Langkah kaki mereka bergema di jalanan kaca yang melengkung seperti spiral raksasa. Raka berusaha tetap tenang, meski jantungnya terus berpacu dan pikirannya dipenuhi seribu pertanyaan.
“Apa tempat ini?” tanya Raka akhirnya, memecah keheningan.
“Lothera,” jawab gadis itu singkat. “Dunia cermin. Dunia bayangan. Dunia yang hanya bisa dimasuki oleh mereka yang terpilih.”
“Terpilih? Aku bahkan cuma nyentuh cermin tua—lalu tiba-tiba terseret ke sini!”
“Cermin itu tidak menarik siapa pun sembarangan,” balas gadis itu sambil melirik cepat ke arah Raka. “Namaku Kiva. Aku penjaga gerbang timur. Dan kamu… kamu adalah bagian dari ramalan.”
Raka mengerutkan kening. “Ramalan apa?”
Kiva tak menjawab. Ia menghentikan langkah dan menunjuk ke langit. Di atas sana, awan berbentuk pusaran perlahan membuka seperti kelopak bunga. Di tengahnya, muncul sebuah istana terbalik yang menggantung di udara, memancarkan cahaya keperakan ke seluruh penjuru langit.
“Itu pusat Lothera,” kata Kiva pelan. “Tempat semua pilihan ditentukan. Tempat takdir dipahat.”
Raka menelan ludah. “Kamu serius... ini bukan mimpi?”
Kiva menoleh dengan ekspresi dingin. “Kalau ini mimpi, kamu sudah mati saat disentuh bayangan tadi. Dunia ini nyata. Dan mulai sekarang, hidupmu berubah.”
Sebelum Raka bisa memprotes, suara gemuruh muncul dari bawah mereka. Tanah kaca bergetar, dan retakan besar merambat cepat dari kaki mereka ke kejauhan.
“Bayangannya kembali!” seru Kiva. Ia menggenggam tongkatnya lebih erat. “Kita harus masuk ke Lorasi—markas para Penjaga Cermin!”
“Markas?” Raka melangkah mundur saat tanah di belakang mereka mulai runtuh.
Tanpa banyak pilihan, Kiva meraih tangan Raka dan mengangkat liontin kristal dari lehernya. Ia membisikkan sesuatu dalam bahasa asing—dan seketika cahaya biru membungkus tubuh mereka berdua, lalu menarik mereka ke udara seperti terhisap pusaran angin.
Raka berteriak, tapi suaranya teredam oleh cahaya yang menyilaukan.
Dalam hitungan detik, mereka menghilang dari permukaan dunia.
---
Ketika Raka membuka matanya lagi, ia sudah berada di tempat lain.
Dinding batu putih yang melengkung, tangga spiral melayang di udara, dan jendela-jendela kaca penuh simbol aneh bersinar samar.
Kiva berdiri di dekatnya, menoleh dengan wajah serius.
“Selamat datang di Lorasi, Raka. Dunia tidak akan sama lagi untukmu. Dan waktu kita sangat sedikit.”