"Kemarin malem aku mimpi buruk Reno," ujar Savana mengawali ceritanya. Saat ini posisinya Savana sedang bersama dengan Reno di taman tempat dimana Lula, Savana dan Reno mengobrol di mimpi Savana kemarin malam.
Sekarang sudah masuk jam istirahat di SMA Nusa Bangsa, Savana dan Reno memutuskan untuk menghabiskan waktu istirahat mereka di taman ini. Lebih tepatnya untuk Savana yang menceritakan tentang mimpi buruknya semalam kepada Reno. Dan untuk Reno yang mendengarkan dengan baik cerita dari Savana.
Reno masih bergeming di tempatnya, sengaja tak menjawab dan hanya menunggu kelanjutan ucapan dari Savana karena cowok itu tahu, Savana akan langsung menceritakan mimpinya itu tanpa perlu ditanyai Reno lebih lanjut.
"Mimpi buruk itu isinya tentang Aku, Geo, Kamu dan Lula Ren," lanjut gadis itu kemudian. Savana terdengar menghela napasnya sedikit berat, sedikit sesak mengingat mimpinya kemarin malam.
Sebenarnya, kalau diingat-ingat, mimpi Savana kemarin tidak seburuk itu. Hanya saja, ketika mengingat bagaimana cara Geo membentak Savana saat berada di kantin, mampu membuat hati Savana merasa sesak.
Meskipun di mimpi Savana gadis itu terlihat masih sangat kekeuh dan yakin untuk mendekati Geo, namun di kehidupan nyata, siapa yang menyangka bahwa gadis yang biasanya terlihat begitu gigih mendekati Geo kini mulai menjadi bimbang.
Bayang-bayang mimpi itu seakan menghantui Savana di kehidupan nyata.
"Di mimpi itu, posisinya aku lagi deketin Geo Ren, sama kaya apa yang aku lakuin sekitar satu bulan lebih ini," ujar Savana memulai awal ceritanya. "Kejadian tepatnya di kantin, waktu aku coba deketin Geo, Geo terus aja berusaha nolak, ya itu juga terjadi di kehidupan nyata kan? Aku sebenarnya gak masalah soal penolakan itu pada awalnya, sampai pada akhirnya Geo bentak aku di kantin itu Ren," lanjut gadis itu kemudian.
Dari sepenggal cerita yang baru saja disampaikan Savana, Reno sudah dapat mengetahui apa yang membuat gadis itu menganggap bahwa mimpinya yang baru dialami kemarin malam itu adalah suatu mimpi yang buruk.
Memangnya, apa yang lebih buruk dari mendapatkan penolakan dari seseorang yang dicintai? Apalagi di bentak di depan umum, bukankah itu sama saja seperti mempermalukannya?
Rasa sakit hati itu pasti terus menumpuk saat mengalami serangkaian kejadian tak mengenakkan itu dalam satu waktu yang sama. Reno paham betul tentang itu.
Meskipun itu hanya terjadi di dalam mimpi Savana saja, namun kenyataan bahwa gadis itu begitu mempercayai dan menganggap serius tentang mimpi menyebabkan Reno harus mencoba menenangkan Savana saat ini. Yang Savana butuhkan saat ini memanglah kata-kata penenang dan teman untuk cerita. Dan Reno akan memberikan itu semua kepada Savana.
"Gak apa-apa Savana, bukannya itu cuma mimpi ya? Mimpi itu cuma bunga tidur, gak semua mimpi itu berdasarkan kenyataan, jadi jangan terlalu dipikirin ya?" ujar Reno sembari tangan cowok itu terulur untuk mengelus lembut bahu Savana.
Savana terlihat menggelengkan kepalanya, tidak membenarkan perkataan Reno. Gadis itu mencoba untuk menyangkalnya. "Enggak Ren, itu bukan sekedar mimpi. Rasanya mimpi itu emang begitu nyata. Kamu percaya aku kan Ren?" ujar Savana menatap Reno dengan tatapan penuh harap. Memang benar, Savana menaruh banyak harapan kepada Reno agar cowok itu dapat mempercayai perkataannya.
"Iya Sava iya, aku percaya kok. Dan memang akan selalu percaya sama kamu, Va," ujar Reno penuh kejujuran. Begitulah kenyataannya, disaat banyak orang tidak mempercayai perkataan Savana, maka Reno adalah satu-satunya orang yang akan berdiri di samping gadis itu dan menggenggam tangannya sembari mengelus lembut untuk menenangkan. Reno satu-satunya orang yang akan menaruh semua kepercayaannya kepada apapun yang Savana katakan. Itu juga berlaku sebaliknya.
Savana selalu percaya dengan perkataan Reno, gadis itu tak pernah sekalipun menaruh rasa curiga kepada Reno, tak pernah sekalipun merasa resah kalau saja Reno sampai membohongi dirinya.
Ah, bahkan untuk berpikir Reno akan membohonginya pun Savana tak pernah.
"Terus selanjutnya kamu mau kaya gimana lagi Va?" tanya Reno memastikan langkah selanjutnya yang akan dilakukan gadis itu. Jujur saja, kalau Reno boleh berharap, cowok itu sangat menginginkan Savana mengambil langkah menyerah atas Geo dan mencari sosok laki-laki untuk bisa gadis itu sukai. Tentunya laki-laki itu harus lolos seleksi Reno terlebih dahulu, dan yang paling penting, cowok itu harus sangat menyayangi Savana, bahkan melebihi rasa sayang Savana untuk cowok itu sendiri.
Namun, kalau saja kenyataannya tidak sesuai dengan apa yang Reni harapkan, Reno sama sekali tak mempermasalahkan itu. Kalau saja Savana lebih memilih untuk tetap mendekati Geo, maka Reno akan mencoba terus mendukungnya dan semakin berusaha melindunginya.
Hanya dengan mendapatkan mimpi di bentak Geo saja Savana bisa sekacau ini, lalu bagaimana kalau di kehidupan nyata gadis itu mendapatkan bentakan daru Geo? Akan jadi seperti apa nanti gadis itu?
Reno sedikit miris saat memikirkannya.
Mata Savana terus menatap kearah Reno sebelum gadis itu menjawab pertanyaan yang baru saja cowok itu lontarkan. "Aku gak bisa bohong kalau aku masih suka sama Geo Ren, bahkan masih sangat suka," Savana menundukkan kepalanya sejenak, dadanya merasa sedikit sakit saat mengingat kenyataan bahwa Geo, laki-laki yang sangat disukai bahkan dicintainya itu tidak membalas perasaannya. Bahkan malah terlihat sangat tidak menyukainya. "Tapi soal mimpi itu, aku takut Ren kalau sampai semuanya jadi kenyataan," lanjutnya lagi kemudian.
Reno mengangguk paham dengan kebimbangan hari Savana, memang akan sulit untuk gadis itu mengingat dibentak adalah salah satu hal yang paling berpotensi untuk menyakiti hati gadis itu. Apalagi kalau itu dilakukan oleh seseorang yang begitu disukai. Pasti sangat berat untuk gadis itu.
"Tapi ngomong-ngomong Ren, terlepas dari mimpi aku soal Geo, aku tadi kan sempet bilang kalau kamu dan Lula turut hadir di mimpi aku," ujar Savana, kali ini gadis itu kembali mengangkat kepalanya, kembali menatap kearah Reno. Tatapan gadis itu perlahan-lahan juga sudah mulai berubah lebih tenang. "Dan di mimpi aku itu, aku ngelihat kamu dan Lula deket banget, udah kaya orang yang pacaran. Kalian terlihat akrab, saling suka satu sama lain, tapi entah karena apa kalian gak pacaran di mimpi aku," papar Savana panjang lebar. Gadis itu mulai terlihat antusias kembali saat menceritakan perihal mimpinya tentang Lula dan Reno kepada Reno.
Sejenak, Savana berhasil mengalihkan pikirannya sendiri. Begitupun dengan pikiran Reno. Yang awalnya cowok itu ikut terpaku pada cerita Savana tentang Geo, kini cowok itu malah dibuat berdebar denhan wajahnya yang mulai memanas tanpa sebab.
"Aku lihat-lihat juga, kamu kayanya akhir-akhir ini emang selalu deket sama Lula ya Ren? Kamu sama Lula kelihatannya sekarang memang lagi deket banget," Savana menatap Reno dengan tatapan polos miliknya saat mengatakan itu. Sedangkan Reno benar-benar berhasil dibuat salah tingkah karena perkataan Savana.
Kenyataan bahwa ternyata selama ini Savana menyadari kedekatannya dengan Lula membuat Reno merasa malu. Padahal selama ini Reno kira Savana belum mengetahuinya, gadis itu belum menyadarinya. Tapi ternyata, semuanya diluar dugaan Reno. Savana sudah sadar lebih dulu bahkan sebelum Reno sempat menjelaskan.
"Soal itu..."