CHAPTER 29

1102 Kata
Dengan semangat yang ada pada dirinya, Savana berjalan di koridor sekolah dengan Lula yang ada di sebelahnya. Jam pulang sekolah sudah tiba, tadi gadis itu juga sudah dibangunkan oleh Lula begitu bel pulang sekolah berbunyi. Rencananya, hari ini Savana akan mencoba untuk mendekati Geo. Laki-laki yang sudah menolongnya dari bullyan pada saat gadis itu baru masuk ke SMA Nusa Bangsa. Savana memang gadis yang polos. Tapi bukan berarti Savana tidak mengenal apa itu cinta. Savana jelas sudah mengenalnya. Dan gadis itu akui, dirinya sudah menjatuhkan hatinya kepada Geo. Laki-laki yang memiliki sifat dingin dan acuh tak acuh terhadap dirinya. Savana sebenarnya bukan tak menyadari bahwa selama ini Geo tak menyukai kehadirannya. Namun begitu mengingat bagaimana baiknya Geo saat menolongnya dari bullyan, Savana jadi luluh seketika. Savana tahu bahwa Geo sebenarnya adalah laki-laki yang baik. Meski begitu Savana mencoba mendekatinya, Savana selalu banyak mendapatkan penolakan dari cowok itu. Ngomong-ngomong soal kepolosan Savana. Sebenarnya, kepolosan gadis itu sendiri berasal dari kebaikan gadis itu yang begitu luas dan tulus. Savana dikenal sebagai gadis yang masih mau memaafkan dan membantu seseorang yang sudah mencoba membuat hidupnya menderita, seseorang yang berperilaku jahat terhadapnya. Savana benar-benar tidak sepolos kelihatannya. Gadis itu hanya terlalu berlebih pada kebaikan dan menyebabkan banyak orang menganggapnya sebagai seseorang yang polos. Karena masih mau membantu orang yang sudah menyakiti gadis itu. Orang-orang berpikir, seseorang yang masih mau melakukan hal seperti itu adalah orang-orang yang memang terlampau baik dan menyebabkan orang itu menjadi terlihat seperti orang bodoh, atau memang orang polos yang mudah untuk dimanfaatkan oleh orang lain. Tentu saja orang-orang yang sudah bertemu dan mengenal Savana akan menyimpulkan bahwa gadis itu adalah orang yang polos. Karena Savana sendiri juga memiliki otak yang cukup jenius. Savana tidak cocok dikatai sebagai seseorang yang bodoh karena kepintaran gadis itu sendiri. Ah, bukannya sebenarnya sangat bagus kalau Savana banyak menebar kebaikan? Bukankah memang itu yang diajarkan? Namun, entah kenapa pandangan orang-orang di sekitar Savana berbeda. Mereka masih cukup aneh melihatnya. Karena memang mereka tidak sebaik Savana soal hal itu. Padahal, ada satu rahasia yang tidak diketahui banyak orang tentang Savana. Terlebih orang-orang yang memang baru mengenal atau hanya tahu perihal gadis itu. Savana memang benar merupakan gadis yang begitu baik. Dia memang masih mau membantu orang-orang yang sudah menyakitinya. Hanya saja, yang tidak orang-orang ketahui adalah, Savana sendiri juga punya titik lelahnya. Dan disaat titik lelah itu muncul, Savana bisa saja lepas kendali. Karena pada dasarnya, gadis itu sendiri memiliki trauma di masa lalunya. Trauma diperlakukan tak baik oleh orang di dekatnya. Hal itulah yang menyebabkan kepribadian Savana yang satu ini muncul. Savana yang awalnya memang benar-benar murni menjadi teracuni otaknya. Savana bukan memiliki sosok lain seperti alter ego. Gadis itu hanya memiliki sifat yang berbeda saja. "Kenapa semangat banget sih Va? Hati-hati coba jalannya," tegur Lula saat melihat Savana berjalan dengan riangnya. Hal itu membuat Lula menjadi was-was sendiri. Takut-takut kalau Savana sampai kehilangan keseimbangan dan menyebabkan gadis itu jatuh. Lula jelas tak mau hal itu terjadi. Membayangkan hal itu saja, Lula mendadak merasa takut. Gadis itu takut, kalau sampai Reno mengetahuinya. Mungkin cowok itu akan melarang Lula untuk berteman lagi dengan Savana. Apalagi Savana sendiri yang terlihat begitu mematuhi apa yang dikatakan Reno. Meskipun Lula sendiri lumayan yakin, bahwa gadis itu tak akan mungkin mau meninggalkan dirinya yang selama ini sudah menjadi temannya. Lagipula, yang menyebabkan Savana jatuh juga bukan Lula. Itu karena ulah Savana sendiri. Lula pun juga tahu, meskipun Savana begitu mematuhi Reno. Tapi gadis itu akan tetap mencoba untuk melawan dan mempertahankan sesuatu yang menurut gadis itu berarti untuk hidupnya. Reno sendiri juga tak mungkin merebut sesuatu yang membuat Savana bisa merasa senang. Karena motto dia yaitu bahagia Savana adalah bahagianya. Maka dari itu, Reno harus berusaha untuk membuat Savana bahagia, atau mendukung Savana untuk bahagia. "Savana mau coba deketin Geo lagi Lula. Kali ini bakalan lebih terjamin. Yang lalu-lalu itu masih amatiran Lula," ujar Savana menjawab pertanyaan Lula dengan jujur. Memang itu yang menyebabkan semangat gadis itu berkobar saat ini. Lula yang mendengar jawaban dari Savana seketika langsung terpaku di tempatnya. Alarm bahaya seakan langsung berbunyi di otaknya. Takut hal-hal buruk terjadi kepada Savana. Mengingat kejamnya Geo saat dihadapkan dengan gadis-gadis yang mencoba mendekatinya. Apalagi, Geo sendiri dari awal juga sudah begitu membenci Savana perihal Reno. "Sava yakin mau deketin Geo? Reno kan satu minggu lalu udah coba kasih tahu Sava kalo Geo gak suka sama cewe-cewe agresif yang coba deketin dia," ujar Lula dengan pelan. Takut menyinggung Savana. "Bukannya aku ngelarang atau nyinggung kamu. Kamu juga bukan salah satu dari cewe agresif itu menurut aku Sava. Tapi, kan beda lagi kalo di pandangan Geo. Aku takut kamu kenapa-kenapa," ujar Lula lagi, memberitahukan tentang ketakutannya. Savana terdiam di tempatnya, gadis itu menatap Lula dengan tatapan yang rumit. Namun tak lama dari situ, Savana kembali tersenyum dengan ceria. "Gak apa-apa Lula. Savana masih mau coba deketin Geo. Satu bulan kemarin masih belum cukup mahir buat Savana makanya Geo tolak Savana terus-terusan kaya gitu. Lagipula, Geo juga cuma sekedar nolak Sava aja kok, pasti masih ada kemungkinan buat Geo terima Sava kalo Sava masih mau lebih sabar lagi," jawab Savana dengan semangatnya. Gadis itu lalu mengedarkan pandangannya ke sekitarnya. Dan matanya tiba-tiba menangkap sosok Geo, Reno dan Aldi sedang berjalan menuju ke parkiran sekolah. "Kalo gitu udah dulu ya Lula. Sava mau samperin Geo dulu. Lula jangan khawatir sama Sava. Karena Sava juga bisa jaga diri Sava sendiri, Sava gak selemah itu kok," ujar Savana kemudian berlari menjauh dari Lula. Gadis itu langsung gerak cepat mendekati Geo. Lula masih diam saja ditempatnya. Kali ini gadis itu tak akan lagi mencoba untuk mencegah niat Savana yang satu itu. Karena Lula tahu, Savana masih optimis dan kekeuh dengan keinginannya yang satu itu. Lula hanya bisa berdoa saja, semoga tidak terjadi hal buruk kepada Savana. "Banyak cowo yang mau deketin lo Sava. Tapi kenapa cuma Geo yang ada di mata lo? Kenapa cuma malah ada cowo yang benar-benar gak pernah menganggap kehadiran lo," gumam Savana dengan mata yang terus menatap setiap langkah Savana yang sedang mencoba menghampiri Geo. "Lo bilang Geo cuma nolak lo Sava? Tapi kenyataannya gak gitu, Geo udah banyak buat lo malu Sava. Apalagi ke depannya?" masih tetap bergumam, Lula menatap Savana dengan sendu. "Memang bener apa yang lo bilang. Mungkin dengan sabar Geo suatu saat bisa terima lo. Tapi, sampai kapan? Apa lo kuat banyak dipermalukan kaya gitu? Kalaupun lo bilang Lo kuat,, justru gue yang akan jujur kalo gue gak sanggup lihatnya Sava. Apalagi Reno," tutupnya. Di pinggiran koridor, Lula terlihat putus asa. Bingung harus bagaimana gadis itu menghadapi Savana. Mungkin nanti, dia akan kembali menemui Reno dan berdiskusi dengan cowok itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN