BAB 2 : BAYANGAN YANG MENATAP

332 Kata
Gelap. Hening. Lalu… dingin. Raka membuka mata dengan napas memburu. Tapi yang dilihat bukan lagi loteng rumah kakek—melainkan langit ungu tua tanpa matahari, dan tanah yang terasa seperti kaca retak. Ia berbaring di tengah sebuah lapangan luas yang memantulkan cahaya seperti permukaan cermin, namun terasa padat dan nyata. “Di mana aku…?” Ia duduk perlahan, masih gemetar. Udara di sekelilingnya berembun, setiap napas keluar jadi uap. Tapi suara angin di tempat itu tak seperti biasanya—seolah berbisik, memanggil, mengulang satu nama. “Raka… Raaa… kaa…” “Siapa itu?!” serunya gugup. Tak ada jawaban. Hanya bisikan yang terus berputar. Lalu sesuatu bergerak di kejauhan. Sosok manusia—atau sesuatu yang menyerupai manusia—berjalan pelan, siluetnya samar dan menghitam, seperti terbuat dari bayangan yang basah. Raka berdiri dan mundur beberapa langkah. Tapi saat makhluk itu mendekat, ia bisa melihat… dirinya sendiri. Bayangan itu memiliki wajah Raka. Tapi matanya gelap pekat tanpa pupil, dan senyumannya tidak ramah. Bukan pantulan, tapi tiruan. Bayangan itu berjalan mendekat seolah tahu ke mana harus melangkah. “Siapa kamu?!” Raka berteriak, mencoba terdengar berani. Bayangan itu berhenti hanya beberapa langkah di depan. “Aku kamu... yang memilih takdir,” jawabnya, suaranya berat dan bergema. “Kamu tidak seharusnya di sini. Belum.” Sebelum Raka sempat bertanya lagi, bayangan itu melangkah cepat, mengangkat tangan seperti hendak menyentuh wajahnya. Tapi tepat saat jarinya hampir menyentuh kulit Raka, cahaya terang meledak dari belakang, dan bayangan itu berteriak keras lalu lenyap seperti kabut ditiup angin. Raka menoleh. Seorang gadis berdiri di sana, mengenakan jubah pendek biru keperakan, rambut cokelatnya berkibar tertiup angin aneh dunia ini. Di tangannya, sebatang tongkat kristal menyala terang. “Kalau kamu ingin tetap hidup,” katanya cepat, “ikut aku. Sekarang!” Raka tidak menunggu penjelasan. Dunia ini terlalu gila untuk diperdebatkan. Ia berlari, mengikuti gadis itu menyusuri jalan dari cermin retak yang bercahaya, menuju tempat yang belum pernah ada dalam mimpinya—menuju awal petualangan yang akan mengubah hidupnya selamanya. ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN