Perasaan lega setelah menceritakan semua hal tentang mimpinya yang sedari tadi berhasil membuat dirinya merasa cemas dan tidak tenang berhasil Savana dapatkan setelah bercerita dengan Reno.
Sedikit banyak Savana sudah mengetahui beberapa hal yang akan dia lakukan kedepannya. Tidak ingin menjadi Savana seperti di mimpinya yang melawan perkataan Reno. Tidak, tidak akan.
Saat ini, Savana sedang berada di dalam kelas gadis itu, duduk di bangkunya dengan Lula yang juga berada di sebelahnya. Di depan kelas Savana, terdapat guru perempuan yang sedang mengajar. Namun Savana tidak terlalu fokus mendengarkan apa yang guru itu jelaskan. Pikiran gadis itu masih sedikit berkelana tentang beberapa hal yang masih juga mengganggu pikirannya, meskipun gadis itu sudah merasa lebih baik daripada pagi tadi.
Ngomong-ngomong, Savana belum menceritakan perihal mimpinya itu kepada Lula, gadis itu hanya menceritakannya kepada Reno saja. Bukannya Savana tidak ingin menceritakannya kepada Lula, tapi waktunya saja yang belum pas.
Saat menceritakannya kepada Reno tadi pun, Savana memang tidak berniat untuk mengajak Lula ikut serta. Memang niatnya Savana tidak ingin menceritakannya terlebih dahulu kepada Lula. Mungkin nanti, Savana akan menceritakannya setelah Savana berhasil menyelesaikan apa yang sedang mengganggu pikirannya Savana saat ini. Dan setelah gadis itu berhasil mengambil keputusan yang tepat tentang Geo kedepannya.
"Kamu kenapa Va? Ada yang lagi ganggu pikiran kamu? Bukannya tadi waktu istirahat udah pergi sama Reno ya? Masih belum dapat titik terang atau gimana?" tanya Lula berturut-turut dengan wajah yang menampilkan kecemasannya. Gadis itu bertanya dengan berbisik pelan, takut guru yang sedang mengajar di depan kelas itu mendengarkan suaranya dan berakhir dirinya yang dihukum, bersama dengan Savana tentu saja.
Lula memang menyadari tentang sedikit kegelisahan yang masih dimiliki Savana. Bukan lagi tentang keputusan yang akan gadis itu ambil, tapi tentang apakah gadis itu sanggup untuk melakukan apa yang sudah ada dipikirannya itu kepada Geo. Itu yang membuat gadis itu merasa sedikit gelisah.
Savana menoleh menatap Lula yang sedang menatapnya dengan cemas. "Gak apa-apa kok La, Sava udah tau apa yang harus Sava lakuin kedepannya, cuma sedikit grogi aja," ujar Savana menjawab disertai dengan senyuman menenangkan. Gadis itu tak ingin membuat Lula khawatir dan cemas dengan keadaannya.
Meskipun tak tahu apa yang dimaksud Savana mengenai apa yang membuat gadis itu merasa grogi, Lula tetap saja mengangguk paham, dia tidak ingin bertanya lebih lanjut lagi tentang hal itu karena dia tahu dan sadar betul, diri Savana sendiripun memang belum berniat untuk menceritakannya kepada dirinya. Dan Lula, akan menunggu inisiatif dari Savana sendiri untuk menceritakan kepada dirinya.
"Oalah, kalo soal itu gak usah grogi Sava. Intinya kalo kamu udah tau keputusan apa yang mau kamu ambil, ya kamu cukup harus percaya diri aja. Lagipula, Reno juga pasti gak mungkin sesatin kamu, dia pengen semua hal yang terbaik buat kamu. Dia pasti juga udah mikir-mikir dan pertimbangan semuanya ketika kasih saran ke kamu, percaya aja ya Va?" ujar Lula tersenyum kecil, memberikan sedikit kalimat yang mungkin bisa menenangkan diri Savana sekaligus semakin meyakinkan gadis itu tentang keputusannya.
Meskipun Lula tidak tahu juga apa keputusan yang berhasil Savana ambil, namun gadis itu memang cukup yakin atau bahkan sangat yakin bahwa keputusan yang berhasil Savana ambil atas pertimbangan dari Reno itu adalah yang terbaik. Lula percaya dengan Reno untuk perihal ini. Lula benar-benar berada di pihak Reno.
"Iya La, aku juga percaya sama Reno kok, kamu tenang aja," kata gadis itu menutup pembicaraan karena setelahnya, kedua gadis itu kembali fokus dengan guru yang sedang mengajar didepan kelas mereka.
***
"Lo kenapa lagi kali ini Ren? Tumben-tumbenan banget senyum-senyum gak jelas kaya gitu? Lagu kasmaran lo?" Aldi bertanya dengan raut wajah keponya. Perubahan raut wajah Reno yang sangat drastis membuat cowok itu merasa sedikit aneh sekaligus penasaran.
Bagaimana Aldi tidak merasa aneh dan penasaran, pasalnya akhir-akhir ini Reno sering kali terlihat lebih diam dan murung, jarang menampilkan senyumnya kecuali ketika bersama dengan Savana, dan sudah sangat jarang bahkan hampir tidak pernah lagi bercanda santai dengan Aldi.
Padahal, di pagi hari tadi pun wajah Reno masih terlihat tidak berwarna, berbeda dengan wajahnya yang sekarang. Sejak kembali setelah jam istirahat tadi, Reno benar-benar terlihat lebih segar dari beberapa hari yang lalu. Ah, pasti ada suatu hal yang cukup membahagiakan untuk cowok itu kan?
Reno menoleh menatap Aldi yang bertanya kepada dirinya. "Satu hal besar yang beberapa minggu ini membebani pikiran gue bakalan hilang secepatnya Al, semuanya bakal kembali normal," ucap cowok itu membalas dengan lugas, wajahnya tampak sekali menampilkan ketenangan.
Aldi mengernyitkan dahinya cukup bingung dengan perkataan Reno. Hal besar apa yang cowok itu maksud? Bukankah selama ini hanya perihal Savana yang menyukai Geo saja yang sedikit menyulitkan Reno karena cowok itu yang selalu terpojokkan?
Tapi, Aldi tak yakin kalau hal besar yang Reno maksud adalah perihal Savana yang satu itu. Karena pada kenyataannya, bagi Aldi sangat mustahil menyelesaikan perkara itu secepat ini kalau bukan Geo sendiri yang menerima Savana dengan tangan terbuka. Menurut Aldi, hanya itu satu-satunya hal yang memungkinkan menyelesaikan perkara ini dengan cepat. Mengingat bagaimana Savana yang diperbudak oleh cintanya kepada Geo itu yang cukup besar.
Apalagi, usaha Savana selama satu bulan lebih untuk mendekati Geo itu bisa dibilang cukup gigih dan tidak mudah dipukul mundur. Sudah mendapatkan penolakan saja Savana masih tetap kekeuh ingin maju. Lantas, hal apa yang membuat Savana menjadi bisa dengan mudah melepaskan Geo begitu saja? Rasanya sangat tidak meyakinkan.
"Hal besar apa yang lo maksud Ren? Bukannya selama ini lo cuma sibuk urusin perkara Savana yang gak ada habis-habisnya ya? Gue juga lebih yakin kalo soal itu emang gak bakalan ada habisnya sih," celetuk Aldi bertanya sekaligus berkomentar.
Wajah Reno cukup dibuat muram saat Aldi mengatakan perihal Savana seperti itu. Kalimat Aldi terdengar seperti meremehkan Savana ditelinga Reno. Padahal, kenyataannya tidak seperti itu maksud Aldi. Aldi hanya murni mengemukakan pendapatnya saja. Tentang Savana yang begitu menyukai Geo. Cowok itu sama sekali tidak berniat menjatuhkan Savana sedikitpun.
"Maksud lo apa ngomong kaya gitu soal Sava? Dia gak bisa lo remehin kaya gitu!" tegur Reno menekan emosinya dalam-dalam. Dia tidak ingin menimbulkan masalah baru disaat satu beban pikirannya akan menghilang sebentar lagi.
Aldi gelagapan dibuatnya saat mendengar teguran dari Reno. Ah, Reno salah paham dengan perkataan Aldi. "Eh, lo salah paham Ren. Bukan kaya gitu maksud gue, gue gak ada niatan buat remehin Savana," bantah Aldi dengan sedikit panik.
Reno hanya menatapnya sekilas saja, lalu menarik napasnya dengan pelan, mengaturnya dengan sebaik mungkin.
"Intinya, apapun yang sekarang lagi lo pikirin tentang Savana, gue bisa jamin kalo hal itu salah besar. Dia udah gak gitu lagi sekarang," tutup cowok itu lalu mengalihkan fokusnya pada ponsel yang saat ini berada di dalam genggamannya.