CHAPTER 41

1066 Kata
Semuanya berlalu begitu saja, Savana tak menyangka dirinya berhasil melewatinya dengan begitu mudah. Meski tak bisa dibohongi bahwa hati gadis itu sedikit merasa resah, tak bisa berdekatan dengan Geo adalah suatu hal yang tak pernah Savana bayangkan sebelumnya. Setidaknya semenjak gadis itu memutuskan untuk menyukai Geo dan mulai mendekati cowok itu. Satu minggu sudah berlalu sejak kejadian dimana Savana datang ke kelas Geo dan mengutarakan keinginannya dan keputusannya yang memilih berhenti mendekati Geo saat itu. Sementara di sisi lainnya, Reno dan Lula benar-benar menjadi sangat dekat sekarang. Sepasang remaja yang saling mengenal karena adanya Savana tersebut kini terlihat lebih sering bersama. Bahkan ketiga tidak ada Savana sekalipun. Seperti saat ini, ketika Savana sedang berada di perpustakaan sekolah untuk meminjam beberapa buku sendirian, Reno dan Lula justru nampak terlihat sedang bersama. Mereka duduk berdua di satu bangku kantin. Reno memutuskan untuk memisahkan dirinya dari Aldi dan Geo, cowok itu ingin menemani Lula katanya. "Jadi gimana Ren? Kenapa semuanya bisa beres secara tiba-tiba gitu aja?" tanya Lula meras sangat penasaran. Pasalnya, setelah keesokan harinya saat Savana memutuskan untuk berhenti mendekati Geo, Savana sama sekali belum menceritakan apapun tentang hal itu kepada Lula. Savana terlihat sedikit murung dan hal itu membuat Lula menjadi tak tega untuk menanyakannya. "Gue bener-bener heran, hal apa sih yang bisa ngebuat Sava bisa tiba-tiba mau berhenti suka sama Geo, padahal selama ini juga kita tahu. Itu anak sulit banget dibilangin. Bebalnya gak ada yang bisa ngalahin," tambah Lula lagi melanjutkan. Mengeluarkan segala unek-unek yang ada di otaknya. Reno terkekeh pelan mendengarkan perkataan Lula, gadis yang sebenarnya tomboy di depannya ini menurutnya sangat menggemaskan. Ekspresi muka Lula saat gadis itu mengomel dan menyampaikan segala bentuk pikirannya terlihat seperti seorang gadis polos yang tidak tahu apa-apa. "Kok lo malah ketawa sih Ren? Gue serius ini," ujar Lula protes saat melihat Reno yang tadi dibuat terkekeh kecil karena tingkah dari Lula sendiri. Kepala Reno menggeleng pelan untuk menjawabnya, kekehan itu kini Reno berhasil ubah menjadi sebuah senyuman kecil. Ah, entahlah, haruskah Reno akui bahwa cowok itu kini telah jatuh hati kepada Lula? "Gak apa-apa," jawab Reno singkat. "By the way, soal pertanyaan lo tadi, sebenarnya gue juga sedikit gak percaya pada awalnya, gue cukup meragukan karena seperti yang kita tahu, Savana suka pake banget sama Geo. Gimana mungkin Savana yang memang sesuka itu sama Geo bisa tiba-tiba mutusin buat berhenti deket dan menjauh dari Geo," ujar Reno mengutarakan pikiran awalnya tentang Savana yang tiba-tiba memutuskan untuk ingin berhenti mendekati Geo. "Tapi kenyataannya emang gitu kan? Sava emang udah mutusin buat berhenti deketin Geo, gue sendiri juga yang jadi saksi nya waktu Sava ngomongin kata-kata perpisahan terakhirnya buat Geo. Di sana juga ada Aldi juga sih," tambahnya sedikit menambahkan. "Dia bisa tiba-tiba begitu karena dia dapat mimpi La. Dia bilang sama gue, katanya dia mimpi Geo bentak dia di kantin sekolah, dan disaat itu Sava jadi sedikit takut, ah enggak, emang dia jadi sangat takut itu jadi kenyataan, lo tahu gak soal trauma Sava tentang hal-hal yang berhubungan sama bentakan? Dan itulah yang ngebuat dia jadi takut. Sava emang setakut itu untuk dibentak, apalagi oleh orang-orang yang dekat sama dia," papar Reno dengan menatap tepat pada bola mata Lula yang memang duduk di hadapannya. "La, gue gak akan ngomongin lebih banyak hal soal trauma Sava sama bentakan. Gue gak punya hak untuk cerita soal itu, itu bukan ranah gue ikut campur. Jadi maaf, cerita soal trauma itu akan cukup sampai disini, gue gak akan jelasin lebih banyak lagi," ujar Reno dengan sungguh-sungguh. Memang itu bukan ranah Reno untuk bercerita karena selain itu adalah cerita pribadi dari kehidupan Savana sebelumnya, tapi itu juga merupakan suatu aib untuk Savana sendiri. Reno tak mungkin setega itu untuk menyebarkan cerita yang merupakan sebuah aib untuk sahabat baiknya, Savana. Sekalipun itu kepada orang yang juga merupakan sahabat Savana yang lain, seperti Lula ini contohnya. Lula mengangguk paham saja mendengarnya. Meski tak dapat di elak lagi, gadis itu merasa sedikit kecewa karena dirinya tak mengetahui Savana sedalam Reno, tapi Lula cukup merasa senang karena Reno mau bercerita tentang trauma Savana. Meski tidak tahu penyebabnya, namun setidaknya Lula jadi tahu bahwa Savana tidak bisa menerima bentakan karena hal itu bisa cukup mengganggu mental gadis itu. Lagi pula, kalau bukan Reno yang bercerita tentang hal ini kepada Lula, Lula juga mungkin tidak akan pernah tahu bahwa Savana memiliki trauma. Yang ada, Lula malah akan mengira Savana shock biasa saja saat gadis itu menerima bentakan. Padahal, kenyataannya tidak sesimpel itu. "Gak apa-apa Ren, gue tahu kok kalo lo gak punya hak untuk cerita itu sama gue," ujar Lula memakluminya. "Ngomong-ngomong, gue seneng dengernya. Mungkin juga mimpi itu bisa aja bakalan jadi kenyataan di masa depan, Sava ternyata mau berubah karena mimpi itu, tadinya gue mau berterimakasih sama orang yang udah buat Sava yakin untuk berhenti coba deketin Geo. Tapi, karena itu mimpi, apa gue perlu berterimakasih sama mimpi itu?" tanya Lula dengan konyolnya. Reno langsung tergelak begitu mendengarkan perkataan konyol Lula. "Gak perlu segitunya juga kali La," ujar Reno disertai kekehan kecilnya. "Eh iya, tapi ada satu hal lain di mimpi Sava yang dia ceritakan sama gue," ujar Reno lagi melanjutkan. "Satu hal lain?" beo Lula sedikit bingung. "Apa itu?" lanjutnya bertanya. Reno diam-diam tersenyum di dalam hatinya, sementara wajahnya cowok itu buat seolah cowok itu sedang sangat serius saat ini agar Lula berhasil terpancing. Ah, sebenarnya pembicaraan ini memang cukup penting untuk Reno sendiri. Reno sedikit mencondongkan wajahnya maju kearah Lula, Lula yang melihat itupun secara reflek ikut mencondongkan wajahnya kearah Reno, Lula penasaran dengan apa yang cowok itu katakan. "Jadi, Sava bilang kalau di mimpi dia itu, kita deket banget, bahkan lebih mirip ke orang yang lagi pacaran atau pendekatan gitu," kata cowok itu masih mempertahankan raut wajah seriusnya. Sementara Lula seketika langsung merubah raut wajahnya menjadi malas. Saat ingin memundurkan wajahnya, Reno malah menahan kepala gadis itu agar tetap stay di depannya. "Tadi lo bilang mungkin mimpi Sava bakalan kejadian di masa depan kan yang soal Geo bentak Sava?" kata Reno menambahkan. "Nah kalau gitu gue mau nambahin. Kalau mimpi Sava soal kedekatan kita, itu bakalan benar-benar jadi kenyataan di masa depan. Tunggu aja," ujar Reno lalu menepuk sekilas puncak kepada Lula sebelum cowok itu menjauhkan wajahnya dari Lula. Lula dibuat terpaku di tempatnya, perkataan Reno itu, berhasil membuat jantung Lula berdetak dua kali lebih cepat dan wajah Lula terasa sedikit lebih panas dari biasanya. Ah, apa yang baru saja Reno lakukan pada Lula?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN