Reno saat ini sedang duduk di bangkunya sendiri dengan perasaan yang sedikit gelisah. Baik Aldi ataupun Geo, kedua teman dekatnya itu sama sekali belum ada yang datang.
Reno benar-benar tidak membual perihal kebiasaan Geo yang sering datang di jam-jam mendekati bel masuk berbunyi. Meski cowok itu sangat jarang sekali membolos pelajaran, berbeda dengan beberapa anak laki-laki lain yang sering kali membolos pelajaran. Terlebih untuk mata pelajaran peminatan.
Reno sendiri sebenarnya heran, bagaimana bisa anak-anak semacam itu bisa lolos saat seleksi pemilihan jurusan pada awal masuk SMA ini. Reno bahkan sempat berpikiran, mungkin saja mereka-mereka yang seperti itu menggunakan jasa orang dalam untuk bisa melakukannya.
Ah, hal semacam itu bukankah sudah menjadi sesuatu yang sangat umum di masa sekarang? Namun menurut Reno, meksipun hal seperti itu sudah tak asing lagi atau bahkan memang sudah menjadi hal umum. Perbuatan seperti itu tetap tidak bisa dibenarkan, dan memang itu termasuk kedalam suatu kecurangan. Dan menurut Reno juga, itu sama sekali bukan hal yang wajar.
Sekarang, jurusan tidak menentukan tingkat kepintaran seseorang. Namun pemikiran bahwa jurusan MIPA atau IPA tetap lebih unggul daripada jurusan IPS dan Bahasa tidak dapat dihindari. Banyak orang yang masih memiliki pemikiran seperti itu, padahal pada kenyataannya, jurusan apapun itu, semuanya memiliki keunggulan dan keahlian sendiri di bidang masing-masing. Benar-benar sesuai bidangnya.
Lama Reno terdiam di bangkunya dengan pikiran cowok itu yang melayang entah kemana. Namun hal itu terhenti saat kedatangan Aldi dan Geo yang membuyarkan pikirannya. "Woi! Pagi-pagi udah ngelamun aja nih Bang Reno. Lagi banyak beban pikiran banget kayanya," sapa Aldi dengan gaya tengilnya, seperti biasa.
Reno berdecak kesal menanggapi sapaan tengil yang diberikan Aldi. Kalau biasanya Reno akan dengan senang menanggapinya, namun kali ini tidak. Reno memiliki beban tersendiri di hati dan pikirannya. Hal itu membuat Reno sama sekali tak memiliki gairah untuk menanggapi perkataan Aldi yang terlalu basa-basi dan tidak penting.
Aldi belum tahu saja, bagaimana rumitnya pikiran Reno saat ini.
Sementara itu, tanpa menghiraukan Aldi yang sedang sibuk menyapa Reno dengan gaya tengilnya. Geo melangkahkan kakinya menuju kearah bangkunya sendiri. Kemudian cowok itu langsung mendudukkan tubuhnya tepat di bangku miliknya tersebut. Bangku Geo hari ini terletak tepat di belakang bangku Reno dan Aldi.
Memang, terkadang tempat duduk di kelas Aldi, Reno dan Geo itu acak. Jadi, terserah siapapun mau duduk dimana pun dan dengan siapapun juga teman sebangkunya. Geo terkadang juga duduk dengan Reno ataupun dengan Aldi. Namun hari ini, Geo memilih duduk sendiri dibelakang bangku yang Reno dan Aldi tempati.
Reno sendiri, ketika cowok itu tahu Geo mendudukkan tubuhnya di bangku belakangnya, dengan segera cowok itu berbalik guna menatap Geo. Dengan tangannya yang sedang membawa paper bag yang berisi kotak bekal makanan yang dititipkan Savana kepada Reno pagi tadi.
Aldi yang sudah mendudukkan tubuhnya disebelah Reno hanya diam menatap cowok itu dengan tatapan bingungnya. Sementara Geo hanya menaikkan sebelah alisnya tanda bahwa cowok itu juga bingung dengan apa yang akan dilakukan Reno kepadanya.
"Nih, gue bawain bekal dari Savana. Pagi tadi dia nitip ke gue, dia minta tolong buat kasihin masakan buatannya buat lo sarapan," ujar Reno seraya menyerahkan paper bag yang ada ditangannya itu kepada Geo, si pemilik asli.
Geo tak bergeming di tempatnya, cowok itu hanya diam seraya matanya menatap paper bag yang disodorkan Reno kepadanya itu dengan tatapan rumitnya.
Reno yang melihat belum ada tanda-tanda Geo akan menerima paper bag titipan Savana pum memutuskan untuk kembali mencoba menjelaskan kepada Geo. "Ini isinya makanan kesukaan lo, kemarin malem dia datang ke rumah gue cuma buat tanya, lo suka makan apa. Terus pagi-pagi tadi Mama gue cerita, katanya Savana datang jam 3 pagi ke rumah gue buat numpang masakin lo makanan ini," jelas Reno secara garis besar, namun cukup terperinci dengan jelas. "Dia tulus sama lo Geo, dia tulus masakin makanan ini buat lo. Jadi gue minta tolong dengan sangat, kali ini aja. Coba hargai usaha dia Ge, dengan cara terima dan makan masakan buatan dia. Seenggaknya lo gak ngebuat usaha dia buat masakin lo pagi-pagi buta itu sia-sia," lanjut Reno lagi, memohon kepada Geo. Berharap cowok itu akan luluh dengan penjelasannya yang memang mengatakan kejujuran yang ada.
Geo masih saja diam tak bergeming. Mata cowok itu juga masih terus menatap paper bag pemberian Savana yang disodorkan Reno untuknya. Sementara Aldi, cowok itu kini sudah paham dengan situasi yang ada. Tentang Reno yang memang sedari awal tadi nampak gelisah dan tak berminat menanggapi perkataannya, dari situ Aldi sebenarnya sadar bahwa ada suatu hal yang sedang mengganggu pikiran sahabatnya yang satu itu.
Dan kini terjawab lah sudah, ternyata hal yang menyebabkan Reno seperti itu adalah perkara paper bag yang Reni yakini berisi bekal yang dibuat Savana khusus untuk Geo dan dititipkan kepada Reno.
"Terima aja Ge, itung-itung buat sarapan pagi ini. Lo kan kebiasaan gak sarapan," ujar Aldi ikut membantu Reno meyakinkan Geo. "Itu udah ada yang punya niat baik siapin sarapan, makan aja lah, daripada mubazir, mana kelihatan banget kaya gak menghargai usaha orang," tambahnya lagi dengan sedikit mengompori.
Reno sedikit lega dan merasa senang karena Aldi langsung paham dengan kondisinya, terbukti dari cowok itu yang langsung memiliki inisiatif untuk membantu dirinya membujuk Geo agar cowok itu mau menerima makanan buatan Savana.
"Emangnya usaha apa yang udah dia lakuin buat gue?" setelah sekian lama terdiam, akhirnya Geo berkata dengan tatapan datarnya yang menatap lurus kearah Reno. "Bukannya selama ini dia cuma coba deketin gue. Dan gue rasa, untuk hal itu gak bisa dibilang sebagai sebuah usaha," lanjut cowok itu dengan wajah lempengnya.
Sekarang, gantian Reno yang terdiam. Memang benar apa yang dikatakan Geo. Savana memang hanya mencoba mendekati Geo saja selama satu bulan ini, tidak ada usaha yang spesifik yang dilakukan sahabatnya itu kepada Geo. Reno menjadi bingung dan kehilangan kata-katanya untuk membalas perkataan Geo.
"Dengan mencoba ngedeketin lo itu udah termasuk sebuah usaha awal untum Savana Ge," ujar Aldi membalas, mewakili Reno. Geo seketika langsung beralih untuk menatap Aldi, sang lawan bicaranya saat ini. Ah, Reno harus berterimakasih banyak kepada Aldi setelah ini karena cowok itu berhasil menjawab perkataan Geo dan menyelamatkan dirinya di posisi yang tadi sempat sangat menyudutkannya.
"Cuma karena dia coba deketin lo aja, banyak anak-anak sini yang mulai musuhin dia, ngomongin dia yang enggak-enggak. Dan dengan sikap lo yang biasanya selalu acuhin dia, dia sama aja udah relain dirinya sendiri untuk dipermalukan sama lo. Itu juga suatu pengorbanan dari usaha dia Geo," papar Aldi menjelaskan kepada Geo yang nampaknya memang tak pernah sadar akan hal itu. "Iya bener, tanpa lo sadar. Lo emang udah permalukan dia dengan lo yang selalu acuhin dia disaat dia coba buat deketin lo. Dan dengan anak-anak lain lihat kejadian itu, anak-anak lain banyak yang ngatain kalo Savana itu murahan secara diam-diam di belakang Savana. Lo gak pernah tahu hal kaya gitu kan? lanjut Aldi lagi dengan panjang lebar. Hal itu berhasil membungkam mulut Geo.
Sekian lama Geo terdiam, tak menjawab perkataan Aldi sama sekali.
"Gue gak pernah minta dia buat lakuin itu," ujar cowok itu dengan tatapan datarnya.
Aldo menyeringai kecil mendengar perkataan Geo. Dia tak menyangka, temannya bisa menjadi seperti ini sekarang. "Gue gak pernah tahu lo bisa sepengecut ini Geo," ujar Aldi dengan tatapannya yang perlahan berubah menjadi datar. Percayalah, Aldi akan sangat menyeramkan disaat cowok itu sedang dalam situasi seperti ini. "Lo tahu Ge? Jawaban yang barusan lo ucapin itu cuma jawaban orang-orang pengecut yang gak mau mengakui kesalahannya, padahal dia sendiri sadar kalau dia emang bener-bener salah."
Aldi pergi setelah mengucapkan itu, rupanya cowok itu akan membutuhkan sedikit waktu untuk menenangkan pikirannya dan menstabilkan emosinya.