"Nggak boleh marah lagi!" Juna mengangguk. "Nggak boleh ngambek lagi!" Juna mengangguk lagi. Walaupun ia merasa marah dan ngambek artinya sama, tapi ia tetap mengangguk, tak ingin melihat gadisnya menangis lagi. "Nggak boleh nyuekin aku lagi!" Juna mengangguk untuk yang kesekian kali. "Nggak boleh...." "Kok, banyak banget nggak bolehnya?" protes Juna. Ia terkekeh melihat wajah cantik dengan ujung hidung dan pipi yang memerah itu cemberut. Gemas, dicubitnya pipi itu pelan. Diva menepis tangan Juna, menjauhkan tangan itu dari pipinya. "Suka-suka aku, dong!" ketusnya. "Kan, tadi Juna yang bilang aku boleh minta apa aja!" Tawa kecil meluncur dari mulut Juna, ternyata Diva masih mengingatnya. Di sekolah tadi, ia memang berjanji akan memberikan apa saja yang diminta gadisnya, dengan

