CHAPTER 55

1153 Kata
Pembicaraan Geo dengan Mamanya terpaksa harus berhenti begitu saja ketika jam sudah mulai berjalan dan menunjukkan pukul 07.15 pagi. Geo sudah harus berangkat ke sekolah sekarang. "Ma, udah jam 7 lebih 15 menit. Geo udah harus berangkat sekolah sekarang," ujar Geo tiba-tiba saja setelah melihat jam yang ada di layar ponselnya, perkataan cowok itu menghentikan pembicaraan yang sedang cowok itu bahas dengan Mamanya. Mama Geo yang tadinya ingin membicarakan beberapa hal lain dan ingin menanyakan beberapa hal yang sedari tadi bersarang di otaknya kepada Geo pun dengan terpaksa wanita paruh baya itu menghentikan niatnya. Atau lebih tepatnya adalah menundanya. "Oh ya udah kalau gitu. Kamu berangkat ke sekolah sekarang aja. Nanti pulang sekolah bisa disambung lagi ngobrol sama Mama ya," ujar Mama Geo kepada Geo. "Ada beberapa hal yang pengen Mama tanya ke kamu Geo," lanjut wanita paruh baya itu lagi. Geo mengangguk singkat saja menanggapinya. Menyanggupi permintaan Mamanya. Lagipula, Mama Geo hanya ingin bertanya kepada Geo saja, lantas alasan apa yang bisa Geo gunakan untuk menolaknya? Geo tidak pernah keberatan dengan sesuatu hal yang Mamanya minta kepada dirinya. Kecuali jika hal itu salah dan benar-benar tidak Geo sukai. "Iya Ma, nanti bisa disambung lagi setelah Geo pulang dari sekolah," ujar Geo menyanggupinya. Cowok itu lalu beranjak berdiri, kemudian menyodorkan tangannya ke depan Mamanya,, meminta salim kepada Mamanya. "Geo berangkat sekolah dulu ya Ma," ujar Geo setelah mencium tangan Mamanya. Mama Geo nampak mengangguk singkat. "Iya Geo, kamu hati-hati ya di jalannya," ujar Mama Geo berpesan di akhirnya. "Iya Ma," jawab Geo seadanya. Setelah berpamitan dengan Mamanya, cowok itu lalu meraih tasnya yang berada di kursi yang tadi cowok itu duduki, mengambil kunci motornya yang di atas meja sebelahnya kemudian cowok itu beranjak pergi meninggalkan area teras rumahnya dan beralih menuju ke halaman rumahnya, menancapkan kunci motornya di tempat yang seharusnya, kemudian menaiki motornya dan menancapkan gasnya menjauhi area rumahnya sendiri untuk menuju ke sekolahnya, SMA Nusa Bangsa. *** Savana saat ini sudah duduk dengan tenang di bangkunya sendiri. Hari ini adalah hari kedua di pekan perayaan dies natalis SMA Nusa Bangsa dan gadis itu saat ini sudah benar-benar merasa bosan dengan semuanya. Tak ada yang berhasil menarik perhatian gadis hingga detik ini. Semuanya berjalan terlalu monoton. Savana bukannya menyalahkan pihak yang bertanggungjawab dan diberikan kewenangan untuk mengatur acara ini, hanya saja memang gadis itu sendiri yang merasa bosan. Dia merasa bosan juga bukan karena acaranya tidak menarik sama sekali. Namun karena gadis itu sendiri yang memang tidak terlalu tertarik dengan apa-apa saja yang saat ini tersaji di pekan perayaan SMA Nusa Bangsa. Apalagi acara seperti ini mengharuskan seseorang untuk berdesak-desakan karenanya, seperti adanya bazar sekolah, pentas seni serta mini konser dari beberapa artis terkenal yang hanya bisa disaksikan khusus untuk warga SMA Nusa Bangsa. Savana sangat tidak suka dengan sesuatu yang berbau keramaian, apalagi kalau sampai harus berdesak-desakan. Savana sendiri sebenarnya sangat suka menonton konser-konser seperti itu, namun dari beberapa pengalaman Savana, banyak sekali terjadi kerusuhan disaat konser-konser itu berlangsung sehingga berhasil membuat Savana sedikit merasa ngeri karenanya. Apalagi Savana sendiri pernah merasakan berada di posisi seperti itu, menonton suatu konser dan berada di tengah-tengah kerusuhan. Tidak ada yang bisa menolong gadis itu sama sekali. Gadis itu saat itu memang terpisah dari teman-teman yang mengajaknya menonton konser. Savana bahkan nyaris pingsan saat itu. Bukan hanya karena gadis itu yang terlalu takut dan shock saat berada di tengah-tengah kerusuhan. Tapi karena gadis itu mengalami sesak napas saat berada ditengah-tengah konser itu. Apalagi saat itu adalah konser siang, dan matahari benar-benar sangat terik. Savana tidak kuat karenanya. Ah iya, for your information, untuk mini konser di acara pekan perayaan dies natalis SMA Nusa Bangsa akan dilaksanakan di akhir acara pekan perayaan tersebut berlangsung. Atau lebih tepatnya yaitu di hari Minggu. Ngomong-ngomong, ada pengecualian untuk liburan ke luar kota. Savana akan sangat senang untuk yang satu itu. Tapi untuk acara yang diselenggarakan di sekolah ini, Savana benar-benar kurang tertarik karena memang ini bukanlah style gadis itu. Acara-acara seperti ini akan sangat menarik jika memang sesuai dengan style seseorang sehingga acara seperti ini sebenarnya tidak akan menjadi membosankan seperti yang saat ini sedang Savana rasakan. Acara ini sebenarnya juga sudah dirancang dengan begitu baik oleh pihak-pihak yang diberikan tanggungjawab. Acara ini juga sebenarnya bisa dibilang cukup sukses besar karena nampak sangat meriah dan raut-raut wajah bahagia begitu nampak menonjol di kalangan siswa-siswi SMA Nusa Bangsa. Terkecuali Savana. Ah, tapi kalau boleh jujur. Daripada tidak tertarik dengan acara perayaan yang ada di SMA Nusa Bangsa ini, hal yang membuat Savana merasa bosan sedari tadi adalah gadis itu tidak sedang bersama dengan Lula sekarang. Gadis itu sendirian di dalam kelasnya, tidak ada Lula ataupun teman-teman kelasnya yang lain. Mereka semua pergi meninggalkan kelas entah kemana tujuan mereka. Savana benar-benar sendirian di dalam kelasnya, padahal di luar kelas gadis itu, riuh ramai terdengar bersahut-sahutan. Banyak siswa-siswi yang berlalu lalang melewati kelasnya. Namun tak ada satupun dari orang-orang yang berlalu lalang itu berniat untuk memasuki kelas gadis itu. Savana sebenarnya bisa saja pergi ke kelas Reno dan menemui cowok itu sekarang. Atau Savana bahkan bisa juga menelepon Reno dan meminta cowok itu untuk datang menghampirinya dan menemani dirinya di kelasnya sendiri. Namun, Savana kali ini memilih untuk tidak melakukannya karena takut kalau-kalau saja saat ini Reno sedang berada di posisi yang cukup sibuk. Mengingat memang nyaris seluruh siswa-siswi SMA Nusa Bangsa nampak sibuk sendiri dengan urusannya. Hanya Savana saja yang nampak tidak memiliki pekerjaan lain selain duduk dan bermain ponsel. "Bosen banget ih! Mana gak ada satu pesan pun yang masuk lagi, gak ada apa yang punya niatan ajakin Sava jalan-jalan kemana gitu, keliling-keliling sekolah atau kemana aja deh. Sava bosen banget," gerutu gadis itu dengan pelan. "Pengen ke kelas Reno, tapi gak enak. Pengen telepon Reno, tetep aja juga gak enak," lanjutnya masih menggerutu. "Ah, nanti aja deh aku minta buat Reno temani jalan-jalan, itung-itung sebagai tebusan buat rasa bosan yang aku rasain hari ini," kata gadis itu lagi. Kemudian, gadis itu kembali terdiam. Tidak lama setelah Savana terdiam sendirian di bangkunya. Hingga suatu pesan masuk ke dalam ponsel gadis itu, pesan yang Savana terima dari nomor tidak dikenal. Unknown: Hari pertama belajar biologi dimulai hari ini. Pulang sekolah nanti, tunggu gue di parkiran sekolah. Geo. Savana terkejut begitu membaca nama seseorang yang mengiriminya pesan itu. Geo. Tidak salah lagi, memang cowok itu. Cowok yang dulu di awal Savana masuk ke SMA Nusa Bangsa sempat gadis itu coba dekati sebelum pada akhirnya gadis itu menyerah dan memilih untuk berhenti mencoba mendekatinya. Namun tetaplah ingat bahwa Savana hanya berhenti untuk mencoba mendekati cowok itu. Gadis itu bukannya berhenti untuk menyukainya. Bahkan, hingga di detik ini pun perasaan suka di hati Savana pada Geo pun masih ada. Masih sama besarnya pula. Namun bedanya, Savana saat ini sudah lebih bisa mengontrol perasaannya sendiri. Savana benar-benar tidak menyangka bahwa di tengah-tengah kebosanannya akan hari ini tiba-tiba saja gadis itu mendapatkan pesan dari Geo, laki-laki yang hingga detik ini masih begitu gadis itu sukai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN