiran Dafa semenjak Savana pergi meninggalkan SMA Bhakti dan pindah ke kota baru. Kota yang kabarnya sama seperti kota tempat sahabat laki-laki Savana tinggal. Karena mendapati Dafa yang tidak mengelak sama sekali itu, Frans tiba-tiba saja bersuara. "Dengar-dengar, kemarin anak-anak SMP nya Sava ketemuan sama Sava ya? Karena ada kegiatan di kota itu, sama beberapa temen kelas Sava waktu kelas 10 juga pada ketemu sama Sava, itu benar gak sih?" tanya Frans tiba-tiba. Tino yang ada di sebelah Frans langsung menganggukkan kepalanya membenarkan. "Bener, gue lihat di snapgramnya salah satu temen gue yang satu kelas sama Sava dulu waktu kelas 10, dia ada post mini video gitu di snapgramnya, ada Sava lagi di video itu, kelihatan sekilas," jawab cowok itu memberitahu. Dafa yang mendengar itupun seketika saja langsung menoleh menatap Tino sepenuhnya. "Mana snapgramnya? Gue mau lihat dong," ujar Dafa dengan semangat 45. Tino yang melihat semangat dari Dafa itu tiba-tiba saja merasa kasihan dengan sahabatnya itu. Memang sebegitu berartinya Savana untuk Dafa. Tino lalu menggelengkan kepalanya pelan. "Maaf Fa, tapi snapgramnya udah langsung di hapus setelah beberapa menit di post," ujar Tino dengan jujur. Memang seperti itulah kenyataannya. Dafa mendadak lesu mendengarnya. Cowok itu merasa sedikit kecewa. "Kenapa lo gak langsung kasih tahu gue aja kalo ada snapgram temen lo tang memuat informasi terbaru soal Sava Tin?" ujar Dafa dengan lesu. "Sekali lagi maaf Fa, gue pikir lo udah berhasil lupain Sava. Karena udah hampir satu tahun berlalu, setelah kejadian itu. Gue sendiri aja juga udah gak yakin kalo Sava masih suka sama lo, mengingat kalian juga waktu itu berakhir dengan gak baik-baik," ujar Tino merasa bersalah. "Lo tahu sendiri gue kaya gimana Tin. Gak mungkin gue bisa berhenti buat pikirin Sava, gue gak mungkin bisa lupa gitu aja sama dia," ujar Dafa. "Terlepas dari masalah gue sama Sava di masa lalu, gue sampai saat inipun masih benar-benar suka sama dia," ujarnya melanjutkan kemudian. "Apa yang terjadi di masa lalu itu memang salah gue, murni semuanya salah gue. Dan kalaupun Sava emang udah gak suka gue pun, gue juga gak apa-apa, gue emang udah harus terima resikonya. Tapi seenggaknya, gue pengen ketemu sama dia Tin, gue mau minta maaf sama dia, secara langsung," ujarnya menambahkan. "Masalah perasaan gue, itu biar jadi urusan gue, gue yakin gue bisa atasin dan kendaliin itu sendiri," tutup Dafa kemudian menelungkup kan wajahnya di atas lipatan kakinya. Setelah pembahasan perihal Savana tadi, Dafa seketika saja sudah melupakan game yang ada di ponselnya yang masih menyala. Masa bodo soal itu, Dafa tidak peduli. Cowok itu saat ini benar-benar hanya sedang memikirkan perihal Savana saja. Tidak yang lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN