Aku ingin berteriak, namun ditahan oleh Hendra. Tangan ini digenggamnya sangat erat, aku di ajak keluar dari kamar dengan cara kasar. Sial sekali rasanya aku ini, tak ada perawat yang sedang bertugas. Ketika tiba di lorong, aku melihat Naya sedang berjalan ke arah kamarku, tapi Hendra kembali menarik tanganku dan membekap mulut ini. Ternyata pria berstatus suamiku ini seorang psycho. Tanganku dingin dan basah oleh keringat, peluh pun mulai bercucuran di kening. Aku tak ingin ia tahu tentang kehamilanku, karena dengan mengetahui semua ini bisa menjadi alasan ia menahanku. Meski setelah hari ini, aku tidak tahu besok masih ada di dunia atau tidak. Aku mencoba mengerang ketika Naya melewati kami, mulut ini masih dibekapnya hingga aku pun sulit bernapas. Naya menghentikan langkahnya sejenak

