Seratus Dua Puluh Empat

1767 Kata

Anggita menyeka pipinya yang basah, dia tersenyum seraya mengusap rambut Donna. “Mengapa ibu menangis?” tanya Donna, bahkan suara itu sangat mirip dengan suara Bella. Bagaimana bisa ada dua orang yang sama persis? Seolah waktu berhenti ketika Bella meninggal dan tergantikan dengan kehadiran Donna. “Mama, ehmm maksudnya ibu hanya sedih saja, ingat putri ibu,” jawab Anggita dengan mata sembab. “Putri ibu ke mana?” tanya Donna. Anggita menangkup pipi Donna dan tersenyum. “Meninggal, lima tahun lalu.” “Maaf,” ucap Donna dengan wajah sedih, Anggita kembali meneteskan air mata dan menggeleng, dia tak mau melihat wajah anak di depannya sedih. Raiz kemudian masuk bersama ibu Donna yang menggendong putranya dengan kain jarik. “M-maaf,” ucap Anggita seraya menyeka pipinya kembali. Ibu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN