Hari ini sudah lebih dari satu bulan semenjak persoalan di lapangan dan kebimbangan Reno di rooftop saat itu. Tak dapat di sangka, ternyata satu bulan ini masih belum ada kejadian yang terlalu melewati batas tentang Geo ataupun Savana. Hanya saja, Savana sudah mulai melangkah untuk mendekati Geo. Gadis polos itu secara terang-terangan mengakui perasaannya kepada Geo.
Namun untung saja, Geo belum menunjukkan tanda-tanda bahwa cowok itu akan bertindak lebih jauh selama satu bulan ini.
Bel istirahat di SMA Nusa Bangsa sudah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu. Setiap kelas yang ada di SMA itupun sudah nampak sepi penghuni. Jelas saja, rata-rata di antara siswa-siswi penghuni kelas pasti memutuskan untuk pergi ke kantin sekolah. Mengisi perut mereka yang mungkin sudah mulai kosong, minta diisi. Di tambah lagi dengan pelajaran selama beberapa jam sebelumnya dipastikan cukup banyak menguras pikiran mereka.
Sama halnya dengan murid-murid lainnya, Savana pun juga saat ini pergi ke salah satu kantin yang ada di SMA Nusa Bangsa. Tentunya gadis itu tidak sendirian di sana, seperti biasanya, gadis itu ditemani dengan Lula. Sahabat barunya yang satu itu memang begitu setia berada di sampingnya. Sama seperti Reno dahulu.
Makanan yang tadi Savana dan Lula pesan sudah sampai di meja mereka. Mereka pun langsung melahapnya dengan santai. Di meja itu, mereka hanya duduk berdua saja. Padahal ada 4 kursi di sana. Yang itu berarti, dua kursi lainnya yang ada di depan mereka saat ini kosong. Karena Lula dan Savana yang duduk bersebelahan.
Sebenarnya, Savana dan Lula memang sengaja memilih meja kantin yang satu ini karena memang kapasitasnya yang hanya dapat memuat 4 orang saja. Di meja lainnya, ada yang dapat memuat sampai 8 orang. Tapi, karena Savana hanya berdua dengan Lula saja, maka dari itu gadis itu dan Lula memutuskan untuk memilih meja kantin yang saat ini mereka tempati.
Baik Savana ataupun Lula, keduanya sama-sama fokus pada makanan yang ada di depan mereka. Tak ada pembicaraan apapun di antara mereka. Hingga tiba-tiba, kedatangan Aldi, Geo dan Reno membuat meja yang di tempati Savana dan Lula mendadak ramai. Tentu saja karena ocehan tak bermutu dari Aldi dan Reno yang menjadi penyebabnya.
"Halo neng Sava," sapa Aldi menghentikan perdebatannya dengan Reno begitu menyadari bahwa Savana saat ini sudah menatap kearah mereka.
Savana balas tersenyum atas sapaan ramah dari Aldi. "Halo juga Aldi," balas gadis itu dengan tak kalah ramah. Sementara Lula yang ada di sebelah Savana itu nampak acuh tak acuh atas kehadiran Geo, Reno dan Aldi. Menurut Lula, kedatangan mereka itu sama sekali tak penting. Lagipula, Lula tak mengenal mereka dengan baik. Gadis itu hanya sekedar tahu namanya saja. Tidak mengenal lebih jauh dari itu.
Terkecuali Reno, Lula akui sudah sekitar satu bulan ini, gadis itu menjadi mulai dekat dengan Reno. Tentu karena persoalan Savana. Reno dan Lula sama-sama sahabat baik Savana. Dan sebagai sahabat, keduanya benar-benar ingin menjaga Savana dengan baik. Mengingat Savana adalah gadis lemah lembut dan polos.
Tak menghiraukan basa-basi yang dilontarkan Aldi kepada Savana, Reno lebih memilih untuk menatap Savana dengan bibir yang sedikit terangkat naik, membentuk senyuman.
"Sava, Reno sama dua temen Reno boleh nggak numpang duduk satu meja sama Sava? Meja kantin yang lain udah penuh soalnya. Tempat biasa kita duduk juga udah di tempati orang lain," ujar Reno meminta izin kepada Savana dengan nada suara lembutnya, seperti biasanya cowok itu berbicara dengan Savana.
Savana yang mendengarnya pun langsung mengangguk dengan cepat menanggapinya. Gadis itu tentu saja menyetujuinya.
"Gak apa-apa Reno, duduk aja," ujar Savana memberi izin. "Tapi, kan kursinya cuma tinggal dua, sedangkan kalian ada bertiga," lanjut gadis itu kemudian dengan tatapan polosnya. Savana bingung.
Reno menggaruk tengkuknya yang diyakini tidak gatal mendengarnya. Benar juga apa kata Savana.
Belum sempat Reno menjawab pertanyaan Savana, Lula tiba-tiba berdiri dari duduknya. Gadis itu menoleh untuk menatap Savana yang ada di sampingnya. Sedari tadi, Lula sangat fokus dengan makanannya saja, tak merasa tertarik dengan kehadiran Geo, Reno dan Aldi di meja yang mereka tempati. Bahkan, Lula tadi hany sekedar melirik kedatangan mereka sekilas, setelahnya gadis itu sibuk memakan makanannya.
"Kenapa Lula?" tanya Savana pada Lula yang sedang menatapnya.
"Aku udah selesai makannya Va. Aku mau balik ke kelas sekarang aja," ujar Lula pada Savana. "Kamu gimana? Mau ikut aku atau masih mau disini?" tanya Lula lagi kemudian.
Savana nampak menimbang-nimbang ajakan Lula yang mengajaknya kembali ke kelas mereka. Savana sebenarnya tak tega membiarkan Lula kembali ke kelas sendirian. Tapi disisi lain, Savana masih ingin berada di kantin, apalagi kedatangan Geo semakin membuatnya tak rela meninggalkan kantin saat ini. Savana pun juga belum menyelesaikan makannya.
"Makanan Sava belum habis Lula," cicit Savana pada Lula. Gadis itu berkata dengan suara pelan, merasa tak enak.
Lula nampak menganggukkan kepalanya sekilas, gadis itu tersenyum kecil kemudian begitu merasa Savana tak enak kepada dirinya. "Ya udah, kamu habisin makannya aja Sava. Aku balik ke kelas sendiri aja," ujar Lula pada Savana.
"Tapi...," Savana menggantung perkataannya, masih merasa tak enak pada Lula.
"Gak apa-apa Va, aku udah lebih dari satu tahun sekolah disini. Gak masalah buat aku balik ke kelas sendiri," ucap Lula memotong perkataan Savana membuat gadis itu akhirnya menganggukkan kepalanya pelan.
Melihat anggukan dari Savana, Lula kemudian beralih untuk menatap kearah Reno yang masih berdiri degan Aldi dan Geo di sampingnya.
"Gue titip Savana sama lo. Kalo dia mau balik kelas, tolong lo anterin dia. Jangan biarin dia balik sendirian," pesan Lula pada Reno yang hanya diangguki Reno secara singkat.
"Gak usah lo bilang juga bakalan gue lakuin," jawab Reno dengan santai. "Sebelum ada lo juga gue yang selalu ada buat dia," lanjut cowok itu acuh tak acuh. Menatap Lula dengan tatapan malasnya.
"Bagus deh," Lula tak menanggapi lebih lanjut lagi karena setelahnya gadis itu langsung berlalu pergi meninggalkan Savana bersama dengan Reno, Aldi dan Geo di kantin.
Ada sedikit perasaan tak rela saat Lula memutuskan untuk meninggalkan Savana bersama dengan ketiga laki-laki itu. Lula ragu, apa mereka bisa dipercaya?
Tapi, apa yang dikatakan Reno sebelum dirinya pergi tadi memang benar adanya. Harusnya Lula tak perlu khawatir meninggalkan Savana bersama dengan Reno dan dua temannya itu. Yang jelas, selagi ada Reno. Pasti Savana akan aman terkendali.
Sementara itu, sepeninggalan Lula membuat Reno langung mendudukkan tubuhnya di kursi yang di tempati Lula tadi. Tepat di sebelah Savana. Diikuti dengan Aldi yang duduk dihadapan Reno dan Geo yang duduk di hadapan Savana.
Sedari tadi, Geo sama sekali tidak membuka suaranya sama sekali. Hal itu membuat Savana merasa gemas sendiri. Savana merindukan suara Geo.
"Geo, kenapa dari tadi diem aja?" tanya Savana dengan nada ramah yang juga terselip nada khawatir dan bingung di sana.
Beberapa menit Savana terdiam untuk menunggu jawaban dari Geo, namun nampaknya Geo sama sekali tidak berminat untuk menjawab perkataan Savana. Cowok itu memilih mengabaikan perkataan gadis itu.
Savana baru ingin kembali mengajak Geo berbicara, ingin melontarkan pertanyaan baru, namun suara Reno menghentikan niat gadis itu.
"Udah Sava, daripada ngajak ngobrol orang gak pasti. Mendingan kamu makan makanan kamu aja. Habis itu nanti aku anterin kamu ke kelas. Jam istirahat juga udah hampir habis kan," kata Reno mencegah Savana untuk mengajak Geo berbicara. Reno tak mau ada hal yang tidak diinginkan terjadi kepada Savana. Maka dari itu Reno berusaha untuk mencegahnya sebelum terlanjur kejadian alias terlambat.
Savana akhirnya menganggukkan kepalanya, menurut dengan perkataan Reno. Gadis itu langsung memfokuskan dirinya untuk menghabiskan makanannya.
Sementara itu, Geo menatap Savana yang sedang fokus makan itu dengan tatapan datarnya. "Cih. Merepotkan," decih Geo dengan nada datarnya.
Reno dan Aldi dapat mendengar dengan jelas perkataan Geo itu. Namun Savana tidak, gadis itu terlalu fokus pada makanannya.
"Jangan asal ngomong Geo," tegur Reno pada Geo sembari cowok itu menatap kearah Geo. Cowok itu tak suka dengan perkataan Geo yang terkesan seperti merendahkan Savana.
Geo tak menanggapinya. Cowok itu bahkan juga tak menatap kearah Reno. Hal itu membuat Reno membuang nafasnya kasar. Lagi dan lagi. Geo tetaplah Geo.