Malam terasa begitu dingin hari raya ini, di kediamannya, Geo nampak terlihat sedang terdiam di balkon kamarnya. Mata cowok itu terpaku pada bintang-bintang yang menghiasi langit malam. Pikiran cowok itu melayang entah kemana. Yang jelas, beberapa hari ini cowok itu merasa kurang nyaman dan seperti ada yang kurang di hidupnya.
Entah apa yang membuat cowok itu merasa seperti itu.
Selama beberapa hari ini, Geo benar-benar sudah tidak mendapatkan lagi gangguan dari Savana. Seperti apa yang cowok itu harapkan sebelumnya. Savana memang benar-benar sudah tidak mendekati cowok itu lagi. Bahkan, saat tak sengaja berpapasan dengan Savana di jalan pun, gadis itu hanya acuh tak acuh dengan kehadiran Geo. Savana benar-benar seperti tak melihat diri Geo ada di sekitar gadis itu.
Persahabatan Geo, Aldi dan Reno pun juga tetap berjalan dengan mulus. Meski sempat goyah karena perkataan Aldi yang terlalu membela Savana saat itu, namun semuanya dapat dengan cepat membaik. Dan itu cukup melegakan untuk Geo. Karena bagi cowok itu, persahabatan adalah hal kedua yang harus cowok itu jaga selain keluarga.
Untuk masalah kisah cintanya, jujur saja Geo sama sekali belum memikirkan hal itu. Sebelumnya memang tak pernah terbesit sekalipun dipikiran Geo untuk memiliki seorang kekasih. Sampai kedatangan Savana yang saat itu terlalu gigih dan bersikeras untuk mendekati Geo membuat Geo tiba-tiba saja berpikir, apakah memiliki kekasih adalah satu hal yang penting untuk hidup Geo?
Apakah memiliki kekasih tidak akan mengganggu hidup Geo kedepannya nanti? Mengingat, beberapa kali Geo pernah mendapati seseorang yang sedang berkencan bersama kekasihnya di beberapa tempat yang berbeda. Beberapa diantaranya sangat amat mengganggu penglihatan Geo, cowok itu merasa dari beberapa pasangan yang dia temui di beberapa tempat itu, tak sedikit dari mereka yang terlihat sangat menjijikkan di mata Geo.
Ada juga beberapa pasangan yang terlihat sangat mengganggu karena si gadis yang mengganggu pacarnya saat pacarnya sedang bermain game di ponselnya. Dan hal itu berhasil membuat Geo yakin, bahkan cowok itu memang tidak membutuhkan kekasih. Ya, setidaknya untuk saat ini.
Ngomong-ngomong soal kekasih, bahkan Aldi dan Reno sendiri pun tidak memiliki kekasih. Reno juga sama sekali tidak pernah memiliki kekasih, sama seperti Geo. Berbeda dengan Aldi yang memang pernah berpacaran dengan seorang gadis di masa sekolah menengah pertama saat itu. Geo ingat betul bagaimana bodohnya Aldi saat cowok itu menyukai seorang gadis di masa sekolah menengah pertamanya itu. Bahkan, disaat gadis yang Aldi sukai itu menyelingkuhi Aldi, Aldi tetap setia. Aldi tetap memaafkan gadis itu. Saat itu posisinya memang Aldi dan si gadis sudah berpacaran.
Hal itu juga menjadi salah satu alasan kuat yang membuat Geo enggan untuk memiliki seorang kekasih. Terlalu membuang waktu berharganya serta terlalu membuang tenaganya.
Sementara Reno, meski cowok itu tak pernah memiliki kekasih, namun di kehidupan cowok itu sebelum bertemu Geo dan Aldi, Reno sudah pernah sangat dekat dengan seorang gadis, jelas itu adalah Savana.
Saking dekatnya, beberapa orang yang bertemu dengan mereka bahkan banyak yang mengira Savana dan Reno merupakan sepasang kekasih, atau kalau tidak beberapa orang itu juga akan mengira bahwa Reno dan Savana adalah kakak adik. Saking dekat dan seringnya mereka bersama.
Kalau boleh jujur, di dalam hati Geo yang sebenarnya, cowok itu sejujurnya dapat menerima dengan baik alasan Reno tetap membela Savana atas dirinya yang serta merta membenci gadis itu. Mengingat Savana adalah sahabat Reno yang bahkan sudah menemani cowok itu lebih dari Geo sendiri.
Geo sangat tahu betul, bahwa Reno begitu menyayangi Savana dan menjaga gadis itu, bahkan melebihi diri cowok itu sendiri. Reno seakan menyerahkan semua yang ada pada dirinya untuk dan demi menjaga Savana, melindungi gadis itu.
Tapi justru itulah yang membuat Geo merasa Savana akan sangat menjadi beban. Gadis itu terlalu merepotkan Reno, dan Geo tidak suka itu.
Padahal, Reno sendiri nampak senang-senang saja saat cowok itu bisa membantu Savana.
"Geo, kamu dimana sayang?" panggilan tersebut berhasil membuat pikiran Geo yang tadinya berkelana seketika kembali ke dunia nyata. Itu adalah suara Mama Geo.
"Di balkon kamar Ma," ujar Geo setengah berteriak, agar Mamanya dapat mendengar dengan baik jawabannya.
Tak butuh waktu lebih lama lagi, Mama Geo terlihat langsung datang mendekati Geo yang belum merubah posisinya sama sekali sedari tadi.
"Kamu kenapa malem-malem gini duduk di balkon sih Geo? Kan dingin, nanti kamu sakit gimana?" ujar Mama Geo dengan penuh perhatian pada anaknya yang satu itu. Tangan wanita paruh baya itu mengelus rambut Geo dengan penuh kasih sayang. Dan Geo nampak sangat menikmati elusan di rambutnya itu.
"Geo emang sengaja lagi nyari angin Ma, Geo bisa stress kalo berada di dalam ruangan terus," celetuk cowok itu menjawab dengan santai dan jujur. Memang begitulah niat awal Geo, cowok itu ingin me-refresh otaknya yang akhir-akhir ini cukup dibuat pusing entah karena apa.
"Kamu lagi ada masalah ya?" tanya Mama Geo dengan penuh perhatian. Mama Geo benar-benar tahu apa yang sedang Geo pikirkan, Mama Geo sangat tahu jika ada sesuatu yang mengganggu pikiran anaknya itu. Dan sekarang pun wanita paruh baya itu juga tahu bahwa pikiran anaknya sedang sangat kacau.
Sebenarnya, beberapa hari sebelumnya, Mama Geo sudah menyadari bahwa ada sesuatu yang mengganggu pikiran Geo, hanya saja Mama Geo belum ingin bertanya terlebih dahulu. Mama Geo menunggu Geo sendiri yang akan bercerita. Namun, karena sudah ditunggu dan tak kunjung cerita, akhirnya Mama Geo memutuskan untuk langsung bertanya saja kepada anaknya itu. Apa yang sedang mengganggu pikirannya, siapa tahu Mama Geo bisa membantu dan mencarikan solusinya.
Geo terdiam sejenak mendengarkan perkataan Mamanya itu. Ah, Mamanya memang tidak bisa dibohongi, itulah yang Geo pikirkan.
"Geo, kalo ada sesuatu yang benar-benar buat Geo merasa gak nyaman, tolong bilang sama Mama. Cerita aja sama Mama, siapa tahu Mama bisa bantu Geo carikan solusinya. Jangan di pendem sendiri, nanti Geo malah jadinya stress," nasihat Mama Geo berhasil membuat Geo menghela napasnya panjang dan berat.
"Sebenarnya, memang ada beberapa hal yang lagi ganggu pikiran Geo Ma, tapi Geo gak tahu hal apa itu," ujar Geo pada Mamanya, memulai awal ceritanya.
Mama Geo nampak mengulas senyumnya tipis. Sangat paham dengan sikap anaknya yang satu itu. Selalu bingung dengan apa yang sedang anak itu pikirkan sendiri. Karena Geo terlalu banyak berusaha menyangkal pikirannya sendiri.
"Geo, coba kamu jangan sangkal apapun yang ada dipikiran kamu. Dan dengan begitu, Mama yakin kalau kamu pasti akan segera menemukan jawaban dari apa yang sedang benar-benar mengganggu pikiran kamu. Setelahnya, kamu baru bisa mengatasinya," kata Mama Geo memberikan sedikit solusi untuk anaknya.
Geo seketika terdiam hening ditempatnya, cowok itu akan mulai memikirkan apa yang Mamanya katakan.
Ah, memang benar. Seharusnya sedari awal pun Geo bercerita kepada Mamanya. Karena Mamanya akan selalu memiliki solusi untuk apa yang sedang berusaha cowok itu lalui.