CHAPTER 28

1240 Kata
Saat jam terakhir di detik-detik satu jam lagi bel pulang akan berbunyi. Seluruh kelas di SMA Nusa Bangsa malah mengalami kekosongan jam pelajaran. Dikarenakan ada rapat dadakan oleh para guru. Entah apa yang mereka rapatkan. Yang pasti, mereka jelas sepertinya akan membahas beberapa event sekolah. Mengingat ini sudah akhir tahun, dimana biasanya akan banyak kegiatan yang akan dilaksanakan di SMA Nusa Bangsa. Di tambah lagi dengan ujian semester ganjil yang juga akan terlaksana di akhir tahun. Anak-anak yang mengikuti osis pun juga sedang mengadakan sebuah rapat saat ini. Hal itu semakin menambah keyakinan bahwa mereka baik para guru ataupun para anggota osis sedang membahas mengenai event-event sekolah. Para penghuni kelas Savana, saat ini mereka sedang menggerutu kesal. Melayangkan beberapa protesan karena jam kosong malah terjadi saat satu jam lagi mereka akan pulang. Padahal, mereka menginginkan jam kosong satu hari full. Agar mereka juga bisa sedikit mengistirahatkan otaknya. "Ya udah sih, kenapa kalian malah jadi protes disini. Mending langsung datang ke ruang rapat aja. Biar sekalian di dengerin sama guru-guru," ujar Lula menanggapi beberapa protestan dari temannya. "Ya mana bisa gitu Lula ege. Gue masih sayang sama pipi gue. Bisa di gampar bolak-balik gue sama nyokap kalo bikin masalah sama guru. Gue masih sayang nyawa ya," sahut salah satu gadis yang merupakan salah satu dari beberapa anak kelas Savana yang mengoceh protes. Lula tergelak karenanya. "Ya itu lo tahu Bel. Makanya jangan ngada-ngada. Disini aja sok-sokan banget protes marah-marah, tapi giliran dihadapin sama guru aja udah langsung loyo," cibir Lula bercanda pada gadis yang dipanggil 'Bel' itu. "Sialan lo La!" umpat gadis yang diketahui bernama Bella. Tak hanya Lula, semua anak-anak penghuni kelas itu tergelak karena u*****n yang keluar dari mulut Bella. Beginilah kenyataan tentang keadaan dan suasana kelas Savana. Mereka memang saling kompak satu sama lain. Tak ada yang namanya pertengkaran serius selama ini di kelas itu. Mungkin, hanya ada beberapa pertengkaran kecil seperti perebutan berganti baju di kelas setiap jam pelajaran olahraga. Hanya itu saja. Selebihnya, anak-anak di kelas Savana sangat kompak. Tak peduli itu laki-laki ataupun perempuan, mereka saling dekat satu sama lain. Di kelas Savana, tak ada yang saling merasa iri. Hal itu membuat suasana damai tercipta disana. Mereka saling memberikan support satu sama lain. Saling menyayangi seperti keluarga. Gadis-gadis yang ada di kelas Savana juga memiliki berbagai sifat yang beragam. Ada yang polos, ada yang tomboy, ada yang sedikit pendiam, ada juga yang paling bar-bar. Semua bercampur menjadi satu di kelas Savana. Tapi beruntungnya, dari semua sifat yang ada, mereka tidak ada yang memiliki sifat buruk seperti penghianat, iri, munafik atau bermuka dua, pembully dan beberapa sifat buruk lainnya. Mereka benar-benar teman yang baik. Suasana yang damai di kelas Savana dan sifat-sifat anak penghuni kelas itu yang begitu baik dan saling peduli sesama warga kelas membuat kelas Savana dipandang sebagai kelas yang paling kompak di SMA Nusa Bangsa. Sifat sosial dan saling membantu di antara kelas Savana begitu kental. Hal itu juga membuat para penghuni kelas Savana merasa nyaman. "Lula mah sok baik banget mentang-mentang udah temenan deket sama Savana. Jadi berasa alim banget sekarang," celetuk Ayu pada Lula yang sedang duduk dengan tenang di bangkunya bersama dengan Savana. Lula menoleh untuk menatap sang sumber suara begitu mendengar suara ayu yang menyebut namanya. "Gue emang alim dari dulu ya Yu. Lo jangan ikutan ngada-ngada kaya si Bella," jawab gadis itu menanggapi perkataan Ayu dengan santai. "Mana ada kaya gitu. Lo dulu emang masuk ke jajaran anak bar-bar ya disini sebelum Savana datang. Bener tuh apa yang dibilang Ayu. Jadi sok baik sok alim banget lo sekarang begitu ada Savana," ujar Bella menyahuti karena mendengar Lula membawa-bawa namanya saat sedang mengobrol dengan Ayu. "Begitu kenyataannya kok. Gue emang dari dulu udah alim, udah baik," sanggah Lula tak mengakui bahwa dirinya memang salah satu gadis yang memiliki sifat bar-bar di kelas itu. Karena, memang rata-rata di kelas itu, hampir semua gadis-gadis penghuninya merupakan gadis yang memiliki ke bar-baran yang tidak dapat di ragukan lagi. "Ngaku aja kali La, gak usah ditutup-tutupi kaya gitu," sahut Ayu lagi. Dia berada di kubu Bella. "Nih ya La, oke deh lo emang baik. Tapi alim? Lo kayanya sebelumnya gak gitu deh," ujar Bella ikut menimpali. Dahi Lula mengernyit bingung. "Alim apa sih yang lo maksud? Gue alim dari dulu kok," ujar Lula bertanya dengan kebingungannya. "Halah, itu loh. Soal lo yang sekarang pake aku kamuan kalo lagi bareng sama Savana. Gak berani ngumpat kalo lagi sama dia atau lagi ada dia. Masa gitu aja lo gak peka sih La," sahut sama satu gadis lain yang berada di kelas itu. Lula menatap Bella dan Ayu bergantian, memastikan apa benar yang dikatakan salah satu gadis di kelasnya itu adalah apa yang juga Ayu dsn Bella maksud. Dan seketika Lula terdiam sejenak saat melihat Ayu dan Bella dengan kompak mengangguk secara bersamaan, membenarkan apa yang dikatakan gadis itu. Ah, perihal itu yang Ayu dan Bella maksud soal alim ternyata. Memang benar sih, Lula sebelumnya sering mengumpat saat belum ada Savana. Dia juga tak pernah menggunakan aku kamuan saat berbicara dengan siapapun itu. Hanya Savana saja kali ini. Lula kemudian berbalik menatap Bella dan Ayu sepenuhnya. Gadis itu lalu mencondongkan wajahnya agak ke depan, hal itu membuat tak hanya Bella dan Lula saja, tapi anak-anak kelas Savana yang lain juga ikut mendekat karena penasaran dengan apa yang akan Lula katakan. "Savana itu bocah polos pertama yang gue kenal padahal umur kita aja hampir sama, cuma beda satu tahun doang," ujar Lula menjawab dengan setengah berbisik. "Dia terlalu polos untuk terkontaminasi sama u*****n laknat yang keluar dari mulut gue. Di tambah Reno, sahabat baik Savana yang satu itu juga gak akan ngebiarin ada orang yang sering ngomong kasar deket-deket sama Savana," jelas Lula lagi kemudian. "Gue kaya gitu emang cuma Savana doang. Karena dia temen baik gue sekarang, dia udah kaya adek gue sendiri. Gue udah janji sama Reno untuk jagain Savana dengan baik. Dan gue gak mau hanya karena gue sering ngumpat di depak Savana, Reno jadi ngelarang gue buat deket-deket sama dia," lanjutnya lagi, menjelaskan lebih dalam. Lula lalu memundurkan wajahnya setelah selesai menjelaskan. Lula rasa cukup menjelaskannya sampai di situ saja. "Jadi itu sih alasan kenapa gue berlaku sedikit berbeda waktu lagi sama Savana," kata Lula kemudian. Anak-anak kelas yang mendengarnya dengan kompak mengangguk serempak. Mereka akhirnya paham dengan apa alasan Lula berlaku berbeda seperti itu kepada Savana. Dan mereka pun juga memakluminya. "Jadi, kalo gue sering ngumpat waktu deket sama Savana, si Reno itu gak akan ngebiarin gue temenan deket sama Savana dong?" tanya Ayu kemudian yang dibalas dengan anggukan oleh Lula. "Ya, kurang lebihnya seperti itu lah Yu," ujar Lula membenarkan. "Yah, mana gue sering ngumpat lagi waktu ada dia. Tapi untungnya sih si Reno gak pernah tahu," ujar Ayu yang ditanggapi dengan sorakan dari anak-anak kelas mereka. "Dahlah, kalian balik aja ke bangku masing-masing. Lama-lama Savana bisa kebangun denger suara kalian," ujar Lula pada anak-anak yang mengerubungi bangkunya dan bangku Savana. Ya, memang sedari tadi Savana sedang tertidur di mejanya. Oleh karena itu, Savana sedari tadi hanya diam saja tak menyahut dama sekali. Gadis itu tertidur dengan tenang. Lula sendiri, gadis itu tadi bisa menjawab perkataan Ayu dan Bella dengan santai tanpa emosi dikarenakan Lula tahu bahwa perkataan pedas yang keluar dari mulut Ayu dan Bella adalah sebuah candaan saja. Dan memang itu kenyatannya. Mereka sudah saling mengenal satu sama lain. Dan mereka pun juga bisa membedakan mana yang sedang bercanda dan mana yang sedang serius. Mereka sudah benar-benar sedekat itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN