Geo datang ke sekolah lebih awal daripada biasanya. Cowok yang biasanya selalu datang di saat jam sudah sangat mendekati bel masuk berbunyi itu kini justru sudah duduk dengan tenang di bangkunya sendiri bahkan pada saat 30 menit sebelum bel masuk berbunyi.
Geo duduk sendirian di bangkunya. Meski di kelas Geo sudah ada beberapa anak yang sudah datang, yang jelas mayoritas dari teman sekelas Geo yang sudah datang mereka berjenis kelamin perempuan. Geo tetap hanya duduk dengan tenang di tempatnya. Cowok itu tidak berniat untuk sekedar basa-basi atau mengobrol ringan dengan teman-teman kelasnya. Bahkan yang berjenis kelamin laki-laki sekalipun. Geo tidak berminat untuk itu.
Di dalam kelasnya itu, Geo memang hanya berteman dekat dengan Reno dan Aldi. Ah, bahkan bisa dikatakan bahwa di SMA Nusa Bangsa, Geo memang hanya memiliki Reno dan Aldi sebagai teman dekatnya. Begitupun sebaliknya, baik Reno ataupun Aldi pun juga hanya memiliki Geo dan masing-masing dari mereka yang menjadi teman dekatnya.
Namun sedikit berbeda dengan Geo, Reno dan Aldi masih bisa mengobrol santai atau sekedar basa-basi dengan teman-teman kelasnya atau orang-orang di sekitarnya. Sementara Geo, cowok itu benar-benar hanya bisa melakukan semua itu dengan orang-orang terdekatnya saja. Bahkan, terkadang saat bersama dengan orang terdekatnya pun Geo masih sedikit kaku.
Saat bersama orang yang menurut Geo asing, cowok itu hanya akan berbicara seperlunya saja, misalnya saat memiliki suatu kepentingan saja. Geo tak akan bisa membicarakan hal random kepada orang-orang asing itu.
Orang asing yang Geo maksud adalah semua orang kecuali keluarganya dan sahabatnya.
"Wah, mimpi apa nih temen gue, bisa tiba-tiba dateng pagi gini," celetuk Reno dengan iseng begitu cowok itu masuk kedalam kelasnya dan mendapati Geo yang sudah duduk nyaman di bangkunya sendiri. Langkah kaki Reno secara otomatis membawa cowok itu untuk segera mendekati Geo. "Kesambet apaan lo bro?" lanjut Reno lagi sok asik. Cowok itu kini sudah mendudukkan tubuhnya di kursi yang berada tepat di sebelah Geo. Kursi yang beberapa hari ini selalu ditempati oleh Aldi.
Geo hanya melirik Reno dengan malas. Selalu saja seperti ini, kedua teman dekatnya memang tidak ada yang waras sama sekali. Reno dan Aldi sama-sama iseng dan suka menggoda Geo. Mereka berdua suka sekali membesar-besarkan suatu hal yang tidak penting menurut Geo.
"Yaelah Ge, santai aja kali," tegur Reno saat mendapati lirikan mata Geo yang nampak malas menanggapi perkataannya. "By the way, gue dengar-dengar kemarin ada adik kelas yang coba deketin lo ya? Gimana sekarang nasibnya?" tanya Reno secara tiba-tiba.
Memang di sepanjang koridor sekolah tadi, Reno beberapa kali mendapatkan pertanyaan dari beberapa siswi yang tidak sengaja berpapasan dengannya tentang Geo yang didekati oleh salah seorang adik kelas. Reno jujur saja tidak paham maksud dari pertanyaan siswi-siswi tersebut pada awalnya, sampai salah satu dari siswi yang menanyai perihal Geo tersebut mengatakan kepada Reno bahwa ternyata kemarin saat Geo di parkiran dan sedang bersiap pulang setelah ada sedikit urusan di ekstranya, ada salah seorang adik kelas yang tiba-tiba datang mendekati Geo dan meminta nomor telepon dari cowok itu.
Beberapa siswa-siswi yang memang masih tinggal di sekolah karena memiliki beberapa urusan lain di sana, contohnya seperti Geo yang memiliki urusan perihal ekstra, mereka memergoki kejadian itu. Dan karena hal itulah berita tentang Geo yang kembali didekati oleh seorang gadis terlebih seorang adik kelas itu kini menyebar si SMA Nusa Bangsa.
Ah, Reno jadi ingat betul bagaimana rupa dan ekspresi yang diberikan Savana saat mendengar berita tentang itu. Karena Savana yang memang berangkat bersama dengan Reno membuat gadis itu juga ikut mendengar berita itu dengan jelas.
Raut wajah Savana tidak bisa berbohong, gadis itu merasa sedih tadi. Reno dapat melihat raut wajah sendu gadis itu kembali.
"Gue gak suka dideketin kaya gitu. Risih," jawab Geo apa adanya. Memang seperti itu yang Geo rasakan. Risih saat didekati oleh gadis-gadis yang terobsesi dengan diri cowok itu.
Reno mengangguk dengan singkat menanggapinya. Untuk soal itu, Reno memang sudah tahu dengan jelas. Reno bahkan sudah hafal diluar kepalanya.
"Lo langsung bantai habis sampai dia jera kaya yang udah-udah, atau lo tetep keep dia sama kaya Sava yang lo keep, tapi kalau sampai suatu saat emosi lo udah gak terbendung lagi, lo bakal luapin semuanya?" tanya Reno langsung yang berhasil membuat Geo terbungkam seketika.
Geo tak pernah memberitahu Reno perihal hal ini. Geo memang sengaja menolak Savana sedikit demi sedikit karena cowok itu selama ini terus menabung emosinya di dalam dirinya sendiri. Dan kalau saja emosi itu sudah tidak terbendung lagi, Geo akan langsung meluapkannya pada Savana. Karena dengan begitu, Geo yakin Savana akan langsung menyerah dan menjauhinya.
Namun Geo sendiri jujur saja tak pernah menyangka sebelumnya bahwa ternyata Savana akan berhenti sampai di situ saja, bahkan di saat emosi Geo baru terisi sebagian, Savana sudah memilih untuk mundur dan menyerah. Ah, bukankah itu bagus untuk Geo? Sekarang Geo sudah tidak perlu lagi pusing-pusing memikirkan cara untuk menyingkirkan seorang Savana tanpa berimbas pada persahabatannya. Mengingat Savana adalah sahabat kesayangan Reno. Perempuan yang paling dekat dengan cowok itu selain Mamanya.
Geo hanya menghendikkan bahunya acuh tak acuh. Dia sendiri bingung ingin menjawab apa, karena kemarin Geo sama sekali tidak menanggapi adik kelasnya itu. Yang Geo lakukan hanyalah pergi meninggalkan adik kelasnya itu di parkiran sekolah tanpa berniat membalas satu kata pun perkataan adik kelas itu. Bahkan melirik adik kelas itupun Geo enggan. Dia tak berminat.
"Tolak dia kalau lo emang gak suka sama dia. Gue rasa, adik kelas itu jauh lebih mudah buat disingkirkan daripada Sava. Gue akui, sahabat gue yang satu itu emang bener-bener keras kepala kalau udah menyangkut soal lo," ujar Reno tiba-tiba membahas perihal Savana tanpa cowok itu sadari. Geo sendiri tiba-tiba saja ikut menegang di tempatnya, pembahasan soal Savana cukup sensitif juga untuk cowok itu ternyata.
"Tapi untungnya, itu semua udah berlalu. Sava udah janji juga sama gue kalo dia gak akan lagi berusaha buat ganggu lo meski dia sendiri juga bilang sama lo kalau dia hanya akan berhenti buat coba deketin lo, dia gak akan berhenti buat mencintai lo," tutur Reno entah kenapa semakin memperjelas pembahasan tentang Savana.
"Gue gak suka dia," jawab Geo dengan cepat berhasil menyita perhatian Reno sepenuhnya untuk menatap kearah cowok itu.
"Dia yang gak lo itu siapa maksud lo? Sava atau si adik kelas?" tanya Reno dengan bingung karena menurut Reno, perkataan Geo cukup ambigu.
"Adik kelas," jawab Geo lugas. Tidak ada keraguan sama sekali di setiap perkataan cowok itu.