Yena masih terpana. Menatap bangunan empat lantai dengan cat putih yang mendominasi. Beberapa sudut terisi dengan taman yang dihiasi tumbuhan hijau. Juga hamparan rumput hijau yang terpangkas rapi mengisi bagian seberang jalan. Satu pemandangan menyegarkan dari balkon rumah. Setelah dari hotel, pagi tadi. Vigo langsung mengajak Yena untuk memberesi pakaian dan perlengkapan pribadi lainnya. Tanpa mengucapkan apapun juga mengabaikan pertanyaannya, Vigo langsung membawanya ke sini. Satu rumah impian semua orang, mungkin. "Vigo, ini rumah siapa?" tanyanya begitu turun dari mobil. Masih terpana dengan gambaran nyaris sempurna dari bangunan indah di hadapannya. Vigo tersenyum lembut. "Rumah kita," jawabnya. Meraih sebelah tangan Yena dan menggandengnya. Menaiki tangga untuk menuju pintu depa

