CHAPTER 56

1462 Kata
Savana sudah bersiap untuk berjalan menuju kearah parkiran sekolah begitu bel pulang berbunyi pada pukul 15.30 WIB. Selama pekan perayaan dies natalis SMA Nusa Bangsa, jam pulang untuk siswa-siswi di sana benar-benar tidak teratur sama sekali. Mereka hanya akan pulang saat bel pulang berbunyi. Tidak ada kepastian jam berapa mereka akan pulang. Yang jelas, jam pulang mereka benar-benar ditentukan oleh jam berapa selesainya kegiatan atau acara pada hari itu. Sedari pagi sampai sore ini, Savana benar-benar menghabiskan waktunya hanya di dalam kelas saja. Awalnya memang Savana hanya sendirian saja, sampai pada akhirnya banyak teman-teman kelas gadis itu yang datang atau baru saja kembali dari jalan-jalan mereka, mengelilingi lapangan sekolah dan untuk menonton bazar-bazar yang tersedia di sana. Hanya saja Savana tidak menemukan keberadaan Lula sama sekali setelah gadis itu berpamitan kepada Savana untuk keluar kelas mencari udara segar sekaligus berkeliling melihat-lihat area-area di sekolahnya. Bahkan saat bel pulang sudah berbunyi pun, Lula juga tak kunjung kembali. Savana yang sudah memiliki janji untuk belajar bersama dengan Geo pun terpaksa harus langsung keluar dari kelasnya dan berjalan menunju parkiran sekolah tanpa menunggu Lula kembali ke kelasnya lagi. Savana takut membuat Geo menunggu, ya meskipun bel sekolah juga baru saja berbunyi. Sangat kecil kemungkinan Geo sudah berada di parkiran untuk menunggu gadis itu. Mengingat Geo yang sangat malas berdesakan juga. Biasanya, cowok itu akan berdiam diri di kelasnya terlebih dahulu selama beberapa saat sebelum pada akhirnya kurang lebih 15 menit kemudian cowok itu baru akan berjalan menuju parkiran sekolah. Bersama dengan kedua sahabatnya tentu saja. Reno dan Aldi. Selama berjalan sendirian melewati koridor sekolahnya, Savana berjalan sendirian dengan tenang. Tidak merasa resah ataupun semacamnya. Meskipun bisa dibilang ini kali pertama Savana pergi meninggalkan kelas sendirian, ditengah-tengah keramaian lalu lalang siswa-siswi SMA Nusa Bangsa yang juga sedang berebut untuk pulang ke rumah mereka masing-masing. Biasanya, selalu ada satu orang yang menemani Savana. Entah itu Lula ataupun Reno. Namun, Savana tidak separah dan selebay itu untuk menghadapi keramaian seperti ini. Meskipun memiliki sedikit ketakutan dengan keramaian, namun keramaian seperti ini bukanlah masalah besar untuk Savana. Gadis itu hanya tidak suka dengan keramaian seperti saat orang-orang sedang menonton konser. Karena mereka-mereka yang sedang menonton konser pasti akan terus berdesakan sampai konser tersebut selesai. Mereka akan berdiam diri di tempat dan tetap padat. Atau sesekali orang-orang yang ada di belakang kerumunan itu akan mendesak maju. Hingga membuat udara terasa semakin menipis dan sangat pengap. Savana selalu kesulitan bernapas saat berada di keramaian atau kerumunan semacam itu. Ngomong-ngomong, hingga saat ini pun Savana sendiri belum mengabari Reno sama sekali tentang gadis itu yang akan mulai belajar bersama Geo hari ini. Bukannya berniat menutupi atau bagaimana, hanya saja Savana pikir Geo pasti sudah memberitahu kepada Reno terlebih dahulu. Sehingga Savana tidak perlu repot-repot memberitahu Reno ulang. Biar Geo saja yang melakukannya. Lagipula, kalau sudah Geo yang melakukannya, kenapa Savana harus repot-repot melakukannya secara ulang bukan? Setelah beberapa saat berjalan, Savana akhirnya sampai di parkiran sekolah. Tanpa mengatakan apapun gadis itu langsung berjalan menuju ke tempat dimana motor Reno berada. Meskipun gadis itu akan belajar bersama dengan Geo, namun bukan berarti gadis itu akan berangkat bersama Geo juga kan? Apalagi, bukannya Reno sendiri juga akan ikut serta dalam proses belajar Savana bersama dengan Geo? Jadi, Savana memutuskan untuk langsung menunggu Geo di samping motor Reno saja. Sebenarnya bukannya Savana tidak tahu yang mana motor Geo, Savana jelas saja tahu dengan jelas yang mana motor cowok itu. Hanya saja Savana sendiri juga yakin bahwa Geo tak akan sudi atau mau membonceng dirinya. Meskipun pada awal gadis itu memasuki SMA Nusa Bangsa dia pernah berada di satu mobil yang sama dengan Geo bahkan mereka hanya berdua saja. Namun semua itu hanya karena Geo merasa kasihan karena dirinya baru saja menjadi korban bully. Maka dari itu Geo sudi untuk mengantarkannya pulang. Itupun dengan mobil milik Aldi. Kejadian-kejadian seperti itu tidak akan terulang lagi ke depannya. Setidaknya satu hal itu yang Savana yakini sekarang. Tak membutuhkan waktu lama untuk menunggu kedatangan Geo, bahkan hanya perlu kurang dari 2 menit kedatangan Savana di parkiran sekolah, Geo tiba-tiba saja menyusul Savana, berjalan mendekati gadis itu kemudian berdiri tepat di depan gadis itu dengan tatapan cowok itu yang seperti biasanya. Datar. "Ngapain lo berdiri di sini?" tanya Geo kepada Savana. Semenjak awal kedatangan Geo, kalau boleh jujur Savana sedikit merasakan sesak napas karenanya. Aura Geo yang sangat mendominasi membuat Savana merasa sedikit segan. "Nunggu kamu datang Geo," jawab Savana dengan suara lirih. Takut-takut. Satu alis Geo terangkat, menatap Savana dengan kening yang sedikit mengerut bingung. "Terus kenapa lo berdiri di sini? Ini motor Reno kalo lo lupa," ujar Geo lagi kemudian. "Ya ini memang motor Reno Geo, aku mana mungkin lupa kalau setiap pagi aja aku diantarin Reno ke sekolah pake motor ini," ujar Savana menjawab kembali dengan tampang polosnya. Geo menghembuskan napasnya kasar karenanya. Berhadapan dengan Savana ternyata memang membutuhkan begitu banyak stok kesabaran. "Maksud gue, kenapa lo tungguin gue di depan motor Reno? Bukannya di depan motor gue, pinter!" kesal Geo karena Savana yang terlihat memang tercipta untuk menguji kesabaran di hidupnya. "Lo lupa atau emang gak tahu yang mana motor gue?" tanyanya sekali lagi. Savana dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Bukan. Sava bukannya gak tahu atau lupa motor Geo kok, Sava inget," ujar gadis itu. "Tapi Sava emang sengaja nungguin Geo disini, kan Sava nanti berangkatnya juga sama Reno," lanjutnya. "Kata siapa lo berangkat sama Reno?" Geo bertanya seraya menatap mata Savana yang juga sedang menatap kearahnya. "Loh? Emangnya enggak ya?" tanya Savana balik, gadis itu tiba-tiba saja merasa bingung dibuatnya. Geo kembali menghela napasnya, kali ini jauh lebih pelan dan panjang. Cowok itu merasa lelah sekarang. "Emangnya lo lihat ada tanda-tanda keberadaan Reno disini?" tanya Geo lagi, tanpa menjawab perkataan Savana. Savana terlihat menggelengkan kepalanya pelan. "Lah iya ya. Aku baru sadar kalau Reno gak ada. Emangnya dia dimana Geo?" tanya Savana kemudian kepada Geo dengan tatapan polosnya. Geo sudah mulai jengah dibuatnya. Awalnya cowok itu memang ingin main-main dengan Savana, karena gadis itu nampak sangat seru dan polos serta terlihat menggemaskan. Namun, lama kelamaan Geo sendiri juga merasa lelah karenanya. Geo menghela napasnya pelan sekali lagi. "Savana. Lo bakalan belajar sama gue dan itu berarti lo juga akan berangkat bareng gue. Kita akan belajar di rumah gue. Jangan khawatir karena di sana ada Mama gue," ujar Geo sedikit demi sedikit mulai menjelaskan. "Reno gak akan datang untuk ikut belajar kita hari ini. Dia masih ada sedikit urusan, tapi lo tenang aja, gue udah kabarin Reno tentang masalah ini." "Untuk itu, sekarang lo jangan banyak tanya-tanya lagi dan buang waktu berharga gue lebih banyak lagi. Intinya hari ini lo belajar sama gue di rumah gue, berangkat bareng gue dan gak ada Reno yang ngikutin kita," ujar Geo. "Ralat, maksudnya lo dan gue," lanjut cowok itu dengan cepat. "Lo paham kan Savana?" tanya Geo kemudian, Savana mengangguk saja menanggapinya. "Paham Geo," ujar Savana. "Bagus, sekarang lo ikut ke motor gue. Kita berangkat sekarang dan jangan lupa ambil helm lo," kata cowok itu kemudian berlalu pergi dari hadapan Savana begitu saja. Savana yang melihat Geo berjalan menjauhinya pun segera mengikuti cowok dari belakang. Tak ingin kehilangan jejak cowok itu. Namun sebelum itu, gadis itu dengan cepat mengambil helmnya yang ada di motor Reno, membawanya menuju kearah motor Geo. Saat Savana tiba di dekat Geo sudah duduk di atas motornya dengan helm yang juga sudah terpasang rapi di kepala cowok itu. Savana pun dengan segera juga memasang helmnya sendiri di kepalanya sendiri. Namun, saat gadis itu akan naik ke motor Geo, Savana bingung serta kesulitan karenanya. Motor Geo adalah motor sport. Sama seperti motor Reno. Biasanya, Savana akan dibantu Reno untuk naik keatas motornya itu. Reno akan selalu mengulurkan tangannya kepada Savana agar gadis itu bisa naik ke atas motornya dengan mudah. Tapi, kali ini adalah Geo, bukan Reno. Apa cowok itu mau membantu Savana? Savana sama sekali tidak yakin untuk itu. "Ayo buruan naik, kenapa lo lama banget sih?" tanya Geo menoleh menatap Savana. "Lo udau beres kan pake helmnya?" tanyanya kemudian. Savana mengangguk kecil menjawabnya. "Udah selesai kok," kata gadis itu. Setelah mendengar jawaban Savana itu, Geo lalu secara spontan langsung mengulurkan tangannya kearah Savana yang ditatap dengan bingung oleh gadis itu. "Ayo buruan naik," ujar Geo menyadarkan Savana. Dengan ragu-ragu, Savana menerima uluran tangan Geo dan mulai naik keatas jok motor cowok itu. "Makasih," cicit Savana pelan lalu melepaskan genggaman tangannya dari Geo. Geo hanya mengangguk singkat saja menanggapinya. "Hm," dehem cowok itu membalas seraya tangannya yang tadi digunakan untuk membantu Savana naik ke atas motornya kembali berada di tempat yang harusnya, di depan stir motornya. "Lain kali kalau gak bisa naik atau butuh bantuan itu bilang. Jangan diem doang," ujar Geo menutup. Lalu cowok itu melajukan motornya meninggalkan area parkiran sekolah dengan Savana yang merasa deg-degan karena ulah cowok yang sedang fokus mengendarai motornya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN