Savana terbangun dengan napas tersengalnya. Pagi ini, jam sudah menunjukkan pukul setengah 6 pagi dan Savana telat bangun hari ini. Pasalnya, biasanya gadis itu biasanya bangun pada pukul jam 5 pagi.
Mata Savana memindai sekeliling kamarnya, dengan linglung gadis itu mengingat-ingat mimpi yang baru saja dia alami. Mimpi itu semuanya terasa sangat nyata. Ya, mimpi mengenai dirinya dan Geo dan tentang Reno dan Lula.
Savana berpikir, apa artinya mimpi seperti itu? Apakah itu adalah sebuah pertanda buruk untuk hubungan Savana dengan Geo? Atau, itu hanya sekedar mimpi biasa saja, karena Savana terlalu kepikiran dengan sesok Geo. Ya, setidaknya itu terjadi setelah insiden pemberian bekal makanan untuk Geo beberapa hari yang lalu. Savana memang menjadi lebih banyak memikirkan Geo. Lebih tepatnya memikirkan apakah ada kemungkinan untuk keberhasilan hubungannya dengan Geo.
Ngomong-ngomong soal bekal yang Savama buat untuk Geo, Savana sudah tahu tentang Geo yang menolak bekal makanan dari gadis itu, cowok itu menolak untuk memakan makanan yang sudah Savana buat dengan susah payah. Memang Savana mengetahuinya karena pada akhirnya, saat itu Reno memang memilih untuk jujur kepada Savana hingga mengenai hal itu. Reno merasa, akan menjadi lebih buruk lagi nantinya kalau sampai Reno berbohong kepada Savana tentang bekal makanan itu. Dan karena itulah, Reno akhirnya memilih untuk jujur.
Saat Reno mengatakannya dengan jujur beberapa hari lalu kepada Savana, gadis itu terlihat tak banyak mengeluarkan reaksi dan ekspresinya. Hanya wajahnya saja yang nampak lebih murung dan raut ekspresi kecewa gadis itu saja yang dapat Reno lihat dengan jelas. Savana tidak berhasil untuk menutupi ekspresinya tentang itu.
Meski begitu, Reno sedikit bersyukur karena setelah insiden saat itu, Savana tidak terlalu menjadi anak yang selalu terlihat murung. Hanya reaksi sesaat saja saat itu. Dan setelahnya, Savana berusaha untuk kembali pada jati dirinya sendiri kembali menjadi gadis yang penuh dengan keceriaan.
Ah iya, soal hubungan pertemanan antara Geo dan Aldi, bersyukurnya juga mereka sudah kembali seperti sedia kala. Meski memang seharian itu Geo dan Aldi sempat terlibat suatu perang dingin. Namun setelahnya hal itu dapat teratasi saat Aldi secara berangsur-angsur mulai tenang dan kemudian meminta maaf kepada Geo.
Jujur saja, awalnya Aldi merasa bahwa apa yang cowok itu katakan bukanlah suatu hal yang salah. Cowok itu pada awalnya tidak tahu kalau apa yang dia katakan itu benar-benar mampu membuat Geo merasa kecewa dengannya. Sungguh, Aldi sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Cowok itu hanya ingin mencoba membuat Geo tersadar dan sedikit berubah dengan perkataannya, namun yang ada malah sebaliknya. Bukannya Geo tersadar, malah saat itu perkataan Aldi yang nyaris menghancurkan persahabatannya sendiri. Untungnya saat itu Reno langsung bertindak cepat dengan memberitahu kepada Aldi mengenai apa yang sudah Geo katakan Reno.
Tentang Geo yang begitu menjaga persahabatan mereka dan begitu menyayanginya, dan tentang betapa besarnya kekecewaan yang terlihat dari Geo saat Aldi menyerang cowok itu dengan mulutnya. Dengan kata-katanya.
Kembali pada kenyataan, setelah beberapa menit Savana hanya terdiam di kasurnya, pada akhirnya gadis itu mulai beranjak dari sana, berjalan dengan langkah gontai nya menuju kearah kamar mandi berada, Savana akan segera bersiap untuk berangkat sekolah. Soal mimpinya itu, Savana akan menanyakannya dan menceritakannya kepada Reno nanti, saat mereka sudah berada di sekolah. Savana tidak ingin waktunya terbuang sia-sia hanya untuk memikirkan mimpi yang sialnya entah kenapa terasa begitu nyata untuk Savana.
Sekitar setengah jam berlalu, Savana sudah rapi dengan seragam yang melekat nyaman ditubuhnya, dengan sepatu yang sudah terpasang pas di kakinya dan juga dengan tas yang sudah berada di gendongannya. Savana memang tak memerlukan banyak waktu untuk bersiap.
Kaki Savana melangkah keluar dari rumahnya, menutup pintu rumah miliknya dan kemudian mengunci pintunya, lalu beralih keluar dari pagar rumahnya dan mengunci pagarnya. Setelah memastikan semuanya terkunci dengan benar, Savana melangkah menuju ke rumah yang ada di samping rumahnya sendiri seraya tangannya sibuk menaruh kunci rumah dan kunci pagar gadis itu ke tasnya sendiri. Benar, Savana sedang berjalan kearah rumah milik Reno.
"Reno, berangkat yuk!" ajak Savana di depan pintu rumah Reno. Gadis itu sedikit berteriak kecil saat memanggil Reno.
Tak membutuhkan waktu lama untuk memanggil Reno, karena cowok itu terlihat langsung keluar dari dalam rumahnya. Begitu mendengar suara Savana yang memanggilnya.
"Tumben banget datengnya rada telat, ada apa Va?" tanya Reno langsung begitu melihat sosok Savana yang sedang menunggu Reno di depan rumah cowok itu.
Savana terlihat menampilkan cengiran polosnya saat mendapatkan pertanyaan itu dari Reno. "Hehe, Savana kemarin malem mimpi sesuatu Reno, jadinya hari ini Savana bangun agak lambat," jelas gadis itu secara singkat, tak ingin menjelaskan lebih jauh lagi, setidaknya untuk saat ini.
"Emangnya Sava mimpi apa? Tumben banget gak langsung cerita sama Reno," ujar cowok itu kemudian, menatap Savana sekilas dengan tatapan ingin tahunya. Seraya cowok itu bergerak mulai menaiki motornya.
"Nanti juga pasti Sava cerita kok," jawab Savana dengan jujur. "Kalau Sava cerita sekarang, takutnya nanti kita gak keburu buat sarapan di kantin Ren, takutnya nanti waktu sampai sekolah udah bel," lanjut gadis itu, memberikan alasannya. Disusul dengan gerakan gadis itu yang mulai menaiki motor Reno.
Reno hanya mengangguk sekilas saja menanggapinya, setelah memastikan bahwa Savana sudah duduk dengan nyaman, Reno mulai mengendarai motornya untuk menuju ke SMA Nusa Bangsa. Kalau dipikir-pikir memang benar juga sih apa yang dikatakan Savana. Daripada mereka telat dan menjadi tidak sempat untuk sarapan, memang lebih baik Savana menunda cerita tentang mimpinya itu.
By the way, mereka hari ini memang akan sarapan di kantin, tidak seperti biasanya yang akan sarapan di rumah Reno, memakan masakan Mama Reno. Karena Mama Reno kemarin malam tiba-tiba saja berpamitan kepada Reno dan Savana, mengatakan bahwa wanita paruh baya itu akan pergi keluar kota untuk menemani sekaligus sedikit membantu pekerjaan Papa Reno. Karena Mama Reno sendiri, dulunya adalah sekretaris dari Papa Reno, namun setelah Papa dan Mama Reno menikah, Papa Reno meminta Mama Reno untuk berhenti bekerja dan fokus untuk mengurus keluarga.
Ah, harus Savana akui bahwa Papa Reno adalah sosok yang sangat Savana harapkan menjadi sosok Papanya. Namun Savana sadar bahwa apa yang dia harapkan itu tidak akan pernah menjadi kenyataan. Karena pada kenyataannya, Papa kandung gadis itu adalah sosok laki-laki yang paling tidak bertanggungjawab yang pernah Savana kenal. Atau, memang sebenarnya Savana tidak pernah mempunyai sosok figur ayah di kehidupannya selain dari Papa Reno.
Memang keluarga Reno yang terbaik untuk Savana.